Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
29 Juni 2026
A A
Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu

Pekerjaan Apa pun Itu, Dekat dengan Kematian, dan Kita Tidak Perlu Menambah dengan Risiko yang Tak Perlu (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya perlu ingatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian: kita tidak pernah sadar bahwa pekerjaan kita—seringan apa pun—dekat dengan kematian.

Bapak selalu mengingatkan saya bahwa profesinya, sopir, teramat dekat dengan kematian. Dulu saya merasa itu sebuah usaha menakut-nakuti saja. Sebab, beliau ini sopir jenazah. Beliau tidak hanya dekat dengan kematian, beliau mengantarkan kematian. Bedanya, beliau memegang kendali, dan yang diantar tentu pasrah bagaimana ia diantar. Bisa dengan ngebut, bisa santai, sembari diiringi lantunan Pance F Pondaag.

ADVERTISEMENT

Tapi kini saya tak berani mentertawakan hal itu sama sekali. Justru saya pikir, itu nasihat paling nyata darinya. Beliau tidak sedang menakut-nakuti, atau menanamkan rasa bersalah. Beliau sedang memberi tahu apa yang akan saya hadapi di masa depan.

Tentu orang-orang tak akan setuju kalau pekerjaan saya dekat dengan kematian. Sebab, semua masih memandang remeh profesi penulis. Mengulang perkataan kawan saya sekitar 6 tahun yang lalu, “Nulis tok we dibayar.” Kalau perkara dibayar saja mereka seakan tidak terima, apalagi dibilang penuh risiko.

Andai saya bisa cerita bahaya-bahaya yang sudah saya terima, mungkin kalian akan berpikir sebaliknya. Tapi ini bukan tentang saya, melainkan tentang kalian, yang merasa bahwa kematian dan pekerjaan, tak pernah sedekat itu.

BACA JUGA: 6 Pekerjaan yang Punah karena Perkembangan Zaman

Kepala yang besar

Saya punya kawan yang bekerja di dunia tambang. Nama aslinya sebenarnya amat bagus. Tapi karena kepalanya begitu besar, dia dipanggil Cebong. Bahkan ketika badannya kurus setelah diet ekstrem (atau ditinggal pacar, saya tidak tahu), kepalanya masih begitu besar. Entah kenapa, omongannya kadang sebesar ukuran batok kepalanya.

Cebong adalah kawan terbaik saya sewaktu kecil, tapi kalau sudah cerita tentang pekerjaan, saya pikir lebih baik membenturkan kepala ke tembok. Kebanggaannya saya pahami, tapi kalau sudah cerita risiko, dia begitu berapi-api dan entah kenapa, seakan jadi orang paling menderita di dunia. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain mengisap rokok lebih dalam dan mendengus kecil tiap cerita bagaimana beratnya dia bekerja di tambang.

Baca Juga:

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

Tak jarang dia bilang, pekerja kantoran seperti saya tak akan paham betapa mengerikan yang dia hadapi tiap hari. Bagian ini, kerap bikin wajah saya memerah. Tapi tentu saja saya tak memukul Cebong. Pertama, dia kawan kecil saya. Kedua, kepalanya begitu besar. Pasti keras. Pasti.

Setelah dia pergi, saya lalu menggerutu pada Ibu saya betapa kementhus-nya Cebong. Tapi Ibu selalu mengingatkan, emosi saya mungkin muncul karena saya tak benar-benar paham dengan pekerjaan yang dialami Cebong. Juga, Cebong tak paham apa yang saya hadapi tiap hari.

Saya lalu teringat kawan saya, seangkatannya Cebong, yang kerja juga di tambang, meninggal saat menuju tempat kerja. Saya juga teringat kawan-kawan saya yang pulang ke pangkuan Allah lebih dulu saat bekerja. Pada saat itu, saya tersadar: kita tidak pernah benar-benar mengerti akan risiko pekerjaan yang ada di dunia ini.

Sekalipun, pekerjaan itu terlihat aman. Seperti saya, penulis.

Risiko pekerjaan memang ada, tapi…

Baiklah, akhirnya memang tulisan ini kebanyakan tentang saya. Tapi, saya akan cerita agar kalian paham gambaran risiko yang sebenarnya kalian setiap hari alami, tapi tak kalian sadari.

Begini. Tiap awal minggu, saya harus menyusuri 3 kabupaten untuk berangkat ke kantor. Di akhir minggu pun sama. Celakanya, jalur yang saya lewati ini juga jalur utama truk-truk besar pengangkut apa-saja-yang-bisa-diangkut-tapi-besar. Akhir minggu pun begitu, saya lewat jalur yang isinya truk yang sama besarnya.

Jadi, itulah risiko terbesar pekerjaan saya: kecelakaan. Ini juga kalian alami. Kalian mungkin tak sadar kalau kalian berangkat bertaruh nyawa, pulang pun tak ada beda. Kecil kemungkinan saya meninggal saat bekerja, misalnya, karena ketiban genteng atau bagaimana. Di jalan, beda cerita.

Tapi hal ini bisa saya minimalisir. Kalau ngantuk saat perjalanan, minggir dulu. Beli helm yang agak mahal. Motor selalu saya usahakan prima. Tekanan ban aman. Rem berfungsi. Di tempat kerja Cebong, yang terkenal ngeri pun sama. Setahu saya, keamanan kerja di tambang itu benar-benar tak bisa ditawar.

Pekerjaan, apa pun itu, sebenarnya amat dekat dengan kematian. Bapak saya, Cebong, saya, bakul cilok, bahkan penjaga warnet pun sama. Tapi, risiko yang ada menurut saya masih natural. Tidak dibuat-buat, tidak ditambah-tambahi. Saya penulis, harusnya tak perlu saya mencari masalah agar risiko bertambah. Cebong pun sama, risikonya sudah besar, pastilah dia tak ingin atraksi dengan alat berat.

Maka dari itu, saya heran, kenapa ada pekerjaan yang harus ditambahi dengan tetek bengek berbahaya yang tak ada hubungannya sama sekali. Celakanya, pekerjaan tersebut sudah menelan korban, bahkan sebelum pekerja tersebut menjejakkan kakinya di tempat dia bekerja.

Sudah, saya tak mau menjelaskan apa maksud saya.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2026 oleh

Tags: kerja di tambangpekerjaanrisiko pekerjaan
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Opsi Pertanyaan yang Bisa Diajukan kepada HRD oleh Pelamar Kerja setelah Mengikuti Proses Interview terminal mojok

Ketika Batu Loncatan Menjadi Batu Fondasi

9 Agustus 2021
Jadi Penjaga Toilet Mal Nggak Melulu Menyedihkan, Banyak Juga Privilese yang Didapat Mojok.co

Jadi Penjaga Toilet Mal Nggak Melulu Menyedihkan, Banyak Juga Privilese yang Didapat

23 Maret 2024
7 Fitur Gmail Tersembunyi yang Jarang Diketahui Orang Terminal Mojok.co

7 Fitur Gmail Tersembunyi yang Jarang Diketahui Orang

25 Mei 2022
Akbar Faisal Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Pernyataan Akbar Faizal Super Relate bagi Pemuda yang Terus-terusan Dipaksa Jadi PNS

17 Oktober 2021
4 Alasan Seseorang Menanyakan Pekerjaan Orang Lain Saat Ngumpul

4 Hal yang Membuat Bekerja dengan Sistem Kekeluargaan Tidak Selalu Menyenangkan

6 September 2020
4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Jadi PNS atau Orang yang Bekerja di Sektor Pemerintahan Lainnya Mojok.co

4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Kerja Jadi PNS dan Sektor Pemerintahan Lainnya

15 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
Kebodohan konsumen Indomaret yang merusak kenyamanan belanja (Unsplash)

Akulah pelanggan Indomaret yang resah itu gara-gara konsumen nggak ada akhlak yang merusak kenyamanan belanja

17 Juli 2026
Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

18 Juli 2026
Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

19 Juli 2026
Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.