Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung

Dicky Setyawan oleh Dicky Setyawan
26 Januari 2021
A A
Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung terminal mojok.co

Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Percayalah di balik gurih dan alotnya olahan ayam kampung, di situ ada sedikit ke-muntab-an para tetangga si empu alias pemilik ayam kampung sebelum ayamnya dijual. Yah, saya sendiri tinggal di pedesaan dan barang wajar jika masyarakatnya berinvestasi dengan memelihara hewan ternak. Satu dari sekian hewan yang populer itu adalah ayam kampung.

Berbeda dengan ayam jenis lain, ayam jenis ini sering kali diumbar begitu saja, lebih mirip seperti OBLO alias Organisasi Bocah Lali Omah (organisasi bocah lupa rumah), yang pulang ke rumah kalau lapar dan tidur saja. Sisanya ia berkeliaran entah ke mana.

Keluarga saya sendiri sebenarnya tak asing dengan ayam jenis ini, dulunya keluarga saya pernah punya banyak ayam kampung dan semuanya dilepas, segala suka dan duka saya rasakan, walau banyak dukanya. Masalahnya, setelah ayam-ayam milik keluarga saya dijual, duka itu tak lantas hilang, terutama oleh ayam-ayam tetangga. Yang jelas ayam-ayam ini tidak paham batas teritorial buatan manusia, bagi mereka semua adalah tempat bermain yang asyik.

Masalahnya lagi, rumah saya dengan rumah-rumah tetangga saling berhadapan, tanpa sekat tanpa pagar, seperti umumnya rumah di perkampungan. Sehingga ayam-ayam ini bebas berkeliaran ke mana saja, asal tidak ada ayam jago yang memproklamirkan daerah tersebut sebagai wilayah kekuasaanya. Jadi mau punya ayam atau tidak, tetap saja saya kebagian hal-hal menyebalkan itu.

Hal pertama tentu soal ayam yang suka nelek alias berak alias pup sembarangan. Yah, ini kerepotan yang paling sering keluarga saya rasakan. Jadi keluarga saya (terutama ibu saya) punya pekerjaan ekstra setiap hari, membersihkan kotoran-kotoran ayam yang dibuang secara sembarangan. Bukan hanya di halaman atau di lantai, yang lebih menyebalkan saya sering memergoki ayam nangkring di kursi, lantas berak di atasnya. Hash. Lebih lagi jika rumah ditinggal pergi: benar-benar sedikit cemas, banyak was-wasnya.

Pun umumnya masyarakat desa adalah masyarakat agraris, pasti umum menjemur hasil panen di depan rumah. Sejatinya kegiatan menjemur ini pekerjaan yang mudah, asal diangkat kalau tiba-tiba hujan saja. Namun, kalau punya tetangga yang punya ayam kampung, artinya ada pekerjaan tambahan, yaitu menjaga agar jemuran semacam gabah dan jagung tidak diacak-acak ayam.

Beruntung jika punya pekarangan yang luas, lantas memasangi jaring untuk menjaga jemurannya tak diacak-acak ayam. Walau kadang ayam kelewat kreatif hingga bisa membobol jaring-jaring tersebut, semacam Rio, dkk membobol gedung Bank Spanyol di serial Money Heist, meski sudah dilengkapi pengamanan yang sebegitu ketatnya.

Selain itu, hal yang tak kalah menyebalkan yaitu sering kali ayam-ayam ini masuk rumah tanpa permisi. Yang lebih menyebalkan, mereka kebingungan mencari pintu keluar rumah ketika diusir, hingga harus menguber-uber ke sudut-sudut rumah, dari ruang tamu, kamar, dapur hingga kamar mandi. Kadang mentok-mentok menerabas kaca rumah, yang pada akhirnya membuang-buang tenaga si ayam kampung. Maka wajar, beberapa rumah di desa memasangi pintunya dengan pagar bambu, agar tetap teraliri sirkulasi udara tetapi juga menjaga dari ayam-ayam yang kelewat bandel.

Baca Juga:

Tetangga yang Nggak Niat Mengurus Hewan Peliharaan Wujud Kehidupan Tanpa Adab: Kalau Nggak Niat Pelihara, Mending Nggak Usah

Tetangga yang Hobi Bakar Sampah Memang Pantas Dibenci, Sehari-hari Cuma Bikin Sesak Napas

Hingga hal-hal menyebalkan yang tak kalah absurd lainnya, seperti ketika ayam mengerami telur-telurnya, tetapi tidak di rumah si empunya ayam, hingga mau tak mau, menunggu telur-telur itu menetas baru bisa mengusirnya.

Atau setelah telur-telur menetas, siap-siap saja jika punya anak kecil, si betina siap menyerang atau nladung anak-anak yang kadang suka mengganggu si ayam betina. Serta hal yang tak kalah absurd lainnya, seperti ketika saya terobsesi untuk bercocok tanam di sekitar rumah, yang selalu mentok sampai pemupukan awal karena tanaman tersebut kadung diacak-acak atau dicekeri ayam. Hashhh.

Bagaimanapun hal semacam itu memang konsekuensi hidup bertetangga, seperti barang wajar jika seseorang menjadi topik diskusi ibu-ibu di lapak berjalan tukang sayur. Sudah biasa, sih, tapi memang nggak menutup kemungkinan masih merasa kesal oleh perilaku ayam yang kadang kelewat nganyeli, alias tidak sepenuhnya kebal dengan perilaku bebal ayam, walau sejak lahir hingga sekarang saya sudah menjalani kehidupan bertetangga semacam ini.

Saya sendiri mungkin masih diberi kesabaran yang cukup untuk menghadapi ini semua. Pasalnya, tak jarang kadang orang saking kesalnya, tanpa tedeng aling-aling menangkap ayam-ayam yang kadung bebal itu, lantas mengolahnya tanpa permisi, wqwqwq. Jangan dicontoh, ya!

BACA JUGA 4 Alasan Usaha Ternak Ayam Sebaiknya Jangan Dilakukan atau tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Januari 2021 oleh

Tags: ayam kampunghewan peliharaantetangga
Dicky Setyawan

Dicky Setyawan

Pemuda asal Boyolali. Suka menulis dan suka teh kampul.

ArtikelTerkait

Privilese Jadi Anak Ketua RT yang Tidak Dirasakan Warga Biasa

Privilese Jadi Anak Ketua RT yang Tidak Dirasakan Warga Biasa

22 April 2024
Pelihara Ikan Koi Stres Nggak Hilang, Malah Bisa Bikin Gila terminal mojok

Pelihara Ikan Koi: Stres Tak Sirna, Malah Bisa Bikin Gila

11 Oktober 2021
Suka Duka Punya Tetangga Tukang Servis Sound System terminal mojok.co

Suka Duka Punya Tetangga Tukang Servis Sound System

24 Januari 2021
pencinta kucing bodoh yang menganggap kucing adalah mainan mojok.co

Kucing Bukan Mainan! Pencinta Kucing Harus Ubah Mindset dari Sekarang

6 Oktober 2020
10 Ciri Kucing Pembawa Rezeki

10 Ciri Kucing Pembawa Rezeki

21 Februari 2023
Dear, Tetangga. Apalah Artinya Rumah Gede, Pagar Tinggi, kalau Nggak Punya Bel? Nyusahin!

Dear, Tetangga. Apalah Artinya Rumah Gede, Pagar Tinggi, kalau Nggak Punya Bel? Nyusahin!

8 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Nggak Perlu Iri dengan Jurusan Filsafat yang Kerennya Hanya Sesaat Mojok.co

Meskipun Prodi Sosiologi Tidak Relevan dengan Dunia Industri, Menghapusnya Hanya Akan Menghambat Kemajuan Bangsa Ini

30 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.