Mengenal Jenis-jenis Ayam Beserta Kepribadiannya

Artikel

Firdaus Al Faqi

Kegiatan mengisi waktu kosong mungkin bisa beragam. Kalau saya di rumah, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah memberi makan ayam-ayam peliharaan. Ini semua karena beberapa bulan lalu, ayah mencoba sesuatu untuk mendapat pendapatan tambahan. Salah satunya ternak ayam ini. Pada awalnya sih saya tidak tahan dengan bau telek ayam yang menusuk hidung itu. Tapi ala bisa karena biasa, lama-lama tidak terlalu bau juga.

Kegiatan memberi makan ayam ini dilakukan secara disiplin sebanyak tiga kali sehari. Selain agar ayam bertumbuh kembang dengan pesat, ini juga dilakukan agar ayamnya cepat gemuk dan tak mudah sakit karena kelaparan. Untuk beberapa bulan ini, selain memberi makan dan membersihkan kandangnya, saya juga mengamat-amati bagaimana perilaku dari ayam ini. Saya yakini, bukan hanya manusia yang perilakunya di analisis, ayam juga punya dan bagi saya perlu untuk dipandang secara khusus. Tak hanya manajemen sumber daya manusia, manajemen sumber daya ayam juga harus diperhatikan.

Ayam, sebatas pengamatan saya, memiliki karakteristik yang berbeda pada setiap jenisnya. Terkait dengan jenis-jenis ayam, yang saya ketahui baru tiga, yakni ayam kampung, ayam broiler, dan ayam joper. Ketiga ayam ini biasanya dipelihara untuk diambil daging dan telurnya. Ketiga-tiganya punya ciri khas tersendiri.

Karakter ayam #1 Ayam kampung

Untuk yang pertama, ayam kampung. Jenis ayam ini adalah yang paling banyak ditemukan di tetangga rumah saya. Selain karena di desa, ayam ini juga punya kecenderungan untuk berlaku mandiri dalam mencari makanan. Bisa berjalan ke rumah-rumah warga lalu mematuk-matuk tanah sambil berharap ada cacing atau apa pun yang bisa dimakan. Ayam ini dikenal dengan kelezatan dagingnya. Walaupun agak alot, tapi rasa dari daging ayam kampung memang sungguh mewah. Makanya di warung-warung, harga daging ayam kampung lebih mahal dari daging lainnya. Kalau kata beberapa orang, daging ayam kampung ini bisa enak karena kesehariannya yang selalu jalan-jalan. Otot-otot yang ada di tubuhnya jadi berkembang.

Keunggulan dari ayam ini selain tidak manja menunggu disuapi makanan oleh majikan, dia merupakan ayam paling tangguh dari dua jenis ayam peliharaan tadi. Dia sering makan sembarangan, tapi karena itu, imun di tubuhnya menguat. Mohon maaf, lihat saja orang gila. Kenapa dia tidak sakit walaupun makan sembarangan? Karena imun dalam tubuhnya sudah menyesuaikan diri dengan kuman yang pernah menyerangnya. Ayam kampung juga terkenal paling aktif. Dia suka tidur di atas pohon dan tempat-tempat yang tidak lazim (bagi kita) lainnya.

Baca Juga:  Wacana Pindah Ibu Kota di Tengah Tekanan Bisnis Sawit dan Batu Bara

Karakter ayam #2 Ayam broiler

Yang kedua, ayam broiler. Ayam jenis ini sering kita makan sehari-hari dan paling banyak di jual di pasaran. Ayam jenis ini sangat laris. Selain karena murah, dagingnya juga banyak. Kalau tidak salah ayam jenis inilah yang banyak dipakai oleh warung-warung atau restoran cepat saji. Tapi, untuk perilaku dan ciri khas dari ayam ini, berbeda dengan ayam kampung. Ayam broiler cenderung pasif, tidak bisa bergerak lincah seperti ayam kampung yang mungkin berideologi kebebasan, ke sana kemari, los, wani, dst. dst. Selain itu ayam broiler ini gampang merasa insecure, stres, dan kagetan. Kalau dilihat lebih jauh, ketika mengalami hal-hal tersebut, besar kemungkinan dia langsung mati.

Saya pernah punya kawan yang memelihara ayam broiler. Karena tempatnya berdekatan dengan jalan yang digunakan oleh anak-anak desa untuk dragrace, ayamnya sering kaget mendengar suara knalpot brong yang memekakkan itu. Tak lama kemudian, kata kawan saya itu, ayamnya jadi tidak nafsu makan dan langsung mati. Ini semua karena ayam broiler punya perasaan yang halus, yang butuh dimanja, dan butuh suapan makanan dari majikannya. Walau begitu ayam ini unggul di satu hal, dia bisa cepat gemuk sehingga bisa langsung dijual.

Karakter ayam #3 Ayam joper

Nah, untuk yang ketiga ini yang saya suka, ayam joper. Istilah joper sendiri punya kepanjangan, yakni jowo super. Kata beberapa ahli perayaman, jenis ini didapat atas hasil kawin silang dari ayam kampung dan ayam broiler. Akhirnya, ciri khas dari kedua ayam kampung dan broiler menyatu dalam tubuh dan perilaku ayam joper ini. Tapi setengah-setengah. Dia agak tahan sakit, agak lincah, agak gemuk, dan agak-agak yang lainnya. Ayam ini juga yang saat ini sedang saya pelihara dengan alasan-alasan di atas. Selain tingkat kematiannya rendah, dia juga punya perkembangan yang agak cepat seperti ayam broiler.

Baca Juga:  Cukup Berbalas Sapa Jika Bertemu Mantan, Tidak Perlu Sampai Saling Silaturahmi Berkunjung

Ada kejadian unik. Ayam saya ini, pernah ada beberapa yang sakit. Karena saya dan ayah tidak tahu obatnya beli di mana, akhirnya dengan pasrah dan tawakal, langsung saja obat sakit kepala yang biasa digunakan manusia diberikan kepada ayam tersebut. Dan, alhamdulillah, besoknya ayam tersebut kembali aktif dan segar bugar.

Itu semua beberapa ciri khas dari ayam yang saya ketahui. Mungkin ini bisa digunakan menjadi semacam astrologi untuk menganalisis diri. Kalau zodiak itu kan dibagi jadi dua belas, di sana ada masing-masing karakteristik dari si yang punya zodiak tertentu. Zodiak A karakternya gimana, Si B gimana, dst. dst. Kalau pakai alat analisis karakteristik ayam untuk membaca diri, kira-kira jenis ayam yang manakah kita ini?

Oh, iya. Tambahan sedikit saran. Mungkin ayam joper bisa jadi percontohan bagi kita. Untuk menyilangkan dua hal yang sebelumnya terlihat bertentangan. Bisa digunakan misalnya untuk masalah asmara. Nanti, yang kaya dikawinkan dengan yang sederhana. Yang kelebihan tampan/cantik bisa dijodohkan dengan yang punya wajah biasa-biasa saja. Agar hasilnya nanti, bisa rata tengah semua. Jadi tak ada lagi diskriminasi antara si kaya dan si miskin, si ganteng/cantik dan si buruk/jelek. Lah, malah kayak usulannya Menteri Agama. Jangan-jangan beliau pelihara ayam juga?

BACA JUGA Bagi Saya Gelar S.E. Bukan Sarjana Ekonomi, tapi Sarjana Edan! dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
20


Komentar

Comments are closed.