Fakta: Lingkungan Kita Tidak Suka kepada Orang dengan Gaya Hidup Sehat – Terminal Mojok

Fakta: Lingkungan Kita Tidak Suka kepada Orang dengan Gaya Hidup Sehat

Artikel

Sebagian orang ingin menjaga kesehatan dengan cara menerapkan gaya hidup sehat. Segala pengorbanan dilakukan, mulai dari mengatur pola makan dengan ketat hingga rutin berolahraga. Masalahnya, alih-alih mendapat dukungan penuh dari lingkungan pertemanan atau keluarga, orang yang mencoba menerapkan pola hidup sehat malah mendapat gangguan macam-macam yang ujung-ujungnya jadi menggagalkan usaha hidup sehat itu.

Maklum saja, masih banyak orang menganggap hidup bahagia lebih penting daripada hidup sehat. Dibilangnya, tak apa makan sepuasnya, tidur kurang, olahraga jarang, yang penting uang banyak dan bahagia. Padahal, bagaimana mau bahagia kalau sehat saja tidak punya.

Terserah sih mereka mau berprinsip begitu. Baru jadi masalah ketika mereka jadi intoleran terhadap orang yang mencoba hidup sehat. Miris bila melihat bahwa orang yang hidup tidak sehat selalu menjadi mayoritas dibanding orang dengan pola hidup sehat. Coba tengok kampung kalian masing-masing, orang yang tiap pagi berolahraga pasti bisa dihitung dengan satu tangan.

Saya sendiri pernah mengalaminya. Berikut daftar cobaan yang saya terima ketika berusaha menjalani gaya hidup sehat.

#1 Dapat tuduhan tidak berdasar

Alkisah, setiap pagi saya selalu berolahraga, entah lari kecil, bersepeda, ataupun angkat beban kecil-kecilan. Kebiasaan itu sudah dilakukan sejak 2018, saat saya kelas 3 SMA. Begitu masuk kuliah, kebiasaan olahraga pagi langsung berkurang drastis.

Begitu pandemi menyerang, kebiasaan olahraga pagi saya lanjutkan lagi. Soalnya kuliah dari rumah memang memberi banyak waktu longgar. Di situlah saya mendapat tuduhan dari tetangga dan segelintir teman. Saya dituduh ingin pindah ke sekolah kedinasan atau mau daftar TNI/Polri. Setiap pagi saya selalu mendengar celotehan tetangga seperti ini, “Tumben olahraga, mau daftar polisi ya?”

#2 Ditawari makanan tak sehat secara berlebihan dan tidak tahu waktu

Biasanya pelakunya adalah keluarga sendiri yang kurang memahami pola hidup sehat. Kerap kali sudah jam 10 malam lebih, di mana sudah waktunya berhenti makan, eh keluarga malah mengajak makan bakmi Jawa. Akhirnya dilema. Mau menolah kok tidak enak, mau menerima kok melanggar pola hidup sehat. Pernah sekali saya menolak ajakan itu, langsung deh muncul lontaran, “Emangnya kamu masih mau daftar kedinasan, kok jaga pola makan segala?” Hmmm, lagi-lagi pernyataan itu.

#3 Dianggap cupu

Ketika nongkrong bersama teman, saya jadi dianggap cupu karena pulang lebih dulu alias di bawah jam 10 malam. Bagi kaum muda, begadang memang kultur turun-temurun. Tengok tongkrongan di Jogja pada dini hari, pasti masih banyak anak muda yang nongkrong. Banyak anak muda beranggapan hidup sehat tak perlu dilakukan ketika masih muda karena mereka belum sakit-sakitan.

Jadilah kalau ada salah satu teman pulang duluan, akan datang celaan berbalut candaan seperti, “Wah, sekarang ansos, cupu, pulang duluan” atau “Mau daftar tentara ya, kok jam segini sudah pulang”. Hadeeeh, kenapa dianggap daftar tentara terus coba.

Saya berharap orang lebih sadar gaya hidup sehat tuh bukan cuma buat anak sekolah kedinasan, calon tentara atau polisi, atau khusus untuk orang tua yang udah sakit-sakitan. Terdengar lawas memang, tapi kalimat “mencegah lebih baik daripada mengobati” masih terbukti benar lho.

BACA JUGA Beberapa Kebiasaan “Hidup Bersih” yang Ternyata Buruk Bagi Kesehatan dan tulisan Rofi’i Zuhdi Kurniawan lainnya.

Baca Juga:  Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.