Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Syahru Banu Salma Nadira oleh Syahru Banu Salma Nadira
28 Januari 2026
A A
Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah tahu gaji HSE di site, saya langsung mengubur dengan bahagia mimpi saya jadi dosen. Mending kaya daripada mengabdi tapi perut tak terisi

Sebagai mahasiswa yang bentar lagi bakal merayakan Lebaran di Bulan Maret nanti, hari-hari saya belakangan ini dipenuhi oleh satu pertanyaan horor yang lebih menyeramkan: “Habis lulus mau kerja di mana?” Pertanyaan ini benar-benar bikin selera makan opor ayam saya mendadak hilang. Di satu sisi, ada ego yang ingin terlihat intelek. Tapi di sisi lain, ada dompet yang nggak bisa diajak kompromi soal biaya hidup pasca-wisuda.

Awalnya, rencana karier saya sudah tertata rapi di kepala. Menjadi dosen adalah puncak cita-cita saya. Dalam bayangan saya yang naif, dosen adalah sosok terhormat yang berjalan di lorong kampus dengan kemeja rapi, membawa tas laptop berisi jurnal-jurnal berat, dan disapa takzim oleh mahasiswa. “Selamat pagi, Bu,” adalah kalimat yang saya bayangkan bakal menjadi asupan ego harian saya.

Saya ingin mengabdi, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mungkin, sedikit pamer gelar di undangan pernikahan.

Namun, idealisme itu perlahan retak saat saya mulai bersentuhan dengan realitas ekonomi. Ternyata, pengabdian di negeri ini seringkali dihargai dengan angka yang bikin kita harus puasa Senin-Kamis seumur hidup bukan karena sunnah, tapi karena terpaksa. Di saat saya sedang pusing memikirkan cara menjadi akademisi, saya justru “tersesat” ke dunia Global Health yang kemudian membawa saya mengenal dunia Health, Safety, and Environment alias HSE.

Dan jujur saja, setelah melihat angka di slip gaji orang-orang HSE di site, niat saya mengabdi di kampus langsung lenyap tak berbekas.

Nasib Sektor “Pendukung” yang Kasta Gajinya Beda Jauh

Sebagai mahasiswa Keperawatan, saya tahu betul rasanya berada di posisi yang serba salah. Di struktur pemerintahan kita, kesehatan dan pendidikan itu seringnya cuma dianggap sebagai “sektor pendukung”. Kita ini dianggap beban anggaran (cost center), bukan mesin pencetak duit (profit center) kayak sektor pertambangan atau industri berat.

Bisa bayangin kan, betapa “tragisnya” nasib saya kalau tetap nekat jadi dosen keperawatan? Sudah latar belakangnya dari sektor kesehatan yang sering disuruh kerja bakti, masuk ke dunia pendidikan pula yang birokrasinya minta ampun. Nasibnya ya sebelas dua belas lah sama nakes di puskesmas atau rumah sakit yang seringnya cuma dianggap pelengkap penderita.

Baca Juga:

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya

Bedanya cuma satu: nakes dan dosen sering disuruh “ikhlas” demi kemanusiaan dan pengabdian, sementara HSE di perusahaan swasta disuruh “tegas” demi keamanan aset dan nyawa pekerja.

Lucunya, meski sama-sama di kasta “pendukung”, apresiasinya bak langit dan bumi. Menjadi dosen keperawatan di negeri ini seolah-olah dilarang kaya, seolah martabat kita diukur dari seberapa kuat kita menahan lapar. Sebaliknya, begitu saya melirik HSE, predikat “pendukung” itu ternyata dihargai dengan sangat layak tanpa menutupi dompet yang kempis.

Saya mulai sadar bahwa menjaga nyawa orang di lapangan melalui sistem manajemen keselamatan itu jauh lebih menantang daripada sekadar mengoreksi typo di skripsi mahasiswa yang judulnya itu-itu saja. Di HSE, saya menemukan irisan antara ilmu kesehatan (Global Health) dan ketegasan lapangan yang ternyata jauh lebih seksi daripada suasana perpustakaan.

BACA JUGA: Saya Sempat Bercita-cita Jadi Dosen, tapi Setelah Lihat Gajinya, Saya Langsung Ganti Cita-cita

Menjadi Polisi yang Dibenci tapi Dibayar Mahal, Itulah HSE

Setelah saya ulik lebih dalam, ternyata kerja HSE itu unik. Kita ini seperti polisi di area proyek. Kerjanya ngomel, negur orang yang nggak pakai helm, ngecek izin kerja yang ribetnya minta ampun, sampai menghentikan pekerjaan kalau dirasa nggak aman. Singkatnya, kita adalah sosok yang paling sering dipandang sinis oleh para pekerja karena dianggap menghambat kecepatan kerja.

Tapi, ada satu hal yang bikin mental “dibenci” itu jadi nggak terasa sakit: gajinya.

Mari kita bicara jujur-jujuran, Anak-anak HSE fresh graduate yang baru tahu cara pakai sepatu safety sudah bisa tersenyum lebar melihat angka di ATM dibanding gaji pendidik yang kadang telat. Apalagi kalau sudah masuk ke site di pelosok Kalimantan atau Papua. Tunjangan lapangannya saja mungkin sudah bisa buat beli motor matic terbaru secara tunai dalam beberapa bulan.

Saya langsung membayangkan perbandingannya. Jadi dosen harus pusing mikirin KUM, Serdos, dan publikasi jurnal Scopus yang bayarnya mahal demi naik pangkat. Sementara jadi HSE, cukup pastikan nggak ada insiden, sistem manajemen jalan, dan laporan aman, maka bonus tahunan akan datang menjemput dengan riang gembira.

BACA JUGA: Lulusan SMA Dapat Kerja Pertambangan, Gaji Belasan Juta Bikin Tak Ingin Kuliah dan Pandang Sebelah Mata Sarjana

Idealisme Bisa Dibeli, tapi Susu Anak Tidak

Mungkin ada yang bilang saya pragmatis atau mata duitan. “Lho, bukannya jadi dosen itu amal jariyah?” Ya, betul. Tapi saya juga sadar bahwa penjaga gerbang tol nggak mau menerima “pahala jariyah” sebagai alat pembayaran resmi. Tagihan listrik dan susu anak tidak bisa dibayar dengan ucapan terima kasih dari mahasiswa yang baru lulus.

Melihat gaya hidup anak HSE yang kerjanya dua minggu di hutan tapi liburnya dua minggu di Bali, sementara dosen harus lembur koreksi ujian di hari Sabtu, membuat saya sadar satu hal: saya belum cukup suci untuk hidup miskin demi ilmu pengetahuan.

HSE memberikan saya paket lengkap. Saya tetap bisa menerapkan ilmu kesehatan (melalui Global Health dan Occupational Health), saya tetap bisa mengajar (lewat safety induction dan toolbox meeting), tapi dengan kompensasi yang jauh lebih manusiawi. Saya tetap mengabdi, bedanya saya mengabdi pada keselamatan nyawa pekerja, bukan pada birokrasi kampus yang labirinnya lebih rumit.

Selamat Tinggal Kampus, Halo Sepatu Safety, Halo HSE!

Keputusan saya sudah bulat. Saya memilih melipat kemeja flanel saya dan menggantinya dengan rompi high-visibility berwarna oranye terang. Saya menukar sepatu pantofel saya dengan safety boots yang beratnya seperti beban hidup, tapi pijakannya sangat kokoh.

Bukannya saya nggak cinta pendidikan, tapi saya lebih cinta pada diri saya sendiri yang nggak perlu pusing mikirin cara bertahan hidup di akhir bulan. Mengabdi itu bisa di mana saja, termasuk di tengah debu tambang atau bisingnya mesin pabrik. Lagi pula, dosen yang stres karena gaji kecil juga nggak bakal maksimal ngajarnya, kan?

Tapi ya nggak tahu juga sih, ya. Namanya hidup kan misteri. Siapa tahu setelah tabungan saya cukup untuk beli sawah atau kontrakan sepuluh pintu, saya bakal balik lagi ke kampus. Toh, pada dasarnya saya memang suka ngajar, hahahaha.

Penulis: Syahru Banu Salma Nadira
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Kerja di Sektor Pertambangan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2026 oleh

Tags: Dosengaji HSEHSEkerja di tambanglowongan HSE tambangmahasiswa keperawatan
Syahru Banu Salma Nadira

Syahru Banu Salma Nadira

Mahasiswa Keperawatan di Universitas Diponegoro. seorang pengajar sekaligus penulis aktif yang memiliki minat besar pada literasi.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah

Ketahuilah Wahai Mahasiswa, Kelas yang Sunyi Bikin Kami para Dosen Sakit Hati

11 November 2025
Jangan Jadi Dosen dan Guru: Gajinya Irit, Tanggung Jawab Selangit Mojok.co

Jangan Jadi Dosen dan Guru: Gajinya Irit, Tanggung Jawab Selangit

23 Februari 2024
Dosen Ideal yang Bisa Membantu Mahasiswa Akhir Lulus Segera terminal mojok.co asisten dosen

Pengalaman Saya Nekat Menjadi Asisten Dosen Ilegal: Kena Damprat Petugas Lab hingga Diangkat Jadi Asisten Resmi

22 Februari 2024
Dosen Muhammadiyah Lebih Layak Jadi Menantu Idaman Dibanding PNS karena Sudah Terjamin Tahan Banting dan Serba Bisa Mojok.co

Dosen Muhammadiyah Lebih Layak Jadi Menantu Idaman Dibanding PNS karena Sudah Terjamin Tahan Banting dan Serba Bisa

12 Mei 2025
Tabiat Dosen Gaib, di Kelas Tidak Pernah Ada, tapi Sogok Mahasiswa dengan Nilai A dosen muda

Dosen yang Jadi Pejabat Kampus Itu Harusnya Tidak Wajib Mengajar, Kasihan Mahasiswanya Terlantar karena Kesibukan Birokratis

21 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata

26 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat Mojok.co

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

30 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.