Hampir semua orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Jarang ada orang tua yang setengah-setengah kalau demi buah hati mereka. Terutama yang saya maksud terkait pendidikannya. Segala upaya pasti dilakukan orang tua supaya anak mereka mendapatkan lingkungan pendidikan yang layak dan berkualitas. Umumnya, daripada sekolah negeri, sekolah atau pendidikan swasta menjadi harapan banyak orang tua.
Akan tetapi, tidak semua bisa sesuai dengan harapan, masalah ekonomi sering mengharuskan orang tua mencari alternatif lain. Akhirnya, solusi yang paling tepat, memilih sekolah negeri saja. Sebab katanya, selain murah, kualitasnya masih dianggap aman. Tapi, ketahuilah itu hanya anggapan belaka, nyatanya bersekolah di negeri tetap membutuhkan dana yang tidak sedikit. Banyak biaya lain yang akhirnya bikin wali murid pusing.
Siswa wajib ikut les guru di sekolah negeri
Saya tidak tahu apakah masalah ini menjadi masalah nasional atau tidak, tetapi hampir sekolah negeri di kabupaten saya terdapat masalah ini. Beberapa guru mata pelajaran di sekolah negeri mewajibkan siswanya untuk ikut les di rumahnya. Ya, bahasanya tidak wajib sih, tapi jika tidak ikut maka si siswa akan merasakan ketidakadilan.
Ketidakadilannya yang dimaksud dari sisi nilai. Sering kali, siswa yang mengikuti les tambahan dari gurunya akan diberi kisi-kisi ujian. Sementara yang tidak ikut les tidak diberi kisi-kisi tersebut. Ya, tentu saja siswa yang tidak ikut akan sangat sulit mendapatkan nilai bagus. Aneh ya, kok bisa guru membiasakan siswa dengan perilaku seperti itu.
Saran saya pada kepala sekolah, keluarkan saja guru yang punya sifat demikian. Itu mengajarkan korupsi kecil-kecilan pada murid-murid sekolah.
Biayanya les pun tidak sedikit, bisa sampai ratusan ribu. Itu satu mata pelajaran (mapel). Bagaimana kalau setiap mapel gurunya bikin les-lesan, bisa-bisa nyampe jutaan per bulan.
Baca juga Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang.
Komite orang tua banyak proyekan yang butuh uang
Dulu, saya mengira ketika kita masuk sekolah negeri, maka semua fasilitas sudah dijamin oleh pemerintah. Sehingga, tidak ada kewajiban lain yang akhirnya akan menyusahkan orang tua saya. Ternyata, anggapan itu salah. Tidak semua sekolah negeri demikian. Teman saya yang bersekolah di SMA negeri favorit di kabupaten saya merasakan hal yang sebaliknya.
Kata teman saya, komite orang tua di sekolah negeri tidak cuma jadi tempat berkumpulnya orang tua. Sering kali, para orang tua memunculkan inisiatif yang berlebihan sampai mengharuskan mereka mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Misalnya, kata teman saya, dulu orang tuanya sempat sumbangan untuk membelikan kipas untuk ruang kelas anaknya. Haduh!
Nah, saya kira itu hanya terjadi di tingkat SMA saja. Ternyata tidak, Gaes. Salah satu rekan kerja saya yang anaknya masih SD juga bilang demikian. Para orang tua mau diajak sumbangan untuk membelikan pendingin ruangan (AC) di ruang kelas anak-anaknya. Gila kan!
Kemudian, ketika siswa naik kelas, salah satu orang tua sering kali berinisiatif mengajak wali murid yang lain untuk memberikan hadiah yang heboh untuk wali kelasnya. Ini sebetulnya tidak masalah selagi tidak jadi keharusan. Lha, ini meski tidak wajib, pas nggak bawa malah jadi omongan.
Ya, itulah sisi tersembunyi dari sekolah negeri di Indonesia, Gaes. Terutama sekolah negeri yang kalian anggap favorit itu. Jadi, jangan terlalu percaya deh ya sekolah negeri favorit itu bener-bener gratis.
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













