Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Komentar Ayah atas Tulisan Saya tentang Larangan Usaha Ternak Ayam

Firdaus Al Faqi oleh Firdaus Al Faqi
13 Mei 2020
A A
telur ayam usaha ternak ayam mojok

usaha ternak ayam mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Begini, saya kan habis menulis tentang saran agar tidak beternak ayam. Ternyata, tulisan itu jadi trending di Terminal Mojok dan di kolom komentar itu banyak yang mengemukakan pikiran dan pendapatnya. Di kolom komentar, ada yang menyuruh saya untuk bersyukur tentang hasil, ada yang bilang kalau saya malas, ada yang mengatakan kalau saya lebay, ada yang bilang kalau saya nggak mau bantu orang tua, ada yang memberi testimoni tentang nyamannya usaha ternak ayam, dan ada juga komentar yang agak menggigit.

Awalnya, saya kira tidak perlu direspons. Tapi, kok, rasanya ini bisa jadi konten tulisan. Maka dari itu, akhirnya saya tulis. Untuk bahan-bahan tulisannya sendiri, saya langsung tanya saja kepada Ayah, sebagai subjek utama pemelihara ayam sekaligus sebagai orang yang telah membesarkan saya. Sebelum itu, saya perlihatkan dulu tulisan tersebut dan lengkap dengan komentarnya. Saya kira awalnya Ayah bakal marah-marah seperti yang ada di komentar, soalnya, kan, katanya boomer ya begitu itu. Tapi ini berbeda.

Setelah saya tunjukkan, beliau bertanya, ini apa, tulisannya siapa, dan gimana ceritanya bisa ada komentar seperti itu. Saya jawab saja bahwa itu tulisan anakmu. Dan saya langsung tanya, memangnya salah ya kalau saya sebagai anak seorang yang punya usaha sampingan ternak ayam menulis itu? Ayah saya merespons, “Ya nggak apa-apa, Le. Bebas.” Lalu saya tanyakan lagi, apakah Ayah nggak marah kalau punya anak itu seperti yang dikatakan oleh warganet? Nggak mau bantu, malas, dst. Ayah saya santai menjawab, “Lha ngapain? Wong Ayah nggak mau nuntut kamu ikut bantu, kok.”

Lalu, ayah saya melanjutkan, “Ini Ayah buka usaha ternak ayam karena bosan dengan rutinitas yang gitu-gitu aja. Kemarin, kan, Ayah hanya di kantor dan ke sawah. Monoton, hidup Ayah jadi nggak asyik. Jujur, Le. Dari dulu Ayah memang suka memelihara hewan. Kambing pernah, ikan pernah, bebek pernah, dan ayam juga pernah. Malah dulu, Ayah sampai pelihara 1.000 ekor. Tanpa bantuan siapa pun. Kenapa bisa gitu? Karena memang Ayah senang dengan kegiatan ini.”

Setelah jawab itu saya hanya manggut-manggut sambil nyeruput kopi dan rokokan santai dengan Ayah. Beliau langsung bicara lagi, “Coba lihat Ayah sekarang. Lalu bandingkan dengan kondisi Ayah sebelum ternak ayam. Sakit-sakitan, kan? Dikit-dikit pusing, dikit-dikit sakit kepala. Tapi sekarang gimana? Sumringah, kan? Ini semua karena Ayah lakukan berdasarkan nilai kebahagiaan. Jadi, Ayah melaksanakannya tanpa beban dan tekanan. Masalah untung atau tidaknya, Ayah nggak peduli. Penting happy. Apalagi sampai menuntut kamu untuk bantu, mengembangkan, dan menjadi seperti yang di komentar itu. Itu bukan ayahmu. Dari dulu Ayah suka kerja sendiri. Kalau ada yang bantu ya syukur, kalau nggak ada ya nggak masalah. Gitu aja kok repot.”

Saya baru sadar, sejak saya SD-SMA Ayah sering menabuh genderang perang dengan saya, tapi sekarang ia jadi halus buanget. Mungkin karena saya kuliah dan jarang di rumah. Selain itu, saya juga kan anak tunggal. Makanya beliau nggak kayak dulu lagi. Sembari menikmati kue, kopi, dan makanan lainnya, Ayah melanjutkan, “Begini, Le. Ayah baru sadar, kalau tiap orang itu punya karakter, kecenderungan, potensi, minat, dan bakatnya masing-masing. Kalau Ayah baru mengerti sekarang ini tentang kesukaan Ayah dari dulu, yakni beternak. Nah, sama halnya dengan kamu, Le. Kalau kamu suka apa pun, itu yang kamu lanjutkan, kerjakan, dan jalankan. Misalnya kamu nggak terlalu suka ternak ayam, nggak apa-apa, bebas. Kalau kamu suka nulis-nulis, ya sudah itu yang didalami, ditekuni, dan pokoknya kerja keras saja. Jalan hidup Ayah sama kamu bisa saja berbeda. Masalah uang nggak usah khawatir, Insya Allah datang dengan sendirinya. Tenang saja.”

Saya kembali manggut-manggut dan langsung respons kalau kesukaan saya itu angin-anginan, jadi nggak tentu. Kadang sekarang suka A, besok suka B. Lalu seminggu kemudian tiba-tiba suka Z, dan minggu berikutnya bisa suka A lagi. Begitu seterusnya. Ayah saya jawab lagi, “Ya sudah, diikuti dulu saja. Kamu, kan, masih muda. Jalanmu masih panjang. Nikmati itu semua, nanti bakal ketemu mana yang benar-benar kamu suka dan yang kamu minati dan mana yang semu. Tenang aja, pokoknya jalan terus, jangan berhenti.” Saya langsung jawab saja, “Siap, Bos.”

Lalu Ayah saya nambahi lagi yang bijak-bijak, “Begini, Le. Respons di komentar itu, kan, ada yang baik ada yang nggak. Kamu itu, selama ini kan cari ilmu. Nah, ilmu itu nggak bakal ada gunanya kalau tidak memperluas jiwamu. Kalau jiwamu luas, kamu bisa berlaku layaknya samudra yang menampung mutiara sekaligus menampung sampah-sampah. Lalu, kepandaianmu itu juga kurang berguna kalau tidak memperbesar kepribadianmu sehingga kamu sanggup memahami orang lain. Jangan mau bertindak sempit, cupet, dan cekak. Itu nggak enak, lama-lama bisa hancur sendiri. Harus luas yo, Le? Anggap saja mereka yang marah-marah itu, mungkin di rumahnya nggak asyik seperti suasana di sini, pendapatannya nggak sesuai dengan kerja kerasnya, dan mungkin juga kalau yang bapak-bapak itu lagi nggak diberi ‘jatah’ oleh istrinya. Ambil sudut pandang yang lucu-lucu, yang asyik. Biar ringan hidupmu.”

Baca Juga:

Mempertanyakan Orang-orang yang Nggak Suka Dada Ayam padahal Bagian Ayam Ini Paling Worth It

Derita Punya Tetangga yang Pelihara Ayam: Bau Tidak Sedap Jadi Musuh Sehari-hari, Sudah Diingatkan Malah Ngeyel

Setelah ayah saya bilang yang bapak-bapak nggak diberi jatah itu, kami berdua tertawa sembari menikmati sisa-sisa kopi, makanan, rokok, dan komentar-komentar “lucu” lainnya. Setelah itu ayah saya tanya, “Itu kamu nulis-nulis gimana caranya? Itu pekerjaan atau apa?” Karena tak ingin ribet jelasin pekerjaan ini, saya jawab singkat saja, “Oh, anu. Kalau yang tak kerjakan ini, anggap aja iseng-iseng dapat duit.” Ayah saya merespons lagi, “Loh, apa iya kalau hanya iseng-iseng bisa dapat duit?” Saya jawab lagi, “Ya, ini buktinya. Dapet, walaupun sedikit. Tapi lumayan lah buat tambahan biaya jajan.” Percakapan diakhiri dengan perasaan sumringah dan bahagia. Lalu kami kembali ke rutinitas masing-masing. Saya menulis ini, dan Ayah lanjut nonton video cara beternak ayam yang efektif dan efisien dengan metode kiwari. Mungkin juga, sekaligus dibarengi perasaan agak mangkel karena ada yang mengusik anak kesayangannya ini. Tapi sebelum balik ke rutinitasnya, dengan lantang kepada Ayah, “Yah, mungkin inilah jalan ninjaku!”

KISAH ayam-ayamnya ayah penulis bermula dari ini, berlanjut menjadi ini, ini, dan yang terakhir serta banyak dikomentari itu adalah ini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Mei 2020 oleh

Tags: ayampeternakanternak ayam
Firdaus Al Faqi

Firdaus Al Faqi

Sejak lahir belum pernah pacaran~

ArtikelTerkait

Tips Beternak Ayam di Rumah untuk Pemula

6 Tips Beternak Ayam di Rumah untuk Pemula

27 September 2020
Jurusan Peternakan, Jurusan yang Saya Jadikan Pelarian, Ternyata Penuh Potensi Cuan yang Super Besar

Jurusan Peternakan, Jurusan yang Saya Jadikan Pelarian, Ternyata Penuh Potensi Cuan yang Super Besar

9 Juli 2025
jurusan peternakan kuliah mahasiswa derita hewan lucu alpaca mojok

Izinkan Saya Menjawab ‘Kuliah di Jurusan Peternakan’ dengan Tenang

3 Mei 2020
bapak kos melihara ayam pengalaman aneh anak kos ayam jago sabung ayam mojok

Pengalaman Absurd Punya Bapak Kos yang Hobi Pelihara Ayam

22 April 2020
Membedah Alasan Kenapa Makanan Indonesia Timur Nggak Begitu Terkenal dan Kalah dengan Kuliner Lainnya

Membedah Alasan Kenapa Makanan Indonesia Timur Nggak Begitu Terkenal dan Kalah dengan Kuliner Lainnya

13 Januari 2025
Ayam dan Keseruan Menikah dengan Orang Magelang (Unsplash)

Ayam Jago dan Keseruan Menikah dengan Orang Magelang

12 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan Mojok.co

3 Makanan Sunda yang Namanya Aneh dan Bikin Nggak Nafsu Makan

29 Januari 2026
Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan Padahal Tarif Mahal, Bukan Bebas Hambatan Malah Jadi Terhambat

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan padahal Tarif Mahal~

30 Januari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja
  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.