Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Ketakutan Tiran pada Secangkir Kopi: Dari Sumber Revolusi Sampai Minuman Satanis

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
18 November 2020
A A
metalhead waiter tiran kopi biji kopi mojok

waiter tiran kopi biji kopi mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tidak berlebihan dalam menulis judul di atas. Dan saya tidak berniat meromantisasi secangkir seduhan biji Coffea sp. berwarna gelap ini. Faktanya, kopi memang pernah sangat ditakuti oleh para tiran.

Mungkin, Anda merasa kopi sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Pagi sebelum kerja, ngopi. Hangout malam, ngopi. Bahkan rapat RT yang berputar-putar itu juga akrab dengan seduhan hitam getir ini. Belum lagi olahan minuman kopi yang memanjakan lidah. Pokoknya kopi itu sedekat nadi bagi banyak orang.

ADVERTISEMENT

Siapa sangka, minuman kopi pernah menjadi momok bagi para penguasa. Kopi dipandang sebagai “bahan bakar pembangkangan” yang membahayakan posisi para penguasa ini. Tidak main-main, kopi pernah dilarang dikonsumsi bahkan dicap sebagai minuman satanis! Saya pikir hanya darah kambing saja yang dipandang minuman pemuja setan.

Perjalanan kebencian tiran pada kopi meliputi dua benua: Asia dan Eropa. Setidaknya itu yang tercatat. Mari kita mulai napak tilas kebencian kepada kopi di Asia Barat. Tepatnya di Timur Tengah.

Pada awal abad ke-16, minuman kopi begitu akrab dengan sufi. Sebelumnya, budaya minum kopi dibawa dari Etiopia dan Yaman. Ada kedekatan khusus antara sufi dengan kopi. Dan kedekatan ini tidak hanya sekadar “kopi itu tanpa gula” seperti para pendekar kopi yang berkeliaran di kedai kopi.

Sufi terbiasa untuk minum kopi agar selalu terjaga saat berdoa dan prosesi pemakaman. Bahkan, kata kopi dan “coffee” berasal dari kata qahwa di Timur Tengah. Bisa dibayangkan bagaimana kedekatan masyarakat Timur Tengah dengan kopi. Bahkan sampai menyumbangkan nama bagi minuman anti ngantuk ini. Konon, kedai kopi pertama lahir di Kota Mekkah.

Konsumsi kopi yang makin membumi menyebabkan menjamurnya kedai kopi. Apalagi dengan citra buruk kedai anggur serta terbatasnya akses ke pemandian. Kedai kopi menjadi tempat berkumpulnya masyarakat Timur Tengah. Dan apa yang dibicarakan oleh mereka di kedai kopi?

Tidak berbeda dengan hari ini, pembicaraan di kedai kopi mula-mula juga sangat variatif. Dari keseharian, ilmu agama, ilmu filsafat, sampai kekecewaan pada kerajaan. Nah, materi pembicaraan yang terakhir ini dibenci oleh tiran.

Baca Juga:

Ketika Americano Dianggap Lebih Maskulin ketimbang Es Kopi Susu

Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

Meningkatnya diskusi tentang kritik kepada kerajaan sampai ke telingan Khair Beg. Blio adalah pemimpin wilayah Mekkah pada masa tersebut. Demi langgengnya pemerintahan Khair Beg, maka dimulailah upaya pelarangan konsumsi kopi.

Banyak kedai kopi ditutup paksa. Disebarkan pula isu bahwa kopi termasuk dalam khmar dan haram dikonsumsi. Kampanye hitam Khair Beg ini gagal. Alasannya, Sultan Kairo (Pemimpin Khair Beg dan Timur Tengah) tidak berkenan jika minuman favoritnya dan rakyat Kairo dilarang seenak jidat tanpa izin Sultan sendiri.

ADVERTISEMENT

Kopi makin identik dengan penyebaran agama dan budaya Islam. Di setiap daerah yang terjamah para musafir dari Timur Tengah, kopi akan muncul di sana.

Itulah kisah pelarangan kopi dari Timur Tengah, yang bisa dianggap sebagai tanah kelahiran minuman kopi. Namun, pelarangan kopi di wilayah Asia tidak berhenti di sekitar Mekkah saja.

Pelarangan kopi di wilayah Asia juga muncul di Konstantinopel. Setelah Murad IV menguasai takhta Ottoman pada 1623, blio segera menerbitkan hukum larangan konsumsi kopi di wilayah kekuasaannya. Tidak hanya sekedar melarang, hukuman tegas juga mengancam para penikmat kopi (yang entah minum saat senja atau tidak).

Hukumannya tergantung berapa kali seseorang tertangkap sedang minum kopi. Hukuman untuk yang baru pertama tertangkap adalah dipukuli. Baik dengan tangan kosong maupun dengan bilah kayu. Jika tertangkap lagi, orang tersebut akan dibuang ke Selat Bosporus.

Bisa Anda bayangkan, hanya karena minum kopi Anda bisa berenang bersama ikan di Selat Bosporus. Namun, alasan Murad IV sendiri cukup jelas. Kopi dapat memicu pembicaraan kritis terhadap pemerintah. Dan pembicaraan ini bisa berujung pada revolusi.

Kita sudah bicara pelarangan kopi oleh para tiran di Asia. Bagaimana dengan Eropa? Bangsa Eropa mulai menikmati kopi setelah berinteraksi dengan kerajaan-kerajaan di Asia Barat. Salah satu pelopor budaya minum kopi di Eropa adalah Inggris. Dan upaya melarang konsumsi minuman kopi muncul juga di Inggris.

Pada Desember 1675, Raja Charles II dari Inggris menerbitkan pelarangan untuk mendirikan kedai kopi. Charles II memandang kedai kopi sebagai “seminaries of sedition” (seminari hasutan). Wah, pandangan yang tidak main-main. Tentu pandangan Charles II punya dasar, dengan melihat ke arah mana kedai kopi di Inggris berjalan.

Di Inggris, muncul istilah kedai kopi sebagai “penny universities” alias universitas receh. Dengan membayar segelas kopi—yang tidak lebih mahal dari beberapa penny—Anda bisa terlibat dalam diskusi dan perdebatan perkara sains, agama, dan politik. Sebelumnya, obrolan yang demikian terkurung di balik pagar otoritas pendidikan.

ADVERTISEMENT

Derasnya arus diskusi yang mengancam kerajaan Inggris menjadi alasan bagi Charles II melarang berdirinya kedai kopi. Tapi, toh upaya ini menemui kegagalan. Kedai kopi makin menjamur di Inggris dan belahan bumi Eropa lain. Konon, awal diskusi perihal Revolusi Prancis juga dimulai di kedai kopi.

Upaya pelarangan kopi juga muncul di Italia pada abad ke 16. Ketika budaya minum kopi datang ke Eropa daratan, para biarawan segera mengupayakan pelarangan. Alasan biarawan ini sederhana: kopi dipandang menyebabkan kecanduan seperti alkohol.

Upaya para biarawan Italia ini juga tidak setengah-setengah. Mereka ingin kopi dilarang oleh pihak gereja, serta melabeli budaya minum kopi sebagai budaya satanis. Namun, upaya ini gagal setelah Paus Clement VIII mencicipi kopi untuk pertama kali.

Sang pemimpin gereja Katolik ini langsung jatuh hati pada seduhan biji berwarna gelap ini. Blio “memberkati” kopi sebagai minuman favorit. Dengan penerimaan Paus Clement VIII, menjamurlah kedai kopi di wilayah Papal State (daerah kekuasaan Paus) serta Eropa Daratan.

Meskipun pemimpin gereja Katolik mendukung budaya minum kopi, toh tidak semua kerajaan Eropa setuju dengan budaya minum kopi. Contohnya adalah wilayah Swedia. Raja Gustav III melakukan pelarangan minum kopi. Blio juga menerapkan pajak tinggi pada sirkulasi biji kopi di daerahnya.

Bahkan, Raja Gustav III mempelopori hoax perihal minum kopi. Salah satu hoax yang terbit adalah minum kopi dapat menyebabkan kematian. Gustav III memaksa salah satu narapidana untuk minum kopi. Dokter kerajaan melakukan pemantauan perihal berapa banyak kopi yang bisa dikonsumsi sampai seseorang mati.

Percobaan ini tentu menyenangkan bagi si narapidana, dan membuat para dokter bosan menunggu. Tapi, hoax perihal bahaya minum kopi tetap terbit hingga akhir pemerintahan Gustav III.

Gelombang minum kopi tidak dapat terhenti oleh upaya para tiran ini. Pada akhirnya, kopi menjadi teman akrab manusia. Kopi juga menjadi saksi lahirnya revolusi dan negara baru di dunia. Sebut saja Prancis, Amerika Serikat, sampai Indonesia.

Maka, tanpa meromantisasi kopi ala-ala filsuf kopi, beri waktu sejenak. Sebelum menyeruput kopi favorit anda, berikan waktu sejenak untuk mengenang berbagai kisah pilu ketika kopi dipandang sebagai sumber masalah dan jadi sasaran para tiran. Kenang pula betapa rebelnya Anda jika minum kopi di abad ke 16 di pusat kota Mekkah.

BACA JUGA Menelusuri Asal Usul Nama Malioboro, Ikon Kota Jogja dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2022 oleh

Tags: Kopipenguasatimur tengahtiran
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Membedah Alasan di Balik Kualitas Kopi Jawa Timur yang Begitu Fantastis

Membedah Alasan di Balik Kualitas Kopi Jawa Timur yang Begitu Fantastis

22 November 2023
5 Rekomendasi Minuman Excelso Coffee yang Enak dan Jarang Ditemukan di Coffee Shop Lain terminal mojok

5 Rekomendasi Minuman Excelso yang Enak dan Jarang Ditemukan di Coffee Shop Lain

6 September 2022
ngopi MOJOK.CO

Alasan Saya Suka Ngopi Sendirian

29 Juni 2020
Mempertanyakan Coffee Shop yang Mematok Harga Tanggung, Bikin Repot Pembeli Saja Mojok.co

Mempertanyakan Coffee Shop yang Mematok Harga Tanggung, Bikin Repot Pembeli Saja

30 Juni 2024
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026

Warkop Tidak Akan Kalah Bersaing dengan Kafe Kekinian

26 Juli 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
Ngeri! Rekening Bank Mandiri bisa diblokir atas permintaan aparat (Unsplash)

Rekening Bank Mandiri hilang sekali klik sukses melahirkan rasa takut karena pemblokiran tanpa proses hukum bisa menimpa siapa saja

24 Agustus 2026
Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan faslitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi Mojok.co

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan fasilitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi

23 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Kuliah di kampus nggak terkenal Universitas Siliwangi Tasikmalaya ternyata nggak buruk-buruk amat Mojok.co

Kuliah di kampus nggak terkenal Universitas Siliwangi Tasikmalaya ternyata nggak buruk-buruk amat

27 Agustus 2026
Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.