Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah

Aldivano Sulthanu Aulia oleh Aldivano Sulthanu Aulia
16 Desember 2025
A A
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah

Share on FacebookShare on Twitter

Pada akhirnya, persoalan akal-akalan siluman Dapodik dan PPG Guru Tertentu bukan sekadar masalah administratif, melainkan cermin dari krisis integritas dalam sistem pendidikan

Fenomena sulitnya lulusan baru jurusan pendidikan untuk menembus dunia kerja di sektor pendidikan formal bukan lagi cerita baru. Setiap tahun, ribuan sarjana pendidikan diwisuda dengan harapan besar dapat segera mengabdi sebagai guru, mencerdaskan generasi bangsa, dan meniti karier profesional sesuai bidang keilmuannya. Tapi, realitas di lapangan sering kali jauh dari idealisme bangku kuliah. Banyak dari mereka justru terjebak dalam pengangguran terselubung, bekerja di luar bidang pendidikan, atau hanya menjadi guru honorer tidak tetap dengan penghasilan yang jauh dari kata layak.

Masalah ini semakin kompleks ketika dihadapkan pada sistem rekrutmen guru yang tidak sepenuhnya transparan dan adil. Salah satu isu krusial yang belakangan ramai diperbincangkan di kalangan pendidik adalah praktik “akal-akalan” agar bisa masuk ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Dapodik sejatinya dirancang sebagai basis data resmi untuk memetakan kondisi pendidikan nasional, termasuk data guru dan tenaga kependidikan.

Namun, dalam praktiknya, sistem ini kerap dimanfaatkan sebagai “gerbang seleksi tak kasat mata” yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang sudah memiliki akses, relasi, atau kedekatan dengan pihak sekolah.

Tembok tinggi penghalang mimpi

Bagi fresh graduate pendidikan, Dapodik ibarat tembok tinggi yang sulit dipanjat. Tanpa status mengajar resmi di sekolah yang terdaftar, mereka otomatis tersingkir dari berbagai peluang pengembangan profesional, salah satunya Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu. Program ini menjadi harapan besar karena menjanjikan sertifikasi pendidik dan peningkatan kesejahteraan. Ironisnya, justru mereka yang baru lulus dan belum memiliki jaringan kuat di sekolah sering kali tidak diberi kesempatan untuk sekadar masuk sistem.

Di sinilah muncul istilah yang sering dibicarakan secara lirih di kalangan guru: “siluman dapodik”. Istilah ini merujuk pada individu yang secara administratif tercatat sebagai guru aktif di Dapodik, meskipun dalam praktiknya peran mengajarnya minim, bahkan ada yang nyaris tidak pernah mengajar. Mereka bisa masuk karena rekomendasi orang dalam, hubungan keluarga, atau kedekatan personal dengan pimpinan sekolah. Dalam banyak kasus, jalur nepotisme menjadi kunci utama untuk membuka pintu tersebut.

Fresh graduate yang mencoba melamar ke sekolah-sekolah sering kali dihadapkan pada jawaban normatif: kuota guru sudah penuh, jam mengajar tidak tersedia, atau belum ada kebutuhan. Namun di balik itu, ada realitas pahit bahwa posisi tersebut sebenarnya “dititipkan” untuk kerabat atau kenalan tertentu. Akibatnya, kompetensi akademik, IPK tinggi, kemampuan pedagogik, dan semangat mengajar menjadi tidak relevan ketika berhadapan dengan praktik-praktik non-profesional.

Ketimpangan ini semakin terasa ketika melihat teman seangkatan yang telah lebih dulu mengajar meski awalnya hanya berbekal relasi, kini melenggang mengikuti PPG Guru Tertentu. Mereka memenuhi syarat administratif karena sudah terdata di Dapodik, memiliki SK mengajar, dan jam mengajar yang “diatur” agar sesuai ketentuan. Sementara fresh graduate lain hanya bisa menjadi penonton, meskipun secara akademik mungkin lebih siap dan kompeten.

Baca Juga:

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

Semua dapet kesempatan yang sama atau yang kenal-kenal saja?

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keadilan dalam sistem pendidikan kita. Apakah tujuan utama PPG Guru Tertentu benar-benar untuk meningkatkan kualitas guru, atau sekadar melanggengkan mereka yang sudah berada di dalam sistem, apa pun latar belakang masuknya? Jika akses awal saja sudah timpang, maka output kebijakan pun berpotensi bias dan tidak mencerminkan meritokrasi.

Lebih jauh, praktik akal-akalan Dapodik berdampak pada kualitas pendidikan di kelas. Guru yang masuk bukan karena kompetensi, melainkan karena kedekatan, berisiko tidak memiliki komitmen dan kemampuan pedagogik yang memadai. Sementara itu, fresh graduate yang idealis dan terlatih secara akademik justru terpinggirkan. Dalam jangka panjang, peserta didiklah yang menjadi korban dari sistem yang tidak adil ini.

Dari sisi psikologis, tekanan yang dialami fresh graduate pendidikan tidak bisa dianggap remeh. Setelah bertahun-tahun kuliah, praktik mengajar, dan menyusun skripsi dengan harapan menjadi guru profesional, mereka harus berhadapan dengan realitas pahit: ijazah tidak menjamin akses kerja. Banyak yang mulai meragukan pilihan jurusan, bahkan merasa kalah sebelum bertanding karena tidak memiliki “orang dalam”.

Tidak sedikit pula yang akhirnya memilih jalan pintas: mengikuti pola yang sama, mencari relasi, atau bahkan rela menjadi “guru bayangan” demi bisa masuk Dapodik. Di sinilah siklus masalah terus berulang. Sistem yang seharusnya bersih justru mendorong individu untuk berkompromi dengan praktik tidak sehat demi bertahan hidup.

Pengawasan Dapodik yang masih begitu lemah

Pemerintah sebenarnya telah berupaya melakukan berbagai pembenahan, mulai dari digitalisasi data hingga seleksi berbasis sistem. Namun, selama pengawasan di tingkat satuan pendidikan masih lemah, celah-celah nepotisme akan selalu ada. Kepala sekolah dan operator memiliki peran besar dalam menentukan siapa yang masuk dan siapa yang tertinggal. Tanpa integritas, Dapodik hanya menjadi alat administratif, bukan instrumen keadilan.

Sudah saatnya kebijakan PPG Guru Tertentu dan pengelolaan Dapodik dievaluasi secara menyeluruh. Fresh graduate pendidikan perlu diberi ruang dan jalur afirmatif agar dapat masuk ke sistem secara adil, misalnya melalui kuota khusus, seleksi nasional terbuka, atau masa transisi yang memungkinkan lulusan baru terdata tanpa harus bergantung pada relasi personal.

Selain itu, transparansi rekrutmen guru di sekolah harus menjadi prioritas. Informasi kebutuhan guru, mekanisme seleksi, dan kriteria penerimaan perlu dibuka secara jelas kepada publik. Dengan demikian, peluang nepotisme dapat ditekan dan kepercayaan terhadap institusi pendidikan dapat dipulihkan.

Pada akhirnya, persoalan akal-akalan siluman Dapodik bukan sekadar masalah administratif, melainkan cermin dari krisis integritas dalam sistem pendidikan. Jika kita benar-benar ingin meningkatkan kualitas guru dan pendidikan nasional, keadilan akses harus menjadi fondasi utama. Fresh graduate pendidikan bukan beban, melainkan aset bangsa yang menunggu kesempatan.

Menutup mata terhadap masalah ini sama saja dengan membiarkan generasi pendidik potensial tersisih oleh praktik-praktik lama yang tidak sehat. Sudah waktunya sistem berpihak pada kompetensi, bukan koneksi. Jika tidak, PPG Guru Tertentu hanya akan menjadi privilege segelintir orang, bukan solusi bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Penulis: Aldivano Sulthanu Aulia
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ketika Kebijakan P3K Membuat Sarjana Pendidikan Patah Hati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2025 oleh

Tags: dapodikfresh graduate sarjana pendidikanPPGsarjana pendidikan
Aldivano Sulthanu Aulia

Aldivano Sulthanu Aulia

Aldivano Sulthanu Aulia. Sedang gemar menulis artikel dan puisi di berbagai media elektronik maupun di blog pribadi. Penulis pemula yang sedang melatih kemampuan literasi dalam menulis artikel yang membangun dan membuka opini bagi orang lain.

ArtikelTerkait

sarjana pendidikan guru nasihat kiai mengajar Jangan Jadi Guru Kalau Baperan, kecuali Hatimu Sanggup Legawa PPG

PPG Tidak Menghasilkan Guru Berkualitas? Tunggu Dulu

8 September 2020
fresh graduate

Galaunya Fresh Graduate Sarjana Pendidikan: Gaji Idealis vs Gaji Realis

13 Agustus 2019
Agar Gelar S.Pd Tidak Lagi Jadi Sarjana Penuh Derita

Agar Gelar S.Pd. Tidak Lagi Jadi Sarjana Penuh Derita

13 April 2020
2 Hal yang Membuat Lulusan PPG Prajabatan Menjadi Tumbal (Pexels)

2 Hal yang Membuat Lulusan PPG Prajabatan Menjadi Tumbal

19 Februari 2025
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

21 Januari 2026
Nasib Guru Honorer Menjelang Idulfitri: THR Nggak Turun, Upah Bulan Lalu Nanti Dulu orang tua guru korea

Tak Ada Solusi, Guru Honorer Tanpa Sertifikasi Dipaksa Sakit Hati Lagi

1 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tetangga yang Hobi Bakar Sampah Memang Pantas Dibenci, Sehari-hari Cuma Bikin Sesak Napas Mojok.co

Tetangga yang Hobi Bakar Sampah Memang Pantas Dibenci, Sehari-hari Cuma Bikin Sesak Napas

10 Februari 2026
Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Nasib, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik Mojok.co

Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Ekonomi, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik

12 Februari 2026
Makanan Kendal Nggak Cocok di Lidah Semua Orang Mojok.co

Makanan Kendal Nggak Cocok di Lidah Semua Orang

9 Februari 2026
Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon Mojok.co

Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon

8 Februari 2026
Vario 110, Motor Honda Paling Merepotkan Penyebab Derita (Wikimedia Commons)

Pengalaman Saya Merawat Honda Vario 110 CBS 2010: Motor Honda Paling Merepotkan, Selalu Rewel, dan Minta Jajan

11 Februari 2026
Jangan Sombong Saat Dapat PhD, Gelarmu Ada Jasa Banyak Orang di Baliknya Mojok.co

Jangan Sombong Saat Meraih PhD, di Balik Gelarmu Ada Jasa Banyak Orang

12 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya
  • Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan
  • “Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?
  • Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata
  • Kereta Api Ekonomi Memang Nyiksa Punggung dan Dengkul, Tapi Penuh Pelajaran Hidup dan Kehangatan dari Orang-orang Tulus
  • Hydroplus Soccer League: Hulu Liga Sepak Bola Putri, Membuka Jalan Mimpi di Seantero Negeri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.