Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung – Terminal Mojok

Butuh Kesabaran Ekstra kalau Punya Tetangga yang Pelihara Ayam Kampung

Artikel

Percayalah di balik gurih dan alotnya olahan ayam kampung, di situ ada sedikit ke-muntab-an para tetangga si empu alias pemilik ayam kampung sebelum ayamnya dijual. Yah, saya sendiri tinggal di pedesaan dan barang wajar jika masyarakatnya berinvestasi dengan memelihara hewan ternak. Satu dari sekian hewan yang populer itu adalah ayam kampung.

Berbeda dengan ayam jenis lain, ayam jenis ini sering kali diumbar begitu saja, lebih mirip seperti OBLO alias Organisasi Bocah Lali Omah (organisasi bocah lupa rumah), yang pulang ke rumah kalau lapar dan tidur saja. Sisanya ia berkeliaran entah ke mana.

Keluarga saya sendiri sebenarnya tak asing dengan ayam jenis ini, dulunya keluarga saya pernah punya banyak ayam kampung dan semuanya dilepas, segala suka dan duka saya rasakan, walau banyak dukanya. Masalahnya, setelah ayam-ayam milik keluarga saya dijual, duka itu tak lantas hilang, terutama oleh ayam-ayam tetangga. Yang jelas ayam-ayam ini tidak paham batas teritorial buatan manusia, bagi mereka semua adalah tempat bermain yang asyik.

Masalahnya lagi, rumah saya dengan rumah-rumah tetangga saling berhadapan, tanpa sekat tanpa pagar, seperti umumnya rumah di perkampungan. Sehingga ayam-ayam ini bebas berkeliaran ke mana saja, asal tidak ada ayam jago yang memproklamirkan daerah tersebut sebagai wilayah kekuasaanya. Jadi mau punya ayam atau tidak, tetap saja saya kebagian hal-hal menyebalkan itu.

Hal pertama tentu soal ayam yang suka nelek alias berak alias pup sembarangan. Yah, ini kerepotan yang paling sering keluarga saya rasakan. Jadi keluarga saya (terutama ibu saya) punya pekerjaan ekstra setiap hari, membersihkan kotoran-kotoran ayam yang dibuang secara sembarangan. Bukan hanya di halaman atau di lantai, yang lebih menyebalkan saya sering memergoki ayam nangkring di kursi, lantas berak di atasnya. Hash. Lebih lagi jika rumah ditinggal pergi: benar-benar sedikit cemas, banyak was-wasnya.

Pun umumnya masyarakat desa adalah masyarakat agraris, pasti umum menjemur hasil panen di depan rumah. Sejatinya kegiatan menjemur ini pekerjaan yang mudah, asal diangkat kalau tiba-tiba hujan saja. Namun, kalau punya tetangga yang punya ayam kampung, artinya ada pekerjaan tambahan, yaitu menjaga agar jemuran semacam gabah dan jagung tidak diacak-acak ayam.

Beruntung jika punya pekarangan yang luas, lantas memasangi jaring untuk menjaga jemurannya tak diacak-acak ayam. Walau kadang ayam kelewat kreatif hingga bisa membobol jaring-jaring tersebut, semacam Rio, dkk membobol gedung Bank Spanyol di serial Money Heist, meski sudah dilengkapi pengamanan yang sebegitu ketatnya.

Selain itu, hal yang tak kalah menyebalkan yaitu sering kali ayam-ayam ini masuk rumah tanpa permisi. Yang lebih menyebalkan, mereka kebingungan mencari pintu keluar rumah ketika diusir, hingga harus menguber-uber ke sudut-sudut rumah, dari ruang tamu, kamar, dapur hingga kamar mandi. Kadang mentok-mentok menerabas kaca rumah, yang pada akhirnya membuang-buang tenaga si ayam kampung. Maka wajar, beberapa rumah di desa memasangi pintunya dengan pagar bambu, agar tetap teraliri sirkulasi udara tetapi juga menjaga dari ayam-ayam yang kelewat bandel.

Hingga hal-hal menyebalkan yang tak kalah absurd lainnya, seperti ketika ayam mengerami telur-telurnya, tetapi tidak di rumah si empunya ayam, hingga mau tak mau, menunggu telur-telur itu menetas baru bisa mengusirnya.

Atau setelah telur-telur menetas, siap-siap saja jika punya anak kecil, si betina siap menyerang atau nladung anak-anak yang kadang suka mengganggu si ayam betina. Serta hal yang tak kalah absurd lainnya, seperti ketika saya terobsesi untuk bercocok tanam di sekitar rumah, yang selalu mentok sampai pemupukan awal karena tanaman tersebut kadung diacak-acak atau dicekeri ayam. Hashhh.

Bagaimanapun hal semacam itu memang konsekuensi hidup bertetangga, seperti barang wajar jika seseorang menjadi topik diskusi ibu-ibu di lapak berjalan tukang sayur. Sudah biasa, sih, tapi memang nggak menutup kemungkinan masih merasa kesal oleh perilaku ayam yang kadang kelewat nganyeli, alias tidak sepenuhnya kebal dengan perilaku bebal ayam, walau sejak lahir hingga sekarang saya sudah menjalani kehidupan bertetangga semacam ini.

Saya sendiri mungkin masih diberi kesabaran yang cukup untuk menghadapi ini semua. Pasalnya, tak jarang kadang orang saking kesalnya, tanpa tedeng aling-aling menangkap ayam-ayam yang kadung bebal itu, lantas mengolahnya tanpa permisi, wqwqwq. Jangan dicontoh, ya!

BACA JUGA 4 Alasan Usaha Ternak Ayam Sebaiknya Jangan Dilakukan atau tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Baca Juga:  Hanya Karena Ada yang Makan Daging Anjing, Bukan Berarti Anjing Adalah Hewan Ternak!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.