Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Menyesal Kuliah Jurusan Pendidikan, Tiga Tahun Mengajar di Sekolah Nggak Kuat, Sekolah Menjadi Ladang Bisnis Berkedok Agama

Pramudya Baskara Putra oleh Pramudya Baskara Putra
15 Juli 2025
A A
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau bisa pakai mesin waktu, saya mau kembali ke hari ketika saya milih jurusan kuliah. Waktu itu saya daftar ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Memang dari SMA setiap mata pelajaran Bahasa Inggris nilai saya di atas sembilan, tapi sebenarnya saya ingin kuliah di bidang seni, tapi orang tua kasih nasihat: “Kalau kuliah bahasa Inggris, bisa nyambi ngelesin anak orang.”

Betul juga sih. Nyatanya saya memang sempat ngelesin beberapa anak. Tapi “anak-anaknya” ini rumahnya entah di mana. Jarak rumah ke rumah siswa seperti perjalanan mudik. Apalagi saat itu masih pandemi, jadi sering kuliah online di tengah jalan terik, biasanya sehabis ngajar, makanya suka iri liat teman lain bisa off cam terus tiduran pas dosen ceramah.

Saya? Harus berdiri di trotoar terdekat karena biar ga telat masuk kelas, di coret sama dosen killer ngga lulus matkul dia nanti. Penghasilan dari les privat itu kadang nggak sebanding sama ongkos dan waktu tempuh. Dari situ, rasa menyesal saya pelan-pelan tumbuh.

Gaji, ada. Tapi…

Ketika memasuki semester 7 kuliah jurusan pendidikan, saya ikut program magang pemerintah. Ditempatkan di sekolah swasta, di area pinggiran kota Depok, mayoritas siswanya dari keluarga ekonomi ke bawah. Gajinya? Ya ada. Tapi masuknya bisa kayak hujan: nggak tentu. Kadang termin pertama datang pas kita sudah lupa pernah kerja.

Namun, ada sisi baiknya, walaupun muridnya kadang ngeselin karena kelakuannya, tapi ada juga yang menyenangkan, sebenarnya mereka hanya kurang perhatian dari orang di rumah. Alhasil saya dan teman-teman magang memberikan atensi lebih kepada mereka dan mereka jadi senang dan rispek sama kita. Guru-gurunya juga menyenangkan, sangat baik, dan juga sudah seperti keluarga buat saya sampai saat ini. Tapi itu tidak bertahan lama. 

Penderitaan kuliah jurusan pendidikan dimulai

Di balik warga sekolah yang membuat saya seperti di rumah. Penderitaan dimulai ketika guru TIK di sekolah resign di tengah tahun ajaran. Karena saya sering bantuin benerin komputer yang lebih pantas disebut artefak, kepala sekolah “menunjuk” saya jadi guru TIK. Tanpa pelatihan, tanpa tambahan gaji, tanpa komputer baru. Labnya lebih cocok disebut museum perangkat usang daripada tempat belajar teknologi. Masih menggunakan windows XP yang, main Zuma ajah nge-lag nya sudah minta ampun. 

Tahun pertama, saya resmi jadi guru. Digaji Rp10 ribu per jam, total 6 jam seminggu. Tapi kerjanya? Gila. Saya langsung dihantam dengan ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) Sebagai guru TIK tanggung jawab saya cukup besar, melihat komputer yang seperti itu sudah pasti ANBK nya, gagal total! 

Selain ngajar, saya juga harus bantu bikin dokumen Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, bantu akreditasi sekolah, sampai ngurusin laporan keuangan yang bahkan gaji saya sendiri belum jelas. Sekali waktu, kami harus “menyambut” pengawas sekolah yang datang bukan untuk mengawasi, tapi bawa proposal penuh kode agar “penilaian” lancar. Padahal, guru-gurunya masih belum gajian karena uang SPP belum lunas.

Baca Juga:

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

Ironisnya, ketika orang tua siswa datang ke sekolah, alih-alih bayar SPP, mereka malah curhat soal rumah tangga. Kadang soal suami selingkuh, kadang soal mertua nyebelin. Saya guru, bukan konselor KUA.

Penderitaan jurusan pendidikan part 2

Tahun kedua, saya mengajar di dua sekolah. Di sekolah kedua, saya ngajar Bahasa Inggris 11 jam seminggu dengan bayaran Rp15 ribu per jam. Lumayan. Tapi di sekolah pertama, saya masih harus ngajar dua mapel: TIK dan Bahasa Inggris. Gajinya malah turun jadi Rp9 ribu per jam. Alasannya? Jumlah siswa baru menurun. Jam ngajar dipotong. Rasanya kayak kerja keras tapi hidup makin ke belakang.

Dan kemudian drama utama dimulai: saya diangkat jadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum. Bukan karena prestasi saya mengharumkan nama sekolah, tapi karena tidak ada orang lain yang bisa diangkat. SDM sekolah sudah mirip klub sepak bola divisi bawah, minim stok pemain.

Jabatan baru ini membawa saya ke level konflik yang lebih tinggi. Saya mulai sering ribut sama oknum dinas. Mereka sering datang dengan alasan rapat, sosialisasi, atau sekadar “menengok” sekolah. Tapi setiap kedatangan selalu dibumbui dengan kebutuhan akan “pelicin.” Lama-lama, saya mulai kehilangan akal sehat ketika tahu bahwa uang untuk menggaji guru belum ada, tapi dana untuk menyenangkan tamu dari dinas harus tetap disiapkan.

Saya marah. Saya kecewa. Dan tentu saja, saya capek.

Setelah tiga tahun

Setelah tiga tahun, saya memutuskan untuk resign. Dunia pendidikan yang dulu saya kira suci dan mulia ternyata cuma ladang bisnis. Sekolah menjual program keunggulan berbasis agama, tapi praktiknya penuh intrik, suap-menyuap, dan janji palsu. Nilai agama hanya jadi tempelan di brosur penerimaan siswa baru.

Saya tahu nggak semua sekolah begitu. Tapi pengalaman ini cukup membuat saya berhenti berharap banyak dari sistem pendidikan swasta akar rumput. Saya tidak anti sekolah. Saya hanya muak dengan sistem yang lebih menghargai administrasi daripada kemanusiaan, lebih peduli akreditasi daripada kesejahteraan guru.

Dan hari ini, saya ingin bilang satu hal ke versi muda saya yang dulu milih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, atau jurusan pendidikan secara umum: “Nggak semua yang kelihatannya aman itu layak dijalani. Kadang, lebih baik meyakinkan orang tua kalau saya bisa dengan jalan yang mau saya ambil daripada ribut terus sama orang dinas.”

Penulis: Pramudya Baskara Putra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2025 oleh

Tags: gurujurusan kuliahjurusan pendidikanKorupsi
Pramudya Baskara Putra

Pramudya Baskara Putra

Mantan Guru Yang Kuat Mengajar Tiga Tahun Di Sekolah.

ArtikelTerkait

Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Lanjut Kuliah S2 Beda Jurusan Alias Nggak Linier jurusan s2

Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Lanjut Kuliah S2 Beda Jurusan alias Nggak Linier

23 April 2025
Mengenal Amhaengeosa, Pemberantas Korupsi di Era Joseon terminal mojok

Mengenal Amhaengeosa, Pemberantas Korupsi di Era Joseon

29 November 2021
pahlawan tanpa tanda jasa mojok

Selain Guru, Inilah 4 Orang yang Mesti Diberi Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

4 Agustus 2020
3 Jurusan S2 dengan Prospek Kerja Cerah dan Paling Dibutuhkan Dunia Kerja

3 Jurusan S2 dengan Prospek Kerja Cerah dan Paling Dibutuhkan Dunia Kerja

3 Oktober 2025
Mengenal Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Jurusan yang Cocok bagi Mahasiswa dengan Kadar IPA Rendah terminal mojok

Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian: Cocok bagi Kita yang Mau Murtad dari IPA

1 September 2021
Pembangunan Toilet SD di Sumenep yang Telan Dana 500 Juta: Korupsi atau Tidak, Pembangunan Ini Layak Diapresiasi

Pembangunan Toilet SD di Sumenep Telan Dana 500 Juta: Korupsi atau Tidak, Pembangunan Ini Layak Diapresiasi

6 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perayaan Waisak di Borobudur: Momen Sakral yang Bawa Berkah bagi Warga Magelang

Perayaan Waisak di Borobudur: Momen Sakral yang Bawa Berkah bagi Warga Magelang

31 Mei 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
Orang Salatiga vs Kabupaten Semarang Siapa yang Suka Bohong (Unsplash)

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

31 Mei 2026
Kebumen Kecamatan Aneh, Kadang Sulit Dipahami Pendatang (Unsplash)

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

31 Mei 2026
Kebiasaan Buruk Mahasiswa Saat Menghubungi Dosen, Tolong Jangan Dilakukan Mojok.co

Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan

30 Mei 2026
Mimpi Buruk Tol Solo Jogja Bagi Warga Gamping, Sleman (Unsplash)

Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

30 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.