Menikmati Kegiatan Mencabut Uban Sebagai Usaha Sederhana Menyenangkan Hati Orang Lain

Artikel

Avatar

Tahukah kamu, mencabut uban adalah kegiatan dengan makna sosial yang luhur?

Menurut beberapa artikel yang saya baca, uban tumbuh disebabkan karena beberapa faktor. Misalnya, kekurangan vitamin, merokok, gen, dan lain sebagainya. Rambut manusia pada usia tertentu akan kekurangan melanin, pigmen yang menghasilkan warna pada rambut. Akibatnya pigmen hitam pada rambut pun berkurang dan rambut tumbuh dengan warna putih atau abu-abu yang biasa disebut uban.

Menurut orang-orang yang sudah beruban (iya soalnya saya belum beruban), rambut tersebut menimbulkan sensasi gatal. Rasa gatal ini mengganggu aktivitas keseharian. Akhirnya, mau tidak mau, mereka akan mencari sekaligus mencabutnya demi kenyamanan. Jika sudah demikian, mustahil bisa mencabut uban sampai habis dengan tangan sendiri. Kita butuh bantuan orang lain untuk memburunya.

Dilihat dari kaca mata kesehatan, mencabut uban memberi dampak negatif bagi kesehatan, bahkan trauma pada rambut. Trauma yang berulang-ulang ini dapat menyebabkan kebotakan. Namun, tahukah kamu, ada beberapa sisi positif dari kegiatan mencabut uban. Sini saya jelasin.

Menyenangkan hati orang lain

Uban. Ia seperti hama yang mengusik ketenangan tumbuh kembang rambut pemiliknya. Bahkan, pada titik tertentu, bikin stres si pemilik kepala. Nah, ketika membantu mencabut uban di kepala orang lain, artinya kita turut serta mengurangi beban hidupnya.

Berbuat banyak macamnya. Meluangkan sedikit waktu untuk mencabut uban adalah salah satunya. Bukan aksi kepahlawanan yang “istimewa”. Namun, maknanya sangat dalam bagi orang lain. Pahala.

Mempererat tali pergibahan

Kegiatan mencabut uban, paling tidak, dilakukan oleh dua orang. Mereka akan duduk berurutan seperti anak kecil main kereta api. Posisi duduk pencabut uban lebih tinggi agar mudah ketika menjangkau kepala koleganya. Kalau ada yang nimbrung sambil mencabut uban, mereka akan duduk di belakang si pencabut uban. Membentu rantai cabut uban.

Baca Juga:  Staf Khusus Milenial tuh Kerjaannya Ngapain sih?

Nah, apa yang akan terjadi jika sekelompok ibu-ibu sudah berkumpul? Yap, ngerumpi. Saya tidak yakin ketika ritual cabut uban berlangsung, mulut mereka akan terbungkam dan hanya berkonsentrasi dengan pekerjaannya saja.

Bisa dipastikan ibu-ibu itu akan membicarakan topik yang ringan sampai berat. Dari keluh kesah ekonomi akibat pandemi, jalan cerita sinetron yang habis ditonton semalam, sampai kehidupan tetangga lainnya.

Mengasah ketelitian

Mencabut satu helai uban memang kegiatan yang membutuhkan keseriusan tingkat tinggi. Bayangkan saja, kita harus menemukan rambut putih di antara ratusan, ribuan, atau bahkan ratusan ribu rambut hitam lainnya. Belum lagi rambut hitam yang lain akan menyamar warnanya jika tertimpa cahaya matahri.

Mencabut satu rambut putih sampai ke akar-akarnya bukan pekerjaan sederhana. Rambut tipis bisa jadi tantangan tersendiri. Jadi, dengan mencabut uban kita bisa berlatih menjadi pribadi yang teliti. Kan enak ya kalau punya tetangga yang jeli sehingga bisa saling mengingatkan jika kelupaan. Kelupaan bayar utang, misalnya.

BACA JUGA Sensasi Berkendara di Jalan Raya 6 Tahun Tanpa SIM atau tulisan Elif Hudayana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
1


Komentar

Comments are closed.