Ada masa ketika Kopi Janji Jiwa sudah jadi default nongkrong, ngopi, hingga upload story. Di era awal ledakan kopi kekinian, brand ini seperti menjelma jadi simbol gaya hidup urban yang praktis, murah, dan terlihat relatable.
Tapi seperti semua tren, kejayaan itu ternyata tidak abadi. Sekarang, kalau kita diminta menyebut “kopi kekinian”, Janji Jiwa sering kali sudah bukan top of mind. Sudah banyak pemain baru dengan branding lebih segar, menu lebih eksperimental, atau sekadar kemasan yang lebih Instagramable.
Nah, belakangan ini, muncul tren baru di media sosial: meranking kopi-kopi kekinian dalam bentuk tier list. Ada yang pakai label GOAT (Greatest of All Time), ada yang “oke lah”, ada yang “enak tapi kemahalan”, sampai yang paling bawah, “tidak layak dikonsumsi manusia.”
Masalahnya, di beberapa konten yang saya lihat, Janji Jiwa sering dimasukkan ke tier paling bawah dengan label yang agak keterlaluan: “air comberan.”
Kita bisa sepakat bahwa Janji Jiwa mungkin sudah bukan yang terbaik. Kita juga bisa menerima bahwa ada kopi lain yang rasanya lebih kompleks, lebih bold, atau lebih “niat.” Tapi menyebutnya air comberan itu sudah masuk kategori penghinaan yang malas mikir.
Sebab jujur saja, perbandingan itu bukan cuma tidak proporsional, tapi juga terasa dibuat-buat demi engagement.
BACA JUGA: 4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi
Kritik Janji Jiwa boleh, tapi jangan ngawur
Saya tidak sedang membela mati-matian Janji Jiwa. Mereka bukan tanpa kekurangan. Rasa kopinya kadang tidak konsisten dan inovasinya belakangan ini memang tidak segalak dulu. Tapi “tidak sebaik dulu” beda jauh dengan “seburuk air comberan.”
Analoginya sederhana: kalau kamu makan nasi goreng pinggir jalan yang biasa saja, kamu boleh bilang, “ya standar lah.” Tapi kalau kamu bilang rasanya seperti sampah basah yang baru diangkat dari selokan, itu namanya dramatisasi.
Dan di era media sosial, dramatisasi sering dianggap sebagai kejujuran. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: kita jadi kehilangan kemampuan untuk menilai sesuatu secara proporsional.
Sahabat Latte, bukti Janji Jiwa masih bertaring
Di tengah semua kritik itu, saya masih menemukan satu menu yang menurut saya layak dipertahankan: Sahabat Latte. Menu ini mungkin tidak seviral dulu, tapi buat saya, rasanya masih cukup solid. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit, dan masih punya keseimbangan yang enak diminum tanpa harus mikir keras. Bukan kopi yang akan membuatmu merenung tentang hidup, tapi cukup untuk menemani hari tanpa drama.
Kalau sebuah brand masih punya satu menu yang konsisten enak, rasanya tidak adil untuk langsung menaruhnya di kasta paling bawah hanya karena tidak lagi se-hype dulu.
Sudah pernah minum air comberan?
Nah, ini pertanyaan penting yang jarang diajukan: orang-orang yang menyebut kopi Janji Jiwa sebagai “air comberan” itu sebenarnya pernah merasakan air comberan atau gimana? Karena kalau belum, perbandingan itu jadi makin absurd.
Air comberan itu, bukan sekadar tidak enak, tapi juga menjijikkan, berbahaya, dan bahkan tidak masuk kategori minuman. Sementara kopi, seburuk apa pun menurut standar pribadi, tetaplah produk yang dibuat untuk dikonsumsi dengan standar tertentu. Menyamakan keduanya bukan hanya berlebihan, tapi juga menunjukkan betapa longgarnya kita menggunakan diksi.
Saatnya lebih bijak menggunakan kata
Opini itu penting. Kritik itu perlu. Tapi cara menyampaikannya juga tidak kalah penting.
Kalau semua hal yang tidak kita suka langsung kita labeli dengan kata-kata ekstrem, lama-lama kata itu kehilangan makna. “Jelek” jadi tidak cukup, “biasa saja” dianggap kurang menarik, dan akhirnya kita lompat ke kata-kata seperti “sampah” atau “air comberan” demi terlihat tegas.
Padahal, justru di situlah kita kehilangan kedewasaan sebagai penikmat, bukan cuma kopi, tapi juga sebagai pengguna media sosial. Janji Jiwa mungkin sudah turun tahta. Mereka bukan lagi raja kopi kekinian. Tapi menyebutnya air comberan sih itu kemalasan.
Dan kalau kita terus-terusan seperti itu, yang turun kualitasnya bukan cuma kopinya, tapi juga cara kita berbicara.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Janji Jiwa, Raja Kopi Kekinian yang Mulai Ditinggalkan karena Tak Lagi Konsisten
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















