Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Hanya karena Sudah Ada PPG, Tidak Berarti Jurusan Pendidikan Lantas Dihapus, Logika Macam Apa Itu?

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
13 April 2026
A A
Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna ppg

Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Masih mau kekeuh juga dengan bilang jurusan pendidikan sebaiknya dihapus saja hanya karena ada PPG? Apa sih sebenarnya argumenmu?

Namanya PPG. Singkatan dari Pendidikan Profesi Guru. PPG mulai diperkenalkan secara resmi setelah terbitnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Implementasinya sendiri mulai berjalan sekitar tahun 2009–2010. Sebelum ada PPG, ada yang namanya PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Beda nama, tapi dua program itu punya tujuan yang sama. Yaitu, meningkatkan profesionalisme profesi guru.

Program PPG menyasar dua kelompok utama. Pertama, lulusan S1 yang belum menjadi guru. Kelompok ini masuk ke dalam program PPG Prajabatan. Lalu, kelompok kedua, bagi guru yang sudah aktif mengajar, tapi belum memiliki sertifikat pendidik. Kelompok ini ikutnya PPG Dalam Jabatan (PPG Daljab). Sederhananya, PPG ini semacam sekolah profesi bagi calon guru dan guru.

Nah, gara-gara PPG mirip sekolah profesi inilah, muncul gejolak. Beberapa pihak merasa ‘Hapuskan saja jurusan pendidikan. Kan sudah ada PPG!’.

Batin saya, “Sorry, ye. Tidak semudah itu, Kisanak.”

Awal mula kekisruhan

Sebagaimana pepatah yang menyebut tak ada api kalau tak ada asap, saya meyakini bahwa ide menghapuskan jurusan pendidikan tentu lahir bukan tanpa sebab. Agaknya, ide tersebut keluar karena adanya keresahan, kegelisahan, bahkan kemarahan.

Ada yang resah karena proses belajar 4 tahun di kampus ternyata tidak cukup jadi modal untuk dianggap sebagai guru yang profesional. Ada yang gelisah karena tidak kunjung mendapat panggilan PPG, padahal sudah mengabdi selama puluhan tahun. Dan ada pula yang marah karena melihat kenyataan di lapangan bahwa S1 Non Pendidikan+Sertifikat PPG lebih diakui sebagai pendidik profesional dibanding S1 Sarjana Pendidikan murni tapi belum punya sertifikat PPG.

Kalau kalian bertanya-tanya, memangnya bisa ya sarjana non pendidikan ikut PPG?

Baca Juga:

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah

Jawabannya adalah BISA. Dengan syarat, mereka sudah mengajar di sekolah dan mengampu mata pelajaran (mapel) yang linier dengan PPG. Contoh, seorang guru mapel Informatika berlatar belakang S.Kom, bisa ikut PPG bidang studi Informatika untuk dapat predikat ‘Guru Profesional’. Guru mapel ekonomi dengan latar belakang Sarjana Akuntansi, bisa ikut PPG Pendidikan Akuntansi, dsb.

BACA JUGA: Menyesal Kuliah Jurusan Pendidikan, Tiga Tahun Mengajar di Sekolah Nggak Kuat, Sekolah Menjadi Ladang Bisnis Berkedok Agama

Menghapus jurusan pendidikan bukan solusi

Meski PPG membuat S1 Non Pendidikan + Sertifikat PPG lebih diakui sebagai pendidik profesional dibanding S1 Sarjana Pendidikan tapi belum punya sertifikat PPG, bukan berarti menghapus jurusan pendidikan jadi sebuah solusi.

Secara logis, menghapus jurusan pendidikan hanya akan membuat kita kehilangan “dapur” yang memikirkan cara mengajar yang lebih baik dari hari ke hari. Sekarang, jika dapurnya ditutup, dari mana kita akan mendapatkan resep-resep pendidikan yang segar untuk generasi mendatang? Apakah kita rela masa depan pendidikan kita hanya dikelola secara administratif tanpa riset yang mendalam? Kan nggak, to?

Sederhananya lagi, menutup jurusan pendidikan karena ada PPG itu ibarat nyuruh orang berhenti cuci muka dan pakai skincare karena merasa sudah ada filter Instagram yang bikin cakep.

Iya sih kelihatan cakep. Tapi, apa cakepnya asli?

Muncul permasalahan yang lain

Kalau kalian masih saja bersikeras jurusan pendidikan harus dihapus karena sudah ada PPG, ya sudah, mari kita bayangkan bersama-sama apa jadinya jika keinginan itu terwujud.

Dalam bayangan saya, ketika jurusan pendidikan dihapus, besar kemungkinan guru-guru masa depan hanya akan jadi mesin penyampai materi yang kaku karena kehilangan fondasi ilmu mendidik yang biasanya dipelajari bertahun-tahun di jurusan pendidikan. Ini, pernah diakui oleh salah satu kawan guru saya yang latar belakangnya bukan Sarjana Pendidikan. Menurutnya, cara mengajar guru dari jurusan pendidikan itu lebih kena di hati, daripada guru non Sarjana Pendidikan.

Selain itu, jika jurusan pendidikan dihapus, profesi guru bisa kehilangan marwahnya. Orang akan merasa bahwa siapa saja bisa jadi guru. Alhasil, guru bukan lagi sebuah panggilan hati, tapi sekadar alternatif pekerjaan. Daripada nganggur, pokoknya. Jadi ya, daftar guru saja, deh. Toh, semua sarjana bisa jadi jadi guru. Profesi guru beneran jadi nggak ada harganya.

Nah, karena semua orang bisa jadi guru itulah, akhirnya, kualitas pengajaran di sekolah berisiko menurun. Pasalnya, guru-gurunya punya standar dasar yang tidak seragam.

Jurusan pendidikan dan PPG adalah pelengkap

Jika sampai di sini masih ada yang mau ngeyel dan bilang, “Kalau begitu, yang dihapus PPG-nya saja. Ngapain sih dobel-dobel? Sudah capek-capek kuliah 4 tahun, lha kok masih harus divalidasi lewat selembar sertifikat?”

Begini ya, wahai insan yang pikirannya sempit. Sejak kapan sih jurusan pendidikan dan PPG itu jadi dua hal yang ditarungkan? Keduanya bukan rival. Keduanya itu pelengkap. Bangku kuliah itu dapurnya, PPG itu tukang polesnya. Jadi, aslinya tuh nggak mashook kalau dua-duanya diadu untuk dicari siapa yang lebih unggul dan siapa yang harus mudur.

Perkara kenapa guru dari sarjana pendidikan harus ikut PPG, itu bukan karena ilmu dari bangku kuliahnya nggak kepakai, ya. Tapi, ibarat baterai nih ya, ilmu itu harus di-charge dan disegarkan lagi. Jujur, saya merasakannya sendiri. Sebagai guru dengan latar belakang sarjana pendidikan yang pernah PPG, itu seperti pembaruan mindset. Hasilnya? Saya seperti lahir kembali dengan semangat dan amunisi baru yang lebih relevan dengan tantangan zaman.

Sementara bagi guru dengan latar belakang non-pendidikan, PPG adalah jembatan untuk lebih menghayati peran sebagai pendidik. Maklum, selama kuliah mereka tidak terpapar materi pedagogik sama sekali. Jadi, PPG menjadi peluang emas bagi mereka untuk menambal kekosongan ilmu tentang cara mengajar. Lewat PPG pula mereka akan sadar bahwa menjadi guru bukan cuma soal memindahkan isi buku ke otak siswa, tapi soal seni menyentuh hati dan mengelola kerumitan di dalam kelas.

Klir, ya? Atau, masih mau kekeuh juga dengan bilang jurusan pendidikan sebaiknya dihapus saja? Apa sih sebenarnya argumenmu?

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 April 2026 oleh

Tags: biaya ppgcara daftar PPGjurusan pendidikanPPG
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang sekolah swasta

5 Skill Dasar yang Seharusnya Dikuasai Guru, tapi Kurang Diajarkan di Jurusan Pendidikan

15 Agustus 2024
Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna ppg

Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna

30 Oktober 2025
Derita Kuliah Jurusan Pendidikan Olahraga yang Sering Dikira Main-main Aja, tapi Saya Tidak Pernah Menyesal Memilihnya Mojok.co

Kalau Ilmu Murni Bisa Jadi Guru, lalu untuk Apa Masih Ada Jurusan Pendidikan?

18 September 2025
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

21 Januari 2026
Konten Kreator Pendidikan Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer. Sebuah Peringatan Sebelum Terjebak Terlalu Dalam Mojok.co

Konten Kreator Pendidikan Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer. Sebuah Peringatan Sebelum Terjebak Terlalu Dalam

7 April 2024
PPG Cuma Bisa Mengoleksi Sertifikat tanpa Kemampuan Nyata? (Pexels)

Lulusan PPG Harus Kompeten, Jangan Cuma Jadi Guru yang Hobi Mengoleksi Sertifikat Tanpa Kemampuan Nyata di Lapangan

1 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

28 Mei 2026
Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

25 Mei 2026
Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak Mojok.co

Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak

23 Mei 2026
Pengalaman Saya Menemani Anak 3 Tahun untuk Sunat (Unsplash)

Pengalaman Saya Sebagai Bapak Milenial Mengalahkan Rasa Takut untuk Menemani Anak Sunat di Usia 3 Tahun

29 Mei 2026
3 Alasan Mengapa Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

3 Alasan Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

26 Mei 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN guru pns

Nasib Guru PNS Muda di Sekolah Boomer: Dianggap Dewa Teknologi, Berakhir Jadi Kurikulum Abadi

24 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.