Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

Arsyindah Farhan oleh Arsyindah Farhan
11 Juli 2026
A A
3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau Jaklingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu Mojok.co

3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau Jaklingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu belakangan santer terdengar kabar kalau JakLingko akan berbayar. Wacana tarif barunya memang masih lebih murah dibandingkan angkot biasa. Berdasarkan berbagai pemberitaan, rencana tarifnya adalah Rp2.000. Sedangkan angkot biasa di Jakarta, tarif dengan jarak dekat untuk usia dewasa mencapai Rp4.000.

Akan tetapi, sebagai warga Jakarta yang nggak mau rugi, saya mengharapkan kenaikan tarif JakLingko nanti beriringan dengan perbaikan kekurangannya. Supaya, saya membayarnya dengan senang hati dan nggak beralih pakai transum lain.

Apabila ke depannya benar berbayar, saya akan cukup ikhlas untuk membayar tarifnya, asalkan 3 kekurangan JakLingko ini diperbaiki.

#1 Kelakuan menyebalkan sopir JakLingko itu bukan cuma suka ugal-ugalan di jalan, tapi juga nggak menghargai penumpang

Bicara soal ugal-ugalan di jalan, baik angkot biasa maupun JakLingko, ternyata sama. Sopirnya sama-sama suka mengebut. Tapi, kalau bicara soal perlakuan kepada penumpang, sopir angkot biasa sering terlihat lebih menghargai. Apalagi, sekarang angkot biasa sepi penumpang karena kalah saing dengan JakLingko.

Sopir angkot biasa mau memberikan informasi soal rute secara sukarela kepada penumpang yang kebingungan. Kalau sopir JakLingko, belum tentu. Saya pernah bertanya soal rute kepada sopir Jaklingko. Padahal sepi, karena penumpangnya hanya saya sendiri. Tapi, si sopir menjawab dengan ogah-ogahan. Saya sampai harus beberapa kali mengulang pertanyaan.

Selain itu, bukan cuma sekali dua kali saya mendapati sopir JakLingko berwajah jutek. Mereka seperti nggak peduli dengan penumpang. Mengucapkan terima kasih kepada sopir saat turun JakLingko, sudah menjadi etika dasar bagi penumpang. Tapi, banyak supir yang diam tanpa ekspresi saat mendengarnya.

Banyak pula sopir JakLingko yang nggak berhenti di halte, padahal kursi masih kosong dan ada penumpang yang menunggu. Kalau yang menunggu nggak sadar, banyak sopir yang langsung tancap gas. Tapi, masih ada juga sopir baik yang mau klakson dulu agar kita notice kedatangan mereka.

Baru beberapa hari lalu, saya naik JakLingko yang sopirnya mengizinkan penumpang naik tanpa tap kartu. Nggak heran karena penumpang tersebut adalah kenalannya. Saat itu saya duduk dekat mesin tap. Otomatis penumpang yang mau tap kartu, bakal minta tolong kepada saya. Tapi, penumpang itu nggak kunjung memberikan kartunya untuk ditap. Ternyata, dalam dunia per-JakLingko-an saja ada tindakan nepotismenya.

Baca Juga:

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

#2 Mesin tap yang terkendala membuat penumpang kesulitan

Setelah melakukan tap in, kartu yang sama baru bisa tap out sekitar 1-2 menit kemudian. Hal ini bikin penumpang yang tujuannya relatif dekat, kerepotan. Akhirnya, banyak yang nggak sempat tap out kartu, karena sudah waktunya mereka turun. Hal begini harus ada solusinya, apalagi kalau nanti berbayar.

Akan semakin rumit kalau misal tarifnya dibuat berdasar jarak tempuh. Penumpang harus tap out di tempat turun, sedangkan tap sebelum turun dari mobil itu menyulitkan. Bakal lama, bahkan bisa aja bikin macet, karena sopir harus menunggu penumpang selesai tap dan turun untuk bisa jalan kembali.

Mesin tap eror juga beberapa kali saya temui. Saya pernah naik JakLingko yang mesin tapnya mati. Penumpang naik, semuanya bingung saat mau tap kartu. Tapi, sopirnya cuek saja. Nggak ada omongan apa-apa soal rusaknya mesin tap. Malah, salah satu penumpang mengusulkan untuk menunjukkan kartu ke CCTV Jaklingko sebagai bukti.

Masalah lain yang melibatkan mesin tap adalah kartu penumpang entah mengapa nggak bisa terbaca. Padahal, di mobil JakLingko sebelumnya masih bisa. Beberapa kali saya menemui penumpang dengan masalah tersebut. Akhirnya, saya yang bantu tap dengan kartu milik saya. Membantu seperti itu juga saya tiru dari penumpang lain.

#3 Kursi prioritas ada, tapi fungsinya sama aja dengan kursi lainnya

Bangku depan di samping sopir itu untuk golongan prioritas, tapi hal ini seolah nggak berlaku. Siapa aja boleh duduk di sana. Wajar kalau bangku tersebut menjadi satu-satunya kursi kosong, lalu ada penumpang yang bukan golongan prioritas mau naik. Kenyataannya kursi belakang masih ada space, tapi penumpang yang bukan termasuk prioritas malah pilih duduk di depan. Lagi-lagi, sopir diam aja.

Lebih menyebalkan, ketika bangku prioritas diisi oleh kenalannya sopir. Nggak separah angkot biasa yang seringnya ditempati oleh istri dan anaknya si sopir, tapi yang namanya nepotisme itu selalu menyebalkan. Apalagi, penumpang JakLingko itu sama-sama dibayari oleh pajak.

Keberadaan JakLingko memudahkan untuk bepergian di wilayah Jakarta. Apalagi, saat ini gratis. Cuma butuh kartu uang elektronik untuk tap. Kalau jadi berbayar, selama tarifnya masih sekitar Rp2.000, masih oke. Tapi kalau nggak ada peningkatan kualitas, huh mau naik Jaklingko atau angkot biasa akan sama aja. Apalagi, angkot biasa bisa cash dan nggak ribet tap kartu.

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Nihilnya Posisi Ideal Mesin Tap JakLingko Justru Melestarikan Budaya Tolong Menolong Warga Jakarta.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh

Tags: AngkotJakartajaklingkotarif jaklingkotransportasi publik
Arsyindah Farhan

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.

ArtikelTerkait

Wonogiri dan Gunungkidul, Saudara Kembar Beda Nasib

Wonogiri, Tempat Terbaik untuk Hidup, Tempat yang Tepat untuk Lari dari Kecemasan

16 Juli 2023
Nasib Sopir Angkot di Kampung: Penumpang Sepi karena Beralih ke Motor Pribadi, Cari Kerja Lain pun Tak Semudah Bayangan

Nasib Sopir Angkot di Kampung: Penumpang Sepi karena Beralih ke Motor Pribadi, Cari Kerja Lain pun Tak Semudah Bayangan

15 Mei 2024
Buaran Plaza, Mal Mungil di Jakarta Timur yang Jadi Andalan Warga Mojok.co

Buaran Plaza, Mal Mungil di Jakarta Timur yang Jadi Andalan Warga

10 November 2025
Taman Mini Jakarta Timur Tempat Olahraga Terbaik di Jakarta (Foto milik penulis)

Taman Mini di Jakarta Timur Adalah Tempat Olahraga Terbaik di Jakarta, Ini 5 Alasannya

10 April 2025
Monas dan Tikungannya Tempat Terbaik di Jakarta untuk Pacaran (Unsplash)

Tikungan Monas: Tempat Pacaran Terbaik di Jakarta. Memorable dan Bikin Kamu Merasa Dekat Sama Istana

23 Juli 2023
Inilah Wajah Asli Citayam, Daerah yang Sedang Jadi Sorotan Seantero Indonesia

Inilah Wajah Asli Citayam, Daerah yang Sedang Jadi Sorotan Seantero Indonesia

26 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026
5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal, salah satunya bikin malu saja

11 Juli 2026
Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Nasib Alumni Universitas Trunojoyo Madura: Balik ke Rumah Menanggung Ekspektasi Orang Sekampung, Merantau Malah Jadi Insecure

7 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026
Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

5 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.