Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
22 Januari 2026
A A
Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Konten review tanaman bukti Pemkab Lamongan nggak paham prioritas…

Di era medos, kita tentu paham kalau pejabat memang perlu melakukan branding dengan membuat konten. Ragamnya pun banyak, mulai dari blusukan pejabat, pemberian sembako, romantisasi hubungan suami-istri, sampai hal-hal receh seperti mengunjungi kebun durian, dll.

Namun, dari sekian banyak konten pejabat yang membingungkan, saya kira top tier-nya adalah konten review tanaman dari Bupati Lamongan. Setidaknya ini menurut keyakinan saya.

Bagi yang belum tahu, beliau punya semacam program penanaman pohon di Lapangan Gajah Mada. Secara konsep, idenya terdengar mulia. Lapangan itu memang direncanakan jadi ruang terbuka hijau. Masalahnya, kondisi di lapangan saat ini masih jauh dari kata hijau. Lebih mirip lahan urug luas yang panas, gersang, dan kalau siang hari rasanya seperti simulasi padang mahsyar versi lite.

Dalam program ini, tiap kecamatan diminta menyumbang satu pohon. Lalu, tiap sumbangan pohon itu dibuatkan video khusus bersama Bupati Lamongan. Formatnya kurang lebih sama: ini pohon apa, asalnya dari kecamatan mana, filosofinya apa, harapannya apa.

Mirip tugas presentasi mahasiswa baru yang sedang ospek. Bedanya, ini dilakukan oleh pejabat publik dengan kamera, diedit dengan backsound jedag-jedug, lalu diunggah ke media sosial humas pemda.

Baca juga: Lamongan Adalah Daerah dengan Pusat Kota Terburuk yang Pernah Saya Tahu.

Bupati Lamongan dan filosofi pohon yang terlalu dipaksakan

Ada banyak sekali video yang diunggah. Setiap kecamatan satu video. Alhasil jumlahnya memang bergelimang. Dan ada banyak yang membuat bingung.

Baca Juga:

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

Misalnya nih ada video dari Kecamatan Lamongan yang menyumbang pohon mulwo. Dengan penuh percaya diri, Pak Bupati menjelaskan, “Mulwo itu Mulyo, artinya kemuliaan.” Saya langsung mbatin, “Hah? Kok iso mulwo dadi mulyo?” Ini beliau nggak dikasih script apa gimana, ya?

Ada juga pohon kelor, yang kata Pak Bupati berfungsi untuk mengusir santet. Iya, serius. Beliau mengatakan itu dengan keadaan sadar. Maksud saya, ini konten pemerintah daerah lho, bukan obrolan lelaki tengah malam? 

Selain itu, ada konten yang isinya cuma Pak Carik dan Pak Bupati berdiri di belakang pohon sumbangan Kecamatan Mantup Lamongan, kemudian dikasih backsound jedag-jeduk. Sudah. Begitu saja. Nggak kedengeran ngomong apa. Cuma berdiri kemudian backsound.

Jujur saja, kesannya kayak jamaah Facebook Pro yang pokok posting saja tanpa ada strategi dan konsep yang jelas. Ngapunten.

Saya tidak sedang mengarang, kalau penasaran, silakan cari sendiri di TikTok dengan username lamonganyes. Di situ lengkap. tonton saja saat luang dan butuh video untuk buang-buang waktu.

Kolom komentar yang lebih jujur dari videonya

Satu hal yang selalu menarik ketika scroll konten Pemda Lamongan adalah isi komentarnya. Iya, di konten tersebut, alih-alih membahas pohon dan filosofinya, isinya penuh keluhan. 

“Daerah saya masih banjir.”

“Jalan di desa kami rusak.”

“Pak, ini banjir belum ada penanganan.”

Dan keluhan-keluhan lainnya. Btw, di  banyak wilayah Lamongan memang sedang banjir, bahkan ada yang sampai dua bulan belum surut. Iya, persoalan banjir dan infrastruktur masih jadi masalah tahunan. Dan belum terlihat ada penanganan jangka panjang.

Baca juga: Lamongan, Kota yang Tak Pernah Lahir untuk Menjadi Rumah bagi Anak Mudanya.

Lamongan masih banyak pekerjaan rumah, kenapa malah review tanaman?

Saya kira banyak warga Lamongan yang berpikir bahwa Lamongan itu punya banyak pekerjaan rumah. Maka wajar kalau publik bertanya-tanya, kok bisa seorang bupati meluangkan begitu banyak energi untuk konten review tanaman?

Padahal, andai mau, konten itu bisa diarahkan ke hal yang jauh lebih substantif. Misalnya, update penanganan banjir di Lamongan. Sudah sampai mana, wilayah mana yang prioritas, kendalanya apa. Atau bikin peta masalah, lalu mengajak masyarakat terlibat. Itu konten yang informatif, relevan, dan benar-benar dibutuhkan warga.

Bukan berarti menanam pohon itu salah. Bukan. Tapi ketika dibuat jadi belasan video terpisah dengan format yang itu-itu saja, kesannya malah seperti nambah stok konten saja, tanpa benar-benar terasa manfaatnya.

Antara simbol dan substansi

Sekali lagi, yang saya permasalahkan dari konten ini bukan pada pohonnya, tapi pada prioritas. Ketika simbol lebih ditonjolkan daripada substansi, publik wajar bingung. Apalagi ini konteksnya pemerintah daerah, bukan konten personal seorang influencer.

Saya pribadi baru kali ini melihat pejabat daerah bikin konten review tanaman sampai buanyak itu. Dan jujur, saya masih belum paham urgensinya. Lamongan butuh kerja nyata yang terasa di kehidupan sehari-hari warga, bukan sekadar video simbolik yang filosofinya dipaksakan.

Kalau tujuannya ingin terlihat dekat dengan rakyat, mungkin ada cara yang lebih relevan. Sebab di mata warga yang kebanjiran dan jalannya rusak, pohon dengan filosofi setinggi langit tetap kalah penting dibanding solusi yang benar-benar membumi.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Sebagai Orang Madura, Saya Sebenarnya Agak Segan Belanja di Warung Madura.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2026 oleh

Tags: bupati lamonganKabupaten Lamongankontenkonten kreatorlamongan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Tanjung Kodok Beach Resort, Wisata ala Bali di Lamongan yang Perlu Dikunjungi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

Tanjung Kodok Beach Resort, Wisata ala Bali di Lamongan yang Perlu Dikunjungi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

27 Desember 2024
Barista Posting di Coffee Shop Terus Abis Itu Makan Promag, Jangan Menyakiti Diri demi Konten!

Posting di Coffee Shop Terus Abis Itu Makan Promag, Jangan Menyakiti Diri demi Konten!

28 Januari 2020
5 Dosa Penikmat Pecel Lele yang Kerap Dilakukan terminal mojok.co

5 Dosa Penikmat Pecel Lele yang Kerap Dilakukan

22 Desember 2021
4 Pertanyaan yang Bikin Orang Lamongan Ngelus Dada Mojok.co

4 Pertanyaan yang Bikin Orang Lamongan Ngelus Dada

4 November 2024
Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga

15 Februari 2026
Bunda-bunda Kreator FB Pro Adalah Bukti Nyata Kalimat "Mulai Aja Dulu" facebook Facebook

Jangan Hujat Kreator Konten FB Pro, Mereka Masih Buta, dan Butuh Tuntunan

27 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
Mimpi Buruk Tol Solo Jogja Bagi Warga Gamping, Sleman (Unsplash)

Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

30 Mei 2026
Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir Mojok.co

Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir

30 Mei 2026
Keindahan Pantai Nanggelan Jember Hanya Bisa Dinikmati oleh Mereka yang Rela Repot, Wisatawan Manja Minggir Dulu Mojok.co

Keindahan Pantai Nanggelan Jember Hanya Bisa Dinikmati oleh Mereka yang Rela Repot, Wisatawan Manja Minggir Dulu

31 Mei 2026
Teman Saya Orang Surabaya Nggak Suka Makan Rawon, dan Alasannya Masuk Akal Mojok.co

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

26 Mei 2026
Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

29 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.