Banyak laki-laki rela menikmati Americano padahal nggak tahan dengan “rasa pahit”. Hanya demi dipandang maskulin ketimbang kalau minum es kopi susu. Mengapa demikian?
Mengutip dari bursakopi.com, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara yang paling banyak memiliki coffee shop. Tercatat ada 416 ribu coffee shop yang tersebar di seluruh tanah air. Dan salah satu varian kopi yang wajib ada adalah Americano.
Minuman ini mendapat banyak stigma. Katanya, Americano adalah lambang penikmat kopi sejati. Semakin pahit, semakin menjelaskan tingkatan penikmat kopi yang bukan abal-abal.
Saya, sebagai penikmat kopi yang masih abal-abal, belum terbiasa dengan rasa Americano. Namun, melihat teman-teman sebaya begitu menggemari kopi ini, saya merasa tertantang. Semua hanya demi menjaga marwah agar terlihat maskulin di tongkrongan. Memesan es kopi susu biasanya coba saya tinggalkan.
Minum Americano demi gengsi laki-laki
Jujur saja, hati saya menolak untuk memesannya. Namun, karena sudah termakan gengsi, tetap saja mulut ini memesan: “Americano satu shot, Mas.”
Saya ini penggemar berat es kopi susu. Selain namanya yang lebih nusantara, ketimbang Americano yang kebarat-baratan, rasanya lebih pas di lidah saya. Perpaduan antara kopi yang pahit dengan creamer susu manis menciptakan rasa yang cocok untuk penikmat kopi level awam.
Masalahnya adalah, tidak semua es kopi susu di coffee shop itu pas di lidah saya. Atau, banyak dari mereka memakaikan istilah yang asing bagi penikmat es kopi susu. Sudah begitu, teman-teman saya pindah ke Americano.
Semua hanya demi gengsi mencoba yang kekinian. Atau, sok-sokan mau sehat dengan hanya minum Americano.
Usaha mencari enaknya Americano
Begitu Americano tersaji di depan mata, lagi-lagi lidah ini menolak. Namun, melihat teman-teman bisa menikmati setiap teguknya, sembari melupakan permasalahan hidup, saya semakin tertantang. Saya menyeruput perlahan, berharap suatu saat akan muncul pencerahan.
Namun, alih-alih menemukan nikmatnya “ngopi”, yang saya dapat justru lambung mulai kembung. Gejala masuk angin yang datang lebih cepat daripada kenikmatan kopinya.
Semakin sering saya nongkrong di coffee shop, semakin saya sadar bahwa memilih kopi ternyata tidak sesederhana memilih minuman. Ada semacam hierarki tidak tertulis yang diam-diam bekerja di meja tongkrongan.
Mereka yang memesan manual brew atau Americano seolah naik satu tingkat menjadi manusia yang lebih matang, tenang menghadapi hidup, dan mungkin lebih memahami ekonomi global. Sementara yang memesan es kopi susu sering ditempatkan sebagai penikmat kopi jalur aman: ingin ngopi, tetapi belum siap menderita.
Lebih kasihan lagi lelaki pecinta matcha yang kerap dikritik dengan sebutan “minuman rumput”. Sudah warnanya terang, bukan varian kopi pula. Di mana letak maskulinitasnya?.
Duka orang yang suka es kopi susu
Sejak kapan preferensi menjadi ukuran maskulinitas? Tidak ada hubungan ilmiah antara kemampuan menahan pahitnya Americano dengan kemampuan mengganti galon, memperbaiki genteng bocor, atau bertanggung jawab atas masa depan keluarga.
Saya mulai curiga. Jangan-jangan, sebagian besar lelaki yang duduk sambil menyeruput Americano dengan wajah penuh kontemplasi itu sebenarnya bernasib sama seperti saya. Lidah ingin es kopi susu, tetapi ego terlalu keras untuk mengakuinya.
Mereka menelan pahit bukan karena suka. Melainkan karena takut kehilangan wibawa di hadapan teman yang sudah hafal istilah roasting, acidity, dan origin biji kopi.
Pada akhirnya saya sadar. Mungkin kedewasaan lelaki di tongkrongan kopi bukan diukur dari seberapa pahit kopi yang sanggup mereka habiskan, melainkan seberapa jujur terhadap selera sendiri.
Sebab tidak ada sertifikat penikmat kopi sejati setelah menghabiskan segelas Americano. Tidak ada pula penghargaan khusus bagi lelaki yang berhasil menahan muka tetap tenang meski lidah dan lambung sudah ingin menyerah.
Kalau memang sukanya es kopi susu, ya pesan saja. Kalau sukanya matcha, ya pesan saja tanpa perlu takut mendapat cap peminum minuman rumput.
Toh tujuan datang ke coffee shop seharusnya untuk menikmati waktu dan minuman. Bukan mengikuti ujian maskulinitas yang bahkan tidak pernah diumumkan panitianya.
Penulis: M. Khoirun Nazmi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Alasan Americano Adalah Pilihan Tepat untuk Orang yang Baru Pertama Kali ke Coffee Shop
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













