Beberapa waktu lalu, ada tulisan di Terminal Mojok dengan nada yang begitu memuja dosen muda. Salah satu alasannya, merasa satu frekuensi. Anggapan itu jelas nggak salah.
Akan tetapi, rasanya kita perlu melihat dari sudut pandang lain agar diskusinya nggak berat sebelah. Sebagai orang yang sudah menghabiskan nyaris separuh usia di bangku kuliah, saya punya pandangan yang sedikit berbeda.
Dosen muda itu memang asyik. Mereka nggak gagap teknologi dan terbuka diajak debat. Kalau bertukar pikiran, vibe yang terasa seperti mengobrol dengan kakak tingkat yang kelewat pintar.
Akan tetapi, setelah belasan tahun dihadapkan dengan berbagai gaya mengajar, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Di luar keilmuan, dosen senior punya value yang mungkin belum bisa ditawarkan oleh dosen muda.
Ilmu yang disampaikan terasa lebih membumi
Dosen muda yang saya temui punya kecenderungan ingin menjejalkan seluruh isi buku ke otak mahasiswanya. Ini bisa dimaklumi. Jiwa muda mereka masih idealis dan ingin unjuk gigi atas pengetahuan yang dimiliki.
Sayangnya, dengan gaya seperti itu, mahasiswa jadi rentan terjebak barisan definisi yang kering kerontang, nggak ada nyawanya. Padahal, kalau sebatas definisi seperti itu, mahasiswa bisa mendapatkannya hanya dengan membaca buku.
Beda cerita kalau yang mengampu adalah dosen sepuh. Beliau-beliau ini sering kali mengajar dengan gaya mendongeng. Ilmu dibagikan lewat pengalaman hidup. Sepintas memang terdengar seperti cerita omong kosong. Tapi, kalau dicermati, itu adalah cara dosen senior menyampaikan penerapan teori lewat contoh fakta lapangan.
Memang, ceritanya kadang agak melebar sampai ke urusan lain. Namun, justru bumbu-bumbu ala gimmick itulah yang bikin ingatan cepat lekat di otak mahasiswa. Materi terasa lebih membumi. Hasilnya? Saat ujian menjelang, mahasiswa nggak kesulitan untuk mengingat setumpuk teori yang pernah dipaparkan.
Tidak sedikit dosen muda yang kelewat aktif hingga meninggalkan kelas
Sejauh pengalaman dan pengamatan saya, banyak dosen muda yang sibuknya bukan main. Mereka, entah terpaksa atau sukarela, terlibat di banyak proyek dan kegiatan. Tidak sedikit juga yang sedang semangat-semangatnya mengejar sertifikasi ini-itu.
Dampaknya, dosen muda hobi sekali menggeser jadwal kuliah secara mendadak. Parahnya lagi, sering kali pembatalan dilakukan tepat di jam kuliah seharusnya dimulai.
Sialnya, nggak semua mahasiswa tinggal di kosan belakang kampus. Banyak teman saya yang menempuh jarak puluhan hingga ratusan kilometer demi kuliah tatap muka.
Pembatalan sepihak yang mendadak itu rasanya seperti kena prank. Sudah rapi di kelas, tiba-tiba bagian akademik datang membawa kabar jadwal diundur. Sudah buang waktu, boros bensin pula.
Sementara, mayoritas dosen senior adalah penganut disiplin garis keras. Bahkan, tidak jarang beberapa dosen tua justru hadir di kelas lebih dulu ketimbang mahasiswa-mahasiswanya.
Empati dosen sepuh melampaui kecanggihan teknologi
Dosen muda mungkin jago bikin slide Canva yang estetik atau pakai aplikasi kuis yang interaktif biar kelas terasa canggih. Namun, soal empati, menurut saya dosen senior adalah juaranya.
Pernah saya dengar, ada dosen tua yang sabar membimbing mahasiswa yang memang kurang kapasitas berpikirnya sampai lulus. Akui saja, sering kali dosen muda punya stok sabar terbatas mendampingi mahasiswa yang pemahamannya lebih lambat dibanding yang lain.
Di samping itu, dosen sepuh biasanya sudah melewati fase pembuktian diri. Mereka berhenti mencari validasi untuk menegaskan diri yang paling berwawasan luas. Efeknya, dinamika di kelas jadi jauh dari kata intimidatif.
Tugas lebih masuk akal
Tugas-tugas yang disodorkan ke mahasiswa juga terasa lebih esensial. Misalnya, membuat mapping materi masing-masing bab setiap minggu. Terasa membosankan, tetapi sangat dibutuhkan saat belajar untuk ujian.
Sebaliknya, kebanyakan dosen muda sangat berambisi memberikan segepok tugas yang kompleks. Maksudnya baik, agar mahasiswa benar-benar belajar. Sayangnya, kalau semua mata kuliah polanya begini, mahasiswa malah kerepotan dan nggak bisa meraih nilai maksimal karena tenaganya sudah habis untuk mengerjakan tugas yang kelewat rumit.
Segala perbedaan gaya tadi sebenarnya adalah bagian dari warna-warni dunia kampus. Namun bagi saya, kuliah bukan hanya tentang adu keren pemakaian aplikasi atau asyiknya seorang mentor diajak ngopi. Jadi, buat teman-teman yang menyukai interaksi dengan dosen muda, silakan nikmati kopinya. Untuk saya sendiri, kewarasan dan kemanusiaan wajib bertengger di puncak piramida.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















