Pergi ke Pantai Malam Hari Adalah Hal Bodoh yang Tidak Seharusnya Dilakukan – Terminal Mojok

Pergi ke Pantai Malam Hari Adalah Hal Bodoh yang Tidak Seharusnya Dilakukan

Artikel

Dulu, kalau nggak saya penasaran, pantai kalau malam hari itu buka apa tutup, ya? Lalu, apakah ada yang pergi ke pantai malam-malam? Begitu kurang lebih saya bertanya-tanya. Mendadak, saya jadi pengin pergi ke pantai malam-malam. Random sekali, memang.

Ndilalah, saya punya teman yang somplaknya 11-12 sama saya. Namanya Lia. Begitu Lia tahu saya penasaran dengan suasana pantai di malam hari, dengan bersemangat dia malah ngajak ke pantai. Dia penasaran juga. Wah, gayung bersambut ini. Ibarat melempar umpan, umpan saya kemakan sama Lia. Jadilah, kami berdua ke pantai malam hari. Nggak malam banget sebenarnya. Habis maghrib, lah. Kami pergi kesana naik sepeda. Kebetulan jarak dari rumah ke pantai tidak terlalu jauh. Paling setengah jam.

Begitu sampai, kesan pertama saya, wow! Kaget. Ternyata tempat wisatanya kalau malam memang  dibuka. Serius. Tak kirain tutup loh kalau malam. Setelah tahu, berikutnya, muncul pertanyaan lain di benak saya, emang ada ya orang yang malam-malam ke pantai selain kami yang sedang penasaran ini?

Nah, nggak butuh waktu lama, pertanyaan saya itu terjawab juga. Begitu masuk, saya melihat motor-motor terparkir di beberapa titik . Walah, ternyata memang beneran ada loh orang yang malam-malam pergi ke pantai. Asli. Saya heran sendiri waktu itu. Berarti kami nggak aneh sengaja piknik malam-malam.

Tapi, ya gitu. Terjawab satu pertanyaan justru membawa saya pada pertanyaan-pertanyaan lain, itu kenapa motornya nggak diparkir di parkiran? Lalu yang paling penting, ngapain mereka di sana? Bukannya pantai kalau malam hari itu nggak ada yang bisa dipandang, ya? Kan langitnya gelap. Birunya laut jadi nggak kelihatan. Jadi mereka-mereka itu, duduk-duduk ngapain?

Demi menjawab rasa penasaran, kami sepakat untuk menuntun sepeda menyusuri jalan biar lebih dekat ke bibir pantai, jadi kan lebih jelas. Maklum, malam hari gelap, Cuy. Nggak banyak juga penerangannya.

Lalu, tampaklah pemandangan demi pemandangan itu. Oalah… ternyata! Pantesan motornya nggak diparkir di tempat parkir. Buat nutupin aksi mereka rupanya! Dan ternyata orang-orang datang bukan buat merasakan keindahan hamparan air ciptaan Tuhan. Tapi, buat merasakan keindahan yang lainnya, alias pacaran. Ampun, dah. Mana suasananya mendukung lagi. Gelap, udaranya dingin, anginnya kencang. Abot… abot.

Melihat pemandangan di sekitar malam itu, membuat kami berdua saling lirik, sikut, njawil, dan nabok setiap kali ada sesuatu yang terasa menusuk mata. Jadi, tiap kali Lia melihat sesuatu, dia refleks njawil atau meremas tangan saya. “Arah jam satu!” begitu pekiknya tertahan sambil menunjuk dengan isyarat mata ke arah yang dia maksud. Saya juga begitu. Kalau ada yang seru, saya gantian nabok Lia. “Arah jam 3!”

Syukurlah, kami segera sadar bahwa pantai di malam hari bukanlah tempat yang bersahabat untuk anak seusia kami waktu itu. Kami putuskan untuk segera pulang saat itu juga. Toh pertanyaan saya soal pantai kalau malam buka apa nggak sudah terjawab. Orang-orang ngapain piknik malam-malam juga sudah terjawab. Ya sudah. Pulang saja. Dan sepanjang perjalanan pulang, kami tak henti-hentinya membahas pengalaman kami malam itu. Aneh rasanya berada di sana. Sungguh, pergi ke pantai di malam hari adalah hal bodoh yang tidak seharusnya kami lakukan. Kan kami yang polos ini, jadi tau kelakuan kalian, hey para pecandu asmara!

BACA JUGA Harga Makanan di Tempat Wisata Lebih Mahal Itu Wajar dan artikel Dyan Arfiana Ayu Puspita lainnya.

Baca Juga:  Penamaan Kampung di Jogja yang Terinspirasi dari Prajurit Keraton
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
13


Komentar

Comments are closed.