Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

Wahyu Tri Utami oleh Wahyu Tri Utami
4 Juli 2026
A A
Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, katanya Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Tapi sekarang, saya rasa kalimat tersebut sudah harus direvisi menjadi rindu, pulang dan coffee shop.

Mau belok ke gang kecil, ada coffee shop. Lewat jalan alternatif, ada coffee shop. Bahkan ketika berniat mencari warung makan biasa, sering kali yang muncul lebih dulu justru papan nama bertuliskan “coffee, brunch, and space”.

Konon jumlah coffee shop di Jogja sudah mencapai sekitar 3.500. Saya memang belum pernah menghitungnya satu per satu—dan sepertinya tidak ada yang cukup gabut untuk melakukannya, tetapi angka itu sama sekali tidak terdengar berlebihan. Rasanya hampir setiap berjalan dalam radius sekitar 100 meter, selalu ada setidaknya satu kedai kopi yang bisa disinggahi.

Fenomena ini sebenarnya menarik. Jogja memang kota mahasiswa. Budaya nongkrongnya kuat dan kopi sudah lama menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak heran kalau bisnis coffee shop tumbuh begitu subur.

Masalahnya, ketika jumlahnya sudah terlalu banyak, saya mulai bertanya-tanya: memang masih perlu sebanyak itu?

Tiap waktu, ada satu coffee shop baru

Hampir setiap bulan saya melihat unggahan pembukaan coffee shop baru di Jogja. Interiornya estetik, logonya minimalis, menunya dibuat seunik mungkin. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula kabar tentang kedai yang mulai sepi, berpindah tangan, atau akhirnya tutup permanen.

Seolah-olah sekarang berlaku hukum baru di Jogja: mati satu, tumbuh seribu.

Persaingan akhirnya bukan lagi soal siapa yang membuat kopi paling enak, tetapi siapa yang paling mampu bertahan.

Baca Juga:

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

Bahkan, sebagai pelanggan, saya mulai merasa menu es kopi susu sudah tidak lagi memberi sensasi “wah”. Hampir semua kedai menawarkan versi mereka masing-masing, tetapi rasanya sering kali mirip. Perbedaannya kadang hanya tingkat manis, jenis gula, atau desain gelasnya.

Lucunya lagi, setelah banyak bereksperimen membuat kopi sendiri di rumah, saya sadar beberapa rasa itu ternyata bisa direplikasi menggunakan bahan-bahan yang dijual di minimarket. Memang tidak akan identik seratus persen, tetapi cukup untuk memuaskan keinginan ngopi tanpa harus keluar uang puluhan ribu rupiah.

Oleh karena itu, saya mulai berpikir bahwa mungkin Jogja sudah tidak terlalu membutuhkan tambahan coffee shop sebanyak sekarang. Yang lebih dibutuhkan justru ruang terbuka hijau.

BACA JUGA: Sisi Gelap Kedai Kopi Jogja: Ganti Barista Tiap 3 Bulan demi Cuan

Jogja butuh ruang terbuka hijau, jauh lebih berfaedah

Bayangkan kalau setiap kecamatan memiliki taman yang benar-benar nyaman. Bukan sekadar hamparan rumput dengan dua bangku yang catnya mengelupas, tetapi ruang publik yang teduh, bersih, aman, dan memang dirancang untuk dipakai warga.

Tempat di mana orang bisa menggelar tikar untuk piknik kecil bersama keluarga, mahasiswa membaca buku tanpa harus membeli segelas kopi sebagai “tiket masuk” untuk duduk berjam-jam, dan para pekerja datang setelah jam kantor hanya untuk menikmati angin sore.

Atau bahkan tempat yang melegalkan satu aktivitas yang sekarang mulai terasa mewah: bengong.

Tidak semua waktu luang harus dihabiskan sambil memegang gelas kopi atau duduk di ruangan berpendingin udara. Kadang seseorang hanya ingin duduk di bawah pohon, mendengar suara burung, melihat anak-anak berlarian, lalu pulang dengan pikiran yang sedikit lebih ringan.

Ironisnya, untuk melakukan hal sesederhana itu di Jogja justru lebih sulit daripada cari coffee shop yang terjangkau.

Ruang terbuka hijau bukan sekadar estetika

Padahal ruang terbuka hijau bukan cuma soal estetika kota. Kehadirannya bisa menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang dari berbagai latar belakang tanpa ada kewajiban membeli apa pun.

Kalau dikelola dengan serius, manfaat ekonominya pun bukan hal yang mustahil. Misalnya, UMKM di sekitar taman bisa ikut menikmati ramainya pengunjung. Penjual makanan, minuman, penyewaan tikar, mainan anak, hingga pelaku seni lokal punya ruang untuk berkembang tanpa harus menyewa ruko atau membuka coffee shop baru.

Tentu saya tidak sedang mengajak orang berhenti membuka usaha coffee shop. Bisnis kopi tetap punya tempatnya sendiri, apalagi Jogja memang memiliki budaya ngopi yang kuat.

Hanya saja, mungkin sekarang kita sudah berada di titik ketika keseimbangannya perlu dipikirkan. Sebab kota yang nyaman bukanlah kota yang menawarkan pilihan latte paling banyak, melainkan kota yang memberi warganya ruang untuk bernapas.

Kalau setiap lahan kosong terus berubah menjadi coffee shop, lama-lama kita memang tidak akan pernah kehabisan tempat untuk memesan es kopi susu. Yang habis justru kesempatan menikmati kota tanpa harus menjadi konsumen terlebih dahulu.

Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Coffee Shop di Jogja, Benarkah Jadi Ruang Pamer Fashion yang Mengintimidasi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2026 oleh

Tags: coffee shop di JogjaJogjaruang terbuka hijau di Jogja
Wahyu Tri Utami

Wahyu Tri Utami

Pembaca buku, penonton film, penulis konten. Sesekali jadi penyelam andal (di internet, bukan di air).

ArtikelTerkait

Buat Mahasiswa Baru yang Keterima Kuliah di Jogja, Jangan Cari Kos di Jogja Dekat Kampus, Hidup Kalian Bakal Menderita!

Buat Mahasiswa Baru yang Keterima Kuliah di Jogja, Jangan Cari Kos Dekat Kampus, Hidup Kalian Bakal Menderita!

30 Mei 2025
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co sumatera

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

20 Juni 2026
Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik tamansari

Prabu Yudianto Menceritakan Dukanya Saat Tinggal di Tamansari Jogja: Bisa Diusir Kapan Saja

10 April 2023
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
Sebagai Warga Kota Jogja, Saya Iri dengan Orang-orang yang Tinggal di Kecamatan Depok Sleman Mojok.co

Sebagai Warga Kota Jogja, Saya Paling Iri dengan Orang-orang yang Tinggal di Kecamatan Depok Sleman

24 Juli 2024
Jogja, Kota Pelajar yang Tak Belajar dari Kesalahan Jakarta

Jogja, Kota Pelajar yang Tak Belajar dari Kesalahan Jakarta

19 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

12 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Ketahuilah, masalah KPR rumah bukan hanya soal bayar, tapi masih ada 5 masalah yang bakal bikin kamu stres

13 Agustus 2026
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak Mojok.co

Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak

13 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.