Saya punya teori soal motor matic yang sampai hari ini belum bisa dibantah.
Jadi, motor matic ada bukan untuk memudahkan orang bepergian. Fungsi itu memang ada, tetapi cuma bonus.
Tujuan utamanya adalah memastikan pemiliknya tetap menjalin hubungan baik dengan bengkel langganan. Kalau hubungan antarmanusia terjaga lewat reuni atau arisan, hubungan pemilik motor matic dengan montir terbangun lewat suara-suara aneh yang muncul tanpa permisi.
Saya percaya teori ini setelah bertahun-tahun memelihara motor matic. Anehnya, setiap merasa motor sedang sehat-sehatnya, justru di situlah masalah baru muncul.
Rasanya seperti tubuh manusia yang habis check-up. Eh, besoknya malah masuk angin.
Lucunya lagi, suara aneh itu selalu datang di waktu yang sangat strategis. Tidak pernah muncul saat tanggal 28 ketika isi rekening tinggal recehan. Masalah itu selalu muncul beberapa hari setelah gajian, setelah THR cair, atau setelah saya merasa cukup percaya diri membuka aplikasi mobile banking tanpa rasa waswas.
Saya mulai curiga motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening
Begitu uang masuk, dia langsung berbisik pelan.
“Ketoke roller wis wayah e diganti lik.”
Kalau bukan roller, ya v-belt. Bukan v-belt, kampas rem. Ketika semuanya masih bagus, pasti aki tiba-tiba mengundurkan diri secara terhormat. Pokoknya selalu ada cara agar saya kembali mampir ke bengkel.
Yang lebih hebat lagi, motor matic selalu berhasil membuat pemiliknya berubah profesi menjadi ahli forensik suara.
Orang lain mendengar suara “krek” lalu menganggapnya angin. Pemilik motor matic mendengar suara yang sama lalu langsung panik.
“Wah, iki ketoke CVTne.” Padahal yo belum tentu, bisa jadi cuma gantungan kunci yang membentur bodi.
Tapi begitulah hidup kami. Sedikit bunyi saja, pikiran langsung berkelana ke tagihan ratusan ribu rupiah.
Saya bahkan punya kebiasaan yang menurut saya cukup memalukan. Setiap muncul suara baru, volume musik di helm otomatis saya kecilkan. Seolah-olah motor akan memanfaatkan suasana yang lebih hening untuk menjelaskan penyakitnya.
Kalau bunyinya masih terdengar setelah lagu dimatikan, saya mulai membuka YouTube.
Pencarian saya selalu mirip.
“Suara cek-cek motor matic saat gas awal.”
Setelah menonton lima video dari lima montir berbeda, hasilnya justru membuat saya tambah bingung. Yang satu bilang roller. Yang lain bilang laher. Ada yang menyuruh ganti kampas kopling. Ada juga yang menyimpulkan semua itu terjadi karena saya jarang mencuci motor. Oh kurang ajar.
Akhirnya saya tetap datang ke bengkel. Artinya teman-teman, YouTube tidak menyelesaikan masalah. Dia hanya memberi saya bekal agar bisa sok paham di depan montir.
“Mas, ini kayaknya roller ya?”
Montir hanya tersenyum tipis. Senyum yang menurut saya artinya, “Silakan bicara sesukamu, nanti juga saya yang bongkar.”
Hati-hati dengan omongan montir
Kemudian begini, menurut pengamatan saya ada satu kalimat yang sampai sekarang paling sakti di dunia permotoran.
“Masih aman, Mas”
Kalimat itu diucapkan hampir semua montir. Saya sampai curiga itu adalah sumpah profesi yang harus mereka hafalkan sebelum lulus.
Masalahnya, kata “aman” itu terlalu luas kalau soal motor matic.
Aman sampai rumah? Atau aman sampai akhir bulan?. Ternyata, aman menurut montir tidak selalu sama dengan aman menurut isi dompet saya.
Kalau aman adalah mantra sakti, ada lagi mantra yang sifatnya sangat berbahaya, yaitu “sekalian”. Kapok kowe!
Contoh penggunaanya begini; “Nah, sekalian ini diganti ya, Mas.”
Kalau sudah mendengar kata itu, saya tahu pengeluaran hari itu akan berkembang biak.
Awalnya cuma niat ganti oli, pulang-pulang roller ikut pensiun, V-belt ikut pamit, filter udara minta diganti, dan si busi merasa tidak enak kalau tidak ikut resign berjamaah.
Saya pernah datang ke bengkel dengan uang yang menurut saya cukup banyak. Keluar dari sana, saya mendadak menghitung apakah makan siang hari itu lebih baik pakai mie instan atau cukup kopi sachet.
Ironisnya, semua itu tidak pernah membuat saya kapok merawat motor matic.
Besoknya, motor matic tetap saya pakai lagi, lusa juga begitu. Bahkan kalau ada teman bertanya apakah motor matic enak, saya tetap menjawab dengan enteng, “Enak, irit lagi.”
Jawaban itu sebenarnya tidak bohong, yang irit memang bensinnya. Tapi, hubungan dengan bengkel jelas tidak.
Motor matic itu udah kayak kekasih
Begini, saya kadang iri melihat teman yang punya motor tua berkopling. Motornya sudah belasan tahun, tetapi masih santai dipakai ke mana-mana. Sementara motor matic yang usianya jauh lebih muda kadang sudah mulai batuk-batuk seperti bapak-bapak yang nekat minum es setelah begadang semalaman.
Pada akhirnya saya sadar bahwa hubungan saya dengan motor matic sudah naik level. Kami bukan lagi sekedar pemilik dan kendaraan.
Kami bagaikan sepasang kekasih yang sudah terlalu lama bersama. Saya hafal kebiasaannya, dia hafal kapan saya sedang punya uang. Saya tahu kapan dia mulai minta perhatian, dia tahu kapan saya tidak mungkin tega membiarkannya mogok di tengah jalan.
Jadi kalau suatu hari Anda melihat saya duduk di ruang tunggu bengkel sambil menyeruput kopi gratis, dan menatap motor yang sedang dibongkar, jangan mengira saya sedang sial.
Bisa jadi saya hanya sedang menjaga silaturahmi. Sebab setelah sekian tahun menjadi pemilik motor matic, saya akhirnya paham bahwa yang paling awet dari kendaraan ini bukan oli, bukan roller, bukan v-belt, melainkan hubungan antara pemilik dan bengkel langganannya.
Penulis: Faiz Al Ghiffary
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












