Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Malang Memang Sekarang Panas, tapi Tetap Lebih Nyaman daripada Merantau di Surabaya 

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
8 Juli 2026
A A
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” (uns

Share on FacebookShare on Twitter

Malang yang sekarang mungkin memang tidak sedingin dulu. Tapi dibanding Surabaya, panasnya Ngalam jadi terasa lucu

Beberapa waktu lalu, sebuah tulisan di Terminal Mojok sukses membuat saya mengelus dada. Penulisnya dengan sangat melankolis meratapi nasib Malang Raya yang katanya sekarang sudah kehilangan jati diri berubah jadi kota yang panas, sumuk, dan penuh polusi.

ADVERTISEMENT

Jujur ya, membaca tulisan itu seperti melihat cermin masa lalu saya sendiri. Dulu, waktu masih tinggal di Malang, saya adalah tipe orang yang hobi banget mengeluhkan hal yang sama, “Aduh, Malang sekarang kok nggak kayak dulu ya? Malang kok makin panas ya?”

Namun, roda nasib itu berputar dengan kejam, kawan. Setelah lulus dan harus merantau demi sesuap nasi, takdir menuntun saya menyeberang ke arah utara lalu menetap di Surabaya. Dan di sinilah momen spiritual itu terjadi. Hanya butuh waktu beberapa bulan tinggal di Surabaya untuk membuat saya tobat. Serta, menyesali semua keluhan masa lalu saya tentang Malang.

Sini, Mbak Dhivia yang sedang bersedih, geser dikit ke Surabaya, yuk. Rasakan bagaimana rasanya napas megap-megap begitu keluar dari kamar kos. Setelah itu, Anda pasti akan langsung pulang ke Malang, sujud syukur di depan stasiun Kotabaru, dan meminta maaf kepada semesta karena sudah terlanjur kufur nikmat.

Demi apa pun, sepanas-panasnya Malang dan Batu hari ini, kota itu masih tergolong takdir yang adem ayem jika dibandingkan dengan Surabaya. Mengeluhkan Malang itu panas adalah sebuah kemewahan yang bikin kaum komuter Surabaya cuma bisa tersenyum kecut. Sebab dibanding Kota Surabaya, suhu Malang saat ini bisa dikatakan anget doang.

Mari kita bedah secara objektif. Kenapa warga Malang sebenarnya sedang berada di fase first world problem alias hobi mencari-cari alasan untuk mengeluh.

Pertama, soal hak asasi melihat pemandangan di Malang

Di Malang, sepadat dan semacet apa pun jalannya, Anda setidaknya masih bisa melihat siluet Gunung Arjuno, Welirang, atau Panderman meski kadang ketutup separo oleh kabut. Anak kos di Malang, bahkan yang bayar kosan murah sekalipun, asal kosannya ada akses ke rooftop, mereka masih bisa healing gratis melihat yang hijau-hijau sambil melamun sore hari.

Baca Juga:

Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera karena Potensi Wisata Kota Ini Begitu Besar tapi Terbentur Tembok Birokrasi

Layanan Perpustakaan Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman

Lah, kalau di Surabaya? Boro-boro mau lihat gunung. Bisa melihat langit cerah yang biru bersih tanpa ketutup polusi udara dan kepulan asap industri saja itu sudah sebuah keberuntungan tingkat dewa yang patut dirayakan dengan tumpengan. Pemandangan dari rooftop kosan murah di Surabaya itu kalau nggak jemuran tetangga yang belum kering, ya genteng seng milik pabrik yang memantulkan panas matahari langsung ke muka Anda. Estetik dari mana?

Kedua, ritual suci bernama “ngopi”

Kultur ngopi di Malang itu nikmatnya berlipat ganda karena disubsidi langsung oleh alam. Anda bisa duduk di cafe rooftop daerah Dau, Sudimoro, atau jalanan kota, memesan kopi susu seharga belasan ribu, dan langsung disuguhi view gunung serta angin sepoi-sepoi yang bikin mager.

Coba bandingkan dengan Surabaya. Di Surabaya, kalau Anda mau ngopi sambil menikmati pemandangan pohon rindang dan rumput hijau, harga kopinya langsung naik drastis, Bro!

Anda harus bayar mahal untuk membeli kemewahan ruang hijau di kafe-kafe estetik daerah barat atau timur. Di Malang hijau itu gratis, di Surabaya hijau itu ada tarifnya.

Ketiga, perihal harga diri air

Sesumuk-sumuknya kota Malang di siang bolong, air di sana itu tetap punya harga diri. Begitu Anda masuk kamar mandi dan memutar keran, air yang keluar tetap dingin, segar, murni terasa dari pegunungan. Mandi sore di Malang itu masih bisa bikin badan menggigil segar.

Sementara di Surabaya, jangankan siang hari, mandi jam 12 malam pun airnya kadang masih hangat kuku seperti air rebusan mi instan karena tandonnya seharian dijemur di atas atap tanpa ampun. Mandi di Surabaya itu bukan bikin segar, tapi bikin Anda merasa seperti sedang di dalam panci presto. Anget, ala sauna gratis versi tiap hari.

Terakhir, soal jalanan dan kemacetan Malang dan Surabaya

Di mana-mana, yang namanya macet itu memang bikin kesal dan memicu darah tinggi. Tapi, mari kita lihat vibes-nya. Di Malang, kemacetan itu setidaknya masih dinaungi oleh pohon-pohon peneduh yang rindang di sepanjang jalan. Kalau Anda lagi pengen vibing naik motor pelan-pelan sambil menikmati suasana kota yang asri, Anda nggak akan tiba-tiba dihujat massa lewat suara klakson, asal ya nggak jalan di lajur tengah juga.

Coba terapkan kelakuan menikmati suasana jalanan itu di Ahmad Yani atau Margorejo Surabaya. Anda jalan dengan kecepatan 40 km/jam di lajur tengah, dalam hitungan detik Anda akan langsung dihujani konser klakson dari pengendara di belakang yang bunyinya sudah kayak genderang perang.

Kehidupan di Surabaya itu serba cepat, agresif, dan penuh tekanan. Jarak antara klakson dan baku hantam itu setipis tisu dibagi dua.

Jadi, untuk warga Malang, dari saya, seorang mantan pengeluh yang sekarang sudah bertobat di tanah rantau, kurang-kurangilah meratapi kota kalian seolah-olah sudah berubah jadi Gurun Sahara. Malang yang sekarang mungkin memang tidak sedingin dekade 90-an karena konsekuensi logis dari sebuah kota yang berkembang.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Seandainya Stasiun Cikarang Nggak Pernah Ada, Ini yang Akan Terjadi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: Malangsuhu di malangsuhu di surabayaSurabaya
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

Nyatanya, Malang Benar-benar Indah tangerang UM

Nyatanya, Malang Benar-benar Indah

19 Oktober 2023
5 Alasan yang Membuat Saya Nggak Menyesal Kuliah di Malang  Mojok.co wisata di malang surabaya

Malang Memang “Surga” bagi Warga Surabaya, tapi Jangan Kaget dengan Lalu Lintasnya

2 Desember 2024
Ribetnya Jadi Warga Sawojajar 2 Malang yang Serba Nanggung terminal mojok

Ribetnya Jadi Warga Sawojajar 2 Malang yang Serba Nanggung

24 Mei 2021
Surabaya Memang Kekurangan Tempat Wisata, tapi Tidak Pernah Kekurangan Warkop

Surabaya Memang Kekurangan Tempat Wisata, tapi Tidak Pernah Kekurangan Warkop

5 Juli 2024
Nasi Goreng di Surabaya Salah Konsep Sejak Awal karena Pakai Topping Irisan Telur Rebus

Nasi Goreng di Surabaya Salah Konsep Sejak Awal karena Pakai Topping Irisan Telur Rebus

11 September 2025
Kisah Saya Gagal SNMPTN, tapi Sukses via Jalur SBMPTN (Unsplash)

Gagal SNMPTN Bukan Akhir Dunia. Saya “Membalas” Kegagalan Itu Lewat Jalur SBMPTN dan Sukses Lulus Sebagai Mahasiswa Berprestasi

14 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

5 Juli 2026
Ketika Americano Dianggap Maskulin Lebih dari Es Kopi Susu (Unsplash)

Ketika Americano Dianggap Lebih Maskulin ketimbang Es Kopi Susu

6 Juli 2026
Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup Terminal

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup 

4 Juli 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

8 Juli 2026
Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

4 Juli 2026
Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.