Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Filosofi Kelamin dan Tumpeng dalam Ritual Sunatan Orang Abangan

Aly Reza oleh Aly Reza
29 Juli 2020
A A
sunatan abangan mojok

sunatan abangan mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Seminggu yang lalu saya berksempatan menghadiri sebuah ritual sunatan adik kawan saya yang seorang abangan, kawan sharing hal-hal seputar abangan yang selama ini selalu bisa jadi bahan buat saya tulis. Termasuk undangan buat menghadiri ritual sunatan adiknya, ternyata juga bisa jadi bahan mentah buat saya olah jadi tulisan yang Anda baca sambil nunggu balasan WA dari doi ini heuheuheu.

Dalam tradisi masyarakat abangan—setidaknya dari kelompok keluarga kawan saya—ritual sunatan disebut juga dengan “kolohan”.

Sepintas, terdengar mirip sama istilah ritual sunatan Suku Osing di Banyuwangi yaitu, “koloan”. Kalau merujuk dari beberapa catatan yang pernah saya himpun, koloan artinya adalah jebakan. Yakni rangkaian ritual untuk menjebak atau mengelabuhi si anak agar mau disunat. Ritual ini dikhususkan buat anak-anak yang agak penakut.

Jadi, sedari awal si anak emang sengaja nggak dikasih tahu kalau dia mau disunat. Kemudian agar mau disunat, si anak dijebak pihak keluarga dengan pura-pura diajak jalan-jalan. Maksud yang sebenernya dari jalan-jalan adalah diajak jalan ke rumah tukang sunatnya. Ada yang bilang kalau ini bagian yang merepresentasikan istilah koloan.

Ada juga yang menyebut, jebakan yang dimaksud adalah ketika si anak dimandikan dengan cairan tiga warna. Yaitu, merah yang berasal dari darah ayam, warna kuning dari kunyit, dan putih yang berasal dari batu kapur atau sekarang umumnya cukup pakai bedak saja. Pihak orang tua dan tukang sunat akan membesar-besarkan hati si anak. Orang tua bilang ke anak kalau setelah dimandikan dengan tiga cairan tersebut, maka dia akan jadi kebal sakit. Dengan begitu, akhirnya si anak nggak bakal rewel pas mau disunat.

Setidaknya seperti itulah yang berkembang di masyarakat Osing dewasa ini. Berdasarkan penelitian Andrew Beatty, antropolog pada dekade 90-an di Bayu, Banyuwangi, model ritualnya bukan memandikan si anak dengan tiga cairan tersebut. Tapi dengan mengguyurkan tiga cairan tersebut pada penis si anak sebelum disunat. Hal ini dimaksudkan untuk menolak bala apa pun; biar terhindar dari malpraktik misalnya.

Saya masih belum bisa memastikan, kok bisa nyerempet gitu ya antara istilah sunatan dari keluarga abangan kawan saya sama masyarakat Osing? Nggak cuma itu, prosesi ritualnya pun nisbi sama, loh. Malah cenderung mirip dengan apa yang pernah ditemukan Andrew Beatty; mengguyurkan tiga cairan—terdiri dari yang sudah saya sebut sebelumnya—pada penis sebelum dilakukan pemotongan.

Tiga cairan tersebut, kata kawan saya, disebut dengan “koloh’’ (bahasa Jawa) yang artinya adalah sisa atau bekas air. Karena, seperti yang saya sebut sebelumnya, cairan yang digunakan kan emang bekas atau kaldu dari beberapa bahan. Kayak kuning yang asalnya dari olahan kunyit, putih dari olahan batu kapur, dan merah yang diambil dari darah ayam. Tapi bagi keluarga kawan saya, tiga sumber cairan ini nggak baku, alias bebas yang penting menghasilkan tiga warna; merah, kuning, putih. Karena letak filosofinya bukan di bahan, tapi pada warnanya.

Baca Juga:

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

Warna merah adalah simbol dari nafsu amarah (dorongan keburukan). Kuning adalah simbol untuk nafsu sufiyah (terombang-ambing). Nafsu mutmainnah (kebaikan) yang disimbolkan dengan warna putih. Lalu apa hubungannya tiga warna yang menggambarkan tiga nafsu dalam diri manusia itu dengan penis? Kenapa tiga cairan warna tersebut justru diguyurkan di penis? Nah, ini yang menarik.

Penis (kemaluan) di sini merupakan simbol dari nafsu atau syahwat yang sering mengendalikan manusia. Kayak apa kata Eka Kurniawan, “Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala.”

Penaburan simbol tiga jenis nafsu pada penis ini adalah harapan agar setelah disunat nanti si anak akhirnya bisa mengontrol hawa nafsunya sendiri. Bisa membedakan mana yang pantas dilakukan dan mana yang harus dihindari. Itulah syarat agar seseorang bisa disebut dengan aqil balig (berakal sehat); menggunakan fungsi akalnya dengan sebaik-baiknya. Dan setelah aqil balig, barulah seseorang akan bisa disebut sebagai “insan kamil” (manusia sempurna).

Dalam “Serat Wirid Hidayat Jati” disebut, kemaluan manusia itu adalah bait al-mukaddas (rumah suci). Kesucian yang harus dijaga manusia dengan mengontrol nafsu atau syahwatnya sendiri. Dan itulah jalan menuju “insan kamil”.

Selesai disunat, pihak keluarga kawan saya kemudian mengadakan doa bersama di hadapan sebuah tumpeng. Setelah itu, ya udah tinggal makan-makan heuheuheu. Si anak yang baru saja disunat tersebut harus ikut mencicipi tumpeng yang sudah dihidangkan. Bukannya tanpa alasan, tumpeng dan aneka bunga penghiasnya ini juga mengandung filosofi serta harapan-harapan untuk si anak.

Nggak ada aturan baku untuk jenis lauk yang harus menyertai tumpeng. Yang wajib adalah adanya tiga jenis bunga yaitu, mawar, kenanga, dan bunga kanthil.

Bunga mawar maksudanya adalah mawarna-mawarni (beraneka ragam). Sebuah harapan agar si anak memahami betul bahwa manusia itu hidup bersama. Baik bersama manusia atau makhluk lain di muka bumi ini yang tentu, berbeda antara satu dengan yang lain. Tugas manusia adalah saling menghormati sesamanya. Kalau dalam Islam, mungkin kayak konsep hablun min al-nas dan hablun min al-alam gitu lah.

Kemudian bunga kenanga maksudnya adalah kena ngana kena ngene (boleh begitu boleh begini). Mangandung makna yaitu, setelah disunat, maka si anak sudah dianggap dewasa. Si anak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang hendak dia lakukan. Dengan syarat, kebebasan tersebut tetep harus berdasarkan bunga kanthil.

Kanthil dalam bahasa Jawa memiliki arti sama dengan nyawiji (menyatu). Artinya sikap kena ngana kena ngene tersebut tetep harus nyawiji atau satu konsep dengan Tuhan. Jadi lebih kepada wanti-wanti agar manusia selalu eling lan waspada. Selalu memilah-milah apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan. Misalnya, mo limo (nggak minum (mabuk), main (judi), maling, membunuh, dan madon atau main perempuan).

Maksud tumpeng sendiri adalah gambaran dari siklus hidup manusia yang persis seperti bentuk tumpeng; segitiga. Yang mana semakin ke atas semakin mengerucut lalu hilang. Begitulah manusia, semakin dewasa dia, harusnya semakin sadar pula bahwa dia nantinya akan hilang atau tiada pula. Alias bakal mati; kembali nyawiji dengan Gusti Kang Murbeng Dumadhi (Tuhan yang jadi sebab adanya alam). Oleh karena itu, dalam perjalanan menuju kesejatian tersebut manusia harus mengamalkan trinitas dalam bunga mawar, kenanga, dan kanthil. Maksudnya adalah agar selain menjadi insan kamil, juga bakal selamat di akhirat.

BACA JUGA Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2020 oleh

Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

rumah hunian pengantin baru

Pilihan Rumah Hunian Untuk Pengantin Baru

23 Mei 2019
orang madura pandhalungan mojok

Mengenal Pandhalungan, Asimilasi Budaya Jawa dan Madura

14 Agustus 2020
Bagaimana Ceritanya Koruptor Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan? Maling Duit Rakyat Dianggap Pahlawan Itu Nggak Pernah Masuk Akal! edy rumpoko

Bagaimana Ceritanya Koruptor Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan? Maling Duit Rakyat Dianggap Pahlawan Itu Nggak Pernah Masuk Akal!

20 Desember 2023
Senjakala Madhang Maning Park Purwokerto: Pusat Kuliner yang Digadang-gadang Bakal Ramai, tapi Nyatanya Semakin Terbenam

Senjakala Madhang Maning Park Purwokerto: Pusat Kuliner yang Digadang-gadang Bakal Ramai, tapi Nyatanya Semakin Terbenam

2 November 2023
Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK (Unsplash)

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa

9 Maret 2026
Kecamatan Gondokusuman, Pesaing Berat Kecamatan Umbulharjo yang Nggak Kalah Komplet dan Modern

Kecamatan Gondokusuman, Pesaing Berat Kecamatan Umbulharjo yang Nggak Kalah Komplet dan Modern

22 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
Warga Bantul Iri, Pengin Tinggal Dekat Mandala Krida Jogja (Wikimedia Commons)

Saya Mengaku Iri kepada Mereka yang Tinggal di Dekat Stadion Kridosono dan Stadion Mandala Krida Jogja

16 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku Mojok.co

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.