Pengalaman Jadi Santri di Pesantren Salafi yang Anti Pengeras Suara – Terminal Mojok

Pengalaman Jadi Santri di Pesantren Salafi yang Anti Pengeras Suara

Artikel

Avatar

Pesantren-pesantren salafi sepertinya bukan menjadi entitas baru di Indonesia. Di pelosok desa bahkan di pinggiran kota besar, mudah ditemui pesantren salafi yang memberikan ilmu agama beserta ilmu hidup bagi para santrinya. Dengan banyaknya pesantren secara jumlah ini tak menutup kemungkinan pula banyaknya dinamika yang ada di setiap pesantren, apalagi di tiap kelakuan aneh santri-santrinya.

Namun, sebelum beranjak ke paragraf selanjutnya, to be honest aja nih sebenarnya kalau tujuan kita benar-benar ingin mewakafkan diri mencari ilmu, pesantren itu tempat yang sangat cocok. Argumen ini sekaligus ingin membantah stigma orang-orang yang menganggap jika pesantren adalah tempatnya recycle buat anak nakal dan para kriminal.

Pesantren yang pernah menjadi tempat saya bermukim adalah salah satu pesantren salafi di daerah pelosok Jawa Barat. Saat saya pertama kali masuk pesantren ini, mungkin bisa dibilang semi gegar budaya menjalari tubuh saya.

Bagaimana tidak, saya yang tumbuh di keluarga dan lingkungan Islam moderat tiba-tiba masuk ke pesantren yang rata-rata santrinya tidak sekolah sama sekali, merokok sedari kecil, dan bisa dibilang ajaran kehidupannya sangat sederhana dan tertutup dari banyak hal duniawi.

Selain itu, banyak hal unik yang membuat saya pada awalnya merasa aneh bin heran. Namun, saat ini saya sadar kalau hal ini merupakan pengalaman hidup yang tidak terlupakan

Baca Juga:  Membedah Tagline 'Mondok Sampek Rabi, Ngaji Sampek Mati' Anak Pesantren

Pertama, pesantren ini sama sekali tidak menggunakan pengeras suara dan teknologi elektronik lainnya. Kami diajarkan apabila hal itu adalah bid’ah ataupun inovasi yang salah dalam beribadah. Lebih lanjut lagi pada saat salat berjamaah ataupun salat Jumat, ustaz kami hanya mau salat di masjid yang tidak mengenakan pengeras suara. Jadi, jangan harap deh ada santri yang bisa megang gawai ataupun membawa televisi dan radio di kobongnya. Wah, bisa repot urusannya.

Kedua, santri di pesantren salafi ini sangat dididik untuk hidup sederhana atau bisa dibilang merih dalam bahasa Sunda. Kobong atau tempat tinggal para santri dibuat full menggunakan bambu dan ijuk, para santri juga tidak diperkenankan menggunakan bantal dan kasur, apalagi selimut.

Jadi, bisa terbayang lah gimana dinginnya dan tidur hanya beralas sajadah. Lalu, para santri hanya difasilitasi kompor tungku kayu bakar dan disarankan ternak ayam hingga bercocok tanam sayuran. Jadi, benar-benar hidup sederhana dan memakan apa yang telah kita kembang biakkan dan kita tanam.

Jujur saja, bagi saya ini adalah hidup yang sangat nyaman, tenang, dan menghargai tiap hal-hal kecil. Masih teringat waktu itu jika ada warga yang mengirim rendang atau semur daging sapi buat kami, serasa mendapatkan nikmat yang tidak terkira.

Ketiga, kalau ada pepatah “bersama kuli membangun negeri”, dalam kasus ini berubah menjadi “bersama santri membangun negeri”. Ya, jadi bangunan kobong dan fasilitas lainnya di pesantren ini dibangun oleh santrinya sendiri. Nanti kalau kobongnya udah penuh dan ada santri baru ingin masuk? Yowes mereka harus membangun kobongnya sendiri, dibantu senior-seniornya.

Baca Juga:  Mairil dan Nyampet, Homoseksualitas di Pesantren yang Pernah Saya Saksikan Sendiri

Keempat, berangkat pengajian ke pesantren yang ada santriwatinya, buat kami waktu itu seperti menemui oase di tengah Gurun Sahara. Jadi, pernah sekali waktu pesantren kami diundang mengikuti pengajian di pesantren lain yang di sampingnya ada pesantren khusus ukhtinya. Kami berangkat ke sana pada hari Jumat, selidik demi selidik ternyata pesantren ukhti sangat tertutup dan santriwati-santriwati hanya diperkenankan plesir keluar pesantren pada hari Sabtu.

Lantas, di hari Sabtu tersebut kami sudah standby ngopi santai di depan gerbang sedari pagi. Saat gerbang tersebut dibuka apa yang terjadi? Percakapan terhenti dan sepintas terngiang-ngiang di telinga lagunya almarhum Uje yaitu “Bidadari Surgaku”.

Akhirul kata, pengalaman tersebut terjadi 8 tahun lalu, tapi diri saya yang sekarang bersyukur pernah mengalami pengalaman tersebut. Sebetulnya, masih banyak hal unik lainnya yang belum saya ceritakan. Satu hal lagi, perihal perbedaan dalam nilai dan dalam memandang hukum agama, bukankah itu jadi dinamika dan bukanlah satu masalah? Toh, kita masih menyembah Tuhan yang sama, kan?

BACA JUGA Pondok Pesantren Salaf Rasa Milenial

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.