Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

Supriyadi oleh Supriyadi
29 April 2026
A A
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di kampung saya, menjadi satu-satunya alumnus pesantren itu bukan sekadar status. Itu semacam jabatan tidak resmi yang datang tanpa pelantikan, tanpa gaji, tapi dengan ekspektasi yang luar biasa.

Ini saya rasakan sekitar beberapa tahun yang lalu, ketika saya lulus dari pesantren. Begitu orang tahu saya pernah mesantren, ada perubahan cara pandang yang cukup signifikan. Tiba-tiba saya bukan lagi sekadar “anak kampung yang pulang”, tapi semacam paket lengkap/ dikira saya pandai agama, bisa memimpin, bisa menjawab pertanyaan hidup, bahkan, kalau perlu, bisa mengatasi hal-hal di luar nalar.

Dan anehnya, semua itu ekspektasi itu dianggap wajar.

Hal-hal yang saya pelajari di pesantren dan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari

Saya masih bisa menjadi imam salat, memimpin tahlilan, mengisi pengajian, bahkan khutbah Jumat. Sebab, hal-hal itu memang dipelajari di pesantren. Saya punya ilmunya. Jadi ketika diminta melakukan itu, saya masih merasa punya pegangan. Meskipun tidak sempurna, setidaknya tidak sepenuhnya nekat.  Ya walau praktiknya deg-degan juga sih. 

Persoalannya, orang-orang di kampung pasang ekspektasi lebih. Tiba-tiba, status alumni pesantren seperti membuka akses ke semua urusan. Dari yang masih masuk akal, sampai yang entah bagaimana saya dianggap sebagai orang serbabisa.

Pernah suatu ketika ada orang pingsan. Bukannya dipanggilkan orang medis atau dibawa ke tempat yang lebih masuk akal, saya justru dipanggil. “Coba didoakan,” begitu kata mereka.

Saya sempat bingung. Ini saya harus mulai dari mana? Saya bukan ahli medis, bukan juga punya kemampuan khusus yang bisa membuat orang langsung sadar.

Tapi karena situasinya mendesak dan semua mata sudah melihat ke arah saya, akhirnya saya melakukan satu hal yang paling realistis: percikkan air ke muka orang pingsan tadi.

Baca Juga:

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Entah karena airnya, atau karena memang sudah waktunya sadar, orang itu akhirnya bangun. Dan entah kenapa, itu malah memperkuat keyakinan bahwa saya “bisa”.

Doa untuk segala urusan, termasuk yang saya sendiri belum punya

Ada juga yang datang ke saya, lulusan pesantren, dengan harapan yang lebih personal. “Mas, doakan usaha saya biar lancar,” kata seorang warga yang mau buka usaha.

Saya mengangguk. Padahal, waktu itu saya sendiri belum punya pekerjaan tetap. Urusan ekonomi saya juga masih jauh dari kata mapan alias morat-marit. Tapi entah kenapa, itu tidak jadi masalah bagi yang minta.

Seolah-olah kemampuan mendoakan tidak perlu berkorelasi dengan kondisi yang didoakan. Biar kelihatan keren, saya pun memberikan wirid kepada orang itu agar diamalkan. Apa wiridnya? Saya juga sudah lupa karena memang cuma ngasal.

Lebih menarik lagi ketika ada yang datang dengan urusan jodoh. “Mas, saya minta amalan biar cepat dapat jodoh,” katanya.

Saya lagi-lagi mengangguk, sambil diam-diam menyadari bahwa saya sendiri masih berjuang di bab yang sama. Rasanya seperti diminta menunjukkan jalan, padahal saya sendiri masih mencari peta.

Akhirnya, sekali lagi, biar kelihatan keren, saya kasih amalan yang saya sendiri juga sudah lupa apa amalan itu. Ngasal juga. Anehnya, beberapa saat kemudian, orang itu datang kepada saya untuk memberikan undangan pernikahan dan dia bilang, “Terima kasih, Mas. Amalan yang dikasihkan itu memang manjur.”

Ketika semua masalah dianggap bisa diselesaikan dengan Doa

Puncaknya mungkin ketika ada bayi yang terus menangis dan tidak kunjung tenang. Alih-alih mencari tahu penyebabnya, lapar, sakit, atau hal lain yang lebih logis—saya kembali dipanggil.

“Coba didoakan, Mas.” Di titik itu, saya mulai benar-benar merasa bahwa status alumni pesantren ini sudah berkembang terlalu jauh. Dari yang awalnya soal ibadah, jadi semacam solusi umum untuk semua hal.

Padahal, jujur saja, saya juga tidak tahu harus melakukan apa.Akhirnya, ya kembali ke cara paling aman: berdoa sebisanya. Bukan karena yakin itu solusi utama, tapi karena itu satu-satunya hal yang diharapkan dari saya.

Beruntunglah selama ini tidak ada warga yang kesurupan. Kalau soal ini, saya sendiri takut menghadapinya.

Lulusan pesantren, antara kepercayaan dan kesalahpahaman

Saya tidak sedang menyalahkan siapa-siapa. Mungkin ini soal kepercayaan. Masyarakat melihat lulusan pesantren sebagai orang yang dekat dengan agama, dan dari situ muncul harapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan “yang tidak terlihat” bisa ditangani.

Masalahnya, tidak semua hal masuk ke wilayah itu. Dan, tidak semua alumni pesantren punya kemampuan seperti yang dibayangkan.

Kami belajar agama, iya memang. Tapi bukan berarti otomatis jadi serbabisa. Apalagi sampai jadi solusi untuk semua masalah, dari yang spiritual sampai yang seharusnya ditangani dengan cara yang lebih masuk akal.

Di satu sisi, ada hal-hal yang memang bisa saya lakukan, dan itu saya jalani dengan sebaik mungkin. Di sisi lain, ada ekspektasi yang terlalu tinggi, yang kadang membuat saya sendiri bingung harus berperan sebagai apa. Akan tetapi, mungkin memang begitu. Di kampung, label sering kali lebih kuat daripada penjelasan.

Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 29 April 2026 oleh

Tags: lulusanlulusan pesantrenPesantren
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Lika-liku Kehidupan Santri di Pesantren Perihal Kisah Asmaranya terminal mojok.co

Lika-liku Kehidupan Santri di Pesantren Perihal Kisah Asmaranya

8 Februari 2021
Nggak Usah Tersinggung kalau Pesantren Diasumsikan sebagai Bengkel Moral Kenangan Ramadan di Pesantren: Wadah Takjil Unik yang Sering Digunakan Santri Daftar Produk Obat Gatal yang Populer di Kalangan Anak Pesantren

Pesantren Sering Diasumsikan sebagai Bengkel Moral, dan Kita Jangan Tersinggung

4 Juni 2020
Nggak Usah Tersinggung kalau Pesantren Diasumsikan sebagai Bengkel Moral Kenangan Ramadan di Pesantren: Wadah Takjil Unik yang Sering Digunakan Santri Daftar Produk Obat Gatal yang Populer di Kalangan Anak Pesantren

Daftar Produk Obat Gatal yang Populer di Kalangan Anak Pesantren

19 April 2020

Pengalaman Jadi Santri di Pesantren Salafi yang Anti Pengeras Suara

20 April 2021
Tidak Turunnya UKT Adalah Misi Membuat Kampus Kaya, Mahasiswa Sengsara terminal mojok.co

Mengapa Ngaji Online Kiai Sepi, padahal Jumlah Santri Tidak Sedikit?

1 Mei 2020
Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

21 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan
  • Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?
  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.