Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Cilegon, Kota Industri yang Nggak Kompetitif dan Terlihat Miskin

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
8 Juni 2026
A A
Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Cilegon, salah satu kota unik di pojok barat pulau Jawa. Saya sebut unik karena yang kelihatan sekilas ketika di sana, kota ini adalah kota Industri. Pabrik kelihatan jelas, di antaranya tertulis PT Krakatau Steel. Sebuah perusahaan Persero besar yang produknya ada di mana-mana. Bersamaan dengan itu, cerobong asap mengepul ke langit, tronton besar berlalu-lalang, dan jalan dipenuhi muatan logistik.

Dalam bayangan saya, tentu semua itu adalah gambaran bagaimana sirkulasi ekonomi bergerak, uang mengalir ke masyarakat, ruang publik nyaman, dan lapangan kerja pun tersedia.

Tapi sayangnya, semua yang saya lihat hanyalah kosmetik. Kenyataannya, Cilegon tidak lebih dari kota yang nggak kompetitif dan cuma jadi remah-remahan bila dibandingkan dengan kota industri lain.

Cilegon kelihatan mentereng, tapi…

Dari sisi angka, Cilegon memang kelihatan mentereng. Data BPS menyebutkan kalau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota ini tahun 2025 tembus hingga Rp148,56 triliun, dengan PDRB per kapita Rp322,68 juta. Angka yang sangat besar untuk sebuah kota yang luasnya 162,51 kilometer persegi. Itu ditunjang juga dengan ekonominya yang tumbuh 5,78 persen, dengan sektor industri pengolahan menjadi salah satu penggerak utamanya.

Sekali lagi, kalau hanya melihat angka, maka kita bisa saja membayangkan bagaimana Cilegon adalah kota makmur karena pendapatan per kapita warganya saja Rp322,68 juta. Tapi sungguh naif kalau menyimpulkan Cilegon maju hanya karena data angka begitu.

Realitasnya, tidak semua warga merasa punya hidup yang makmur. Yang terasa justru paradoks regional, yang mana pabrik besar tumbuh signifikan, proyeknya begitu prestisius, investasinya hingga triliunan, tapi kemajuan kotanya tak berwujud dalam bentuk yang bisa dinikmati masyarakatnya.

Fasilitas publik masih ala kadarnya dan kesempatan kerja tidak selalu terbuka bagi penduduk setempat. Bahkan mereka hanya jadi penonton atas semua aktivitas ekonomi yang menggiurkan di hadapan mereka.

Ini yang saya bilang, Cilegon ini unik. Kota industri tapi rakyatnya cuma dapat remahannya aja.

Baca Juga:

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

Karawang dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Pemda Sibuk Urusi Izin Investasi, tapi Lupa Menjaga Ekologi

Saya kasih gambaran besarnya. Jadi kalau tidak salah, pemerintah pernah menyebutkan kalau proyek industri petrokimia di Cilegon punya nilai investasi mencapai Rp59 triliun. Angka yang besar, meski nggak sebesar dana proyek yang itu tuh.

Tapi pertanyaannya, apa efeknya bagi masyarakat setempat? Nominal sebesar itu, berapa persen yang punya daya dongkrak membuka lapangan kerja? Seberapa besar dampaknya bagi pelaku usaha lokal? Bagaimana efeknya untuk perbaikan jalan, sekolah, layanan kesehatan, atau ruang terbuka untuk masyarakat setempat?

Cenderung padat modal

Pada kenyataannya, masyarakat setempat lebih banyak menerima debu, macet, dan risiko lingkungan.

Semua bisa jadi disebabkan karena mayoritas industri yang di Cilegon cenderung padat modal. Artinya lebih banyak pemanfaatan mesin-mesin canggih dan teknologi tinggi daripada tenaga manusia. Di sisi lain, rantai pasok global, keputusan bisnis yang strategis juga sering kali tidak berpusat pada Cilegon.

Jadi nilai ekonomi memang diproduksi di Cilegon, tetapi belum sepenuhnya berputar di Cilegon. Lihat saja, kantor pusat dari berbagai industri tersebut bisa dipastikan lebih banyak di Jakarta. Tenaga ahli didatangkan dari kota lain. Dan yang paling kentara, pajak strategis lebih banyak masuk ke provinsi atau pusat.

Situasi seperti itu memberi gambaran bagaimana Cilegon hanya menjadi tempat untuk ekonomi itu berputar, tapi tidak menjadi tempat untuk menikmati hasil ekonominya.

Secara pendapatan, Pemkot Cilegon sebenarnya tetap mendapatkan “jatah”. APBD Kota Cilegon pada 2025 memiliki pendapatan sekitar Rp2,29 triliun dan belanja Rp2,32 triliun, dengan PAD sekitar Rp1,03 triliun.

Nah coba angka itu kita bandingkan dengan PDRB-nya yang sampai ratusan triliun. Ini yang jadi ironi. Sebab, nilai tambah industri memang sangat besar, tapi ruang fiskal kotanya ternyata begitu jomplang. Ini sekali lagi mengindikasikan bahwa besarnya produksi industri di suatu daerah selalu menjadi pendapatan yang dapat langsung dikelola pemerintah kota.

Bandingkan dengan Karawang

Coba kita bandingkan dengan Karawang yang sering dijadikan patokan. Di sana ada kawasan industri, perumahan pekerja, jaringan logistik, UMKM pendukung, hingga ekosistem konsumsinya begitu terasa.

APBD Karawang pada tahun 2025 disebut terealisasi sekitar Rp5,67 triliun, sedangkan realisasi belanjanya mencapai Rp5,76 triliun. Artinya, secara ruang fiskal, Karawang begitu leluasa dengan anggaran yang dimilikinya. Memang, ini nggak berarti Karawang tanpa masalah.

Dan memang, perbandingan ini juga tidak bisa mentah-mentah ditelan karena status Karawang yang merupakan Kabupaten dengan wilayah yang lebih luas dan penduduk yang lebih besar. Tetapi secara sekilas saja, bisa terlihat bagaimana sirkulasi ekonomi benar-benar menetas ke sekitarnya.

Dari semua itu, sudah seharusnya Pemkot Cilegon lebih galak untuk memastikan kewajiban industri kepada masyarakat, mulai dari persoalan lapangan kerja, pelatihan vokasi, keterlibatan UMKM lokal dalam rantai pasok, kontribusi aspek sosial yang tidak hanya sekadar CSR, dan kompensasi lingkungan yang nyata.

Kalau nggak, ya Cilegon akan terus jadi kota industri tapi isinya remahan. Sebab ekonominya benar-benar kayak kerupuk yang dimakan nggak bikin kenyang, tapi malah bikin batuk.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Di Cilegon, Lebih Mudah Membangun Tempat Hiburan Malam ketimbang Membangun Gereja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: cilegonKarawangkota industri
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

12 Agustus 2023
Hal Menarik Lainnya yang Bisa Kamu Temukan di Karawang Selain Goyang Karawang

Hal Menarik Lainnya yang Bisa Kamu Temukan di Karawang Selain Goyang Karawang

7 Desember 2019
Gresik Kota dan Gresik Selatan, Representasi Ba Sing Se di Kehidupan Nyata: Kesenjangannya bagai Langit dan Bumi

Gresik, Daerah yang Nggak Bisa Dibilang Ndeso, tapi Dianggap Kota Juga Kurang Pas

29 Januari 2025
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

28 November 2023
Pengalaman Tinggal di Semarang Menyadarkan Saya kalau Cikarang Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Semarang Menyadarkan Saya kalau Cikarang Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat

23 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

4 Juni 2026
Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026
6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang "Nyeila", Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Memang Lagu Mereka Mojok.co

6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang “Nyeila”, Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Lagu Mereka 

6 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya Mojok.co

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.