Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

UNSIKA Karawang: Kampus Potensial yang Naik Daun Bukan karena Prestasi, tapi karena Kontroversi

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
22 April 2025
A A
UNSIKA Karawang: Kampus Potensial yang Naik Daun Bukan karena Prestasi, tapi karena Kontroversi

UNSIKA Karawang: Kampus Potensial yang Naik Daun Bukan karena Prestasi, tapi karena Kontroversi

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kita naik kereta lokal dan turun di Stasiun Karawang, kita mungkin bakal lebih sering lihat spanduk lowongan kerja daripada baliho promosi universitas. Karawang memang dikenal sebagai surganya pabrik—tempat mesin-mesin besar berdengung lebih lantang daripada suara mahasiswa diskusi soal demokrasi. Tapi, di tengah lautan beton industri itu, ada satu kampus negeri yang diam-diam berdiri tegak sejak 1982: Universitas Singaperbangsa Karawang, alias UNSIKA.

UNSIKA itu kampus negeri beneran, bukan negeri-negerian. Statusnya sudah resmi PTN sejak 2014, tapi entah kenapa namanya masih sering kelewat dalam obrolan seputar kampus impian. Jangankan masuk radar anak-anak Jakarta yang suka nongkrong di UI Salemba atau ngetik skripsi di Perpusnas, kadang orang Karawang sendiri masih suka salah nyebut UNSIKA itu kampus swasta. Padahal kampus ini letaknya cuma selemparan batu dari megapolitan ibu kota. Kalau jalanan lagi bersahabat, dari Jakarta ke UNSIKA cuma butuh waktu seplastik cilok dan dua lagu Dewa 19.

Masalahnya bukan di kualitas, tapi di panggung. Di tengah gempuran nama-nama besar kayak UI, UGM, dan ITB, UNSIKA seperti bocah pendiam di kelas yang jago matematika tapi duduknya di pojokan. Ia belum banyak disorot, tapi bukan berarti nggak punya potensi. Di balik gedung kampus yang sedang terus berkembang, ada mimpi-mimpi besar tentang riset, pengabdian masyarakat, dan membangun identitas akademik dari jantung Karawang.

UNSIKA masih berjuang, dan perjuangannya layak kita dengar. Bukan cuma karena status negerinya, tapi karena tekadnya untuk jadi besar tanpa harus melupakan akar lokalnya.

Fakultas banyak, tapi nama belum melejit

Secara administratif, UNSIKA Karawang sudah lengkap. Ada Fakultas Hukum, Ekonomi dan Bisnis, FKIP, Teknik, FISIP, Pertanian, Fikes, Ilkom, Agama Islam, dan beberapa tahun belakangan mulai terdengar mengenai akan hadirnya jurusan Kedokteran. Dari luar, daftar fakultas ini bikin UNSIKA terlihat seperti kampus negeri mapan.

Tapi, ironisnya, nama UNSIKA Karawang masih belum ikut melejit bareng perkembangan struktur akademiknya. Di telinga publik, UNSIKA belum sekencang kampus negeri lain yang sering tampil di TV atau diundang jadi narasumber di acara debat nasional.

Citra UNSIKA Karawang masih suka tertukar. Ada yang bilang kampus swasta, ada juga yang ngira UNSIKA itu semacam politeknik. Padahal mahasiswanya udah ikut PIMNAS, dosennya risetnya jalan, dan jurnal-jurnalnya pun mulai meramaikan indeks nasional. Sayangnya, pencitraan belum sejalan sama pencapaian. Mungkin karena lokasinya yang kejepit di tengah pabrik, atau karena media lebih doyan liput kampus-kampus yang punya gedung megah dan rektor yang aktif mancing keributan di Twitter (X).

Tapi, di balik nama yang belum semelejit itu, ada semangat yang tetap konsisten dibangun. Fakultas-fakultas di UNSIKA terus bergerak—meski kadang pelan dan sepi sorotan. Mereka tidak sedang berlomba jadi pusat perhatian, tapi sedang menyiapkan diri. Sebab seperti kopi tubruk yang diracik perlahan, kualitas nggak selalu datang dari yang paling ramai. Kadang justru yang tumbuh diam-diam, itu yang nanti paling nikmat diseruput ketika waktu sudah tepat.

Baca Juga:

Karawang dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Pemda Sibuk Urusi Izin Investasi, tapi Lupa Menjaga Ekologi

Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

UNSIKA, Hah Apa Itu?

Jika disebut UNSIKA, banyak orang yang menjawabnya tanpa panjang lebar, “Hah apa itu?” atau “Hah, di mana itu kampus?”. Mungkin terdengar sepele, tapi menyimpan banyak ironi. Sebagai orang yang cukup sering bersinggungan dengan kehidupan kampus ini, saya jadi paham bahwa nama Universitas Singaperbangsa Karawang belum sepenuhnya menancap di kepala banyak orang, bahkan di level nasional. Kadang, waktu ngobrol dengan teman dari luar kota, respons yang muncul justru, “UNSIKA? Singkawang, Kalimantan ya?” Padahal, jelas-jelas UNSIKA itu di Karawang, Jawa Barat. Bukan lintas pulau, apalagi lintas provinsi.

Masalahnya bukan di kiprah akademiknya, karena kalau itu ukurannya, UNSIKA sudah cukup punya rekam jejak. Ada mahasiswa yang lolos program kompetisi nasional, ada dosen yang aktif publikasi dan kolaborasi. Tapi, branding dan pengenalan publiknya masih minim. Nggak banyak video kampus yang viral di TikTok, nggak banyak alumni yang diliput media, dan promosi kampus pun lebih mirip gaya brosur fotokopian ketimbang kampanye strategis. Dalam era ketika pencitraan bisa separuh dari kemenangan, kampus ini seperti memilih jalan sepi: jalan panjang, jalan sunyi.

Dari luar pagar kampus, saya bisa melihat bagaimana UNSIKA sebenarnya sedang tumbuh dengan semangat yang pelan tapi pasti. Ia belum sepopuler tetangganya di Depok atau Bandung, tapi ada yang khas dari cara UNSIKA membangun identitas: nggak tergesa, tapi tulus. Barangkali karena justru sering diremehkan, kampus ini diam-diam membentuk komunitas yang tangguh. Yang belajar bukan demi pamor, tapi demi masa depan. Dan menurut saya, itu bentuk perjuangan yang jauh lebih jujur dari sekadar tampil di baliho alumni sukses.

Mulai dikenal dan disorot berkat kontainer kontroversial

Ironis memang. Setelah bertahun-tahun mencoba unjuk prestasi dan memperbaiki mutu akademik, nama UNSIKA justru mulai melejit di tengah publik gara-gara… kontainer.

Bukan hasil riset spektakuler, bukan pula mahasiswa yang menang lomba debat internasional, tapi karena pembelian 40 kontainer bekas senilai Rp 6,4 miliar yang direncanakan untuk ruang kelas sementara. Beritanya viral, dikomentari banyak pihak, bahkan sampai anggota DPR ikut menyorot. Dalam semalam, UNSIKA Karawang jadi buah bibir. Bukan karena pujian, tapi karena tanda tanya.

Responsnya pun beragam. Ada yang nyinyir soal anggaran, ada yang ngebela karena dianggap solusi darurat, ada pula yang baru sadar, “Eh, di Karawang ada PTN ya?” Kontainer boleh jadi bukan inovasi yang disukai semua orang, tapi setidaknya membawa nama kampus ini masuk ke percakapan nasional. Di media sosial, netizen ribut soal efisiensi dan estetika. Sementara pihak kampus bersikukuh bahwa ini langkah cepat untuk atasi krisis ruang kelas. Ya gimana, 18 ribu mahasiswa nggak mungkin diajar di kantin terus, kan?

Kontainer membuka mata dunia pada UNSIKA

Apa pun itu, satu hal jadi jelas: kontainer yang awalnya dianggap “darurat” justru membuka pintu pengenalan. Nama UNSIKA yang dulu sering salah sebut dan salah lokasi, sekarang mulai terdengar lebih familiar—meski masih dibumbui kontroversi. Kadang memang, sorotan datang bukan dari hal yang kita rencanakan, tapi dari hal yang bikin gaduh duluan. Yang penting, setelah ini, UNSIKA tahu caranya berdiri di atas panggung. Biar nggak cuma viral karena kontainernya, tapi juga karena pencapaian yang tumbuh dari dalam kampusnya sendiri.

Karena pada akhirnya, setiap kampus punya jalannya masing-masing untuk dikenal. Ada yang naik daun karena alumninya masuk kabinet, ada yang viral karena lomba robot, dan ada pula yang—seperti UNSIKA—harus lebih dulu diributkan soal kontainer sebelum diperhitungkan secara intelektual. 

Tapi, dari riuh itu, kita belajar bahwa reputasi bisa datang dari mana saja. Tinggal bagaimana kampus merawat momentum yang ada, mengubah sorotan sesaat jadi pijakan jangka panjang. Karena setelah kontainer dibongkar dan diganti gedung permanen, yang akan diingat bukan lagi kelas daruratnya—melainkan isi kepala para alumninya.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Karawang Memang Kawasan Industri dan Tempat Uang Berkumpul, tapi Tak Nyaman untuk Ditinggali

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 April 2025 oleh

Tags: KarawangkontainerUNSIKA Karawang
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

Ilustrasi Bendungan Walahar Karawang Produk Penjajah, Rasanya Nikmat (Unsplash)

Bendungan Walahar Karawang: Penjajahan oleh Belanda Memang Menyakitkan, tapi Bangunan Tinggalan Mereka Memang Luar Biasa

23 Oktober 2023
Slogan I Love Karawang Wujud Miskin Ide Pemda Karawang (Unsplash)

Saya Malu dengan Slogan I Love Karawang yang Tidak Representatif, Tidak Cinta Bahasa Daerah, dan Miskin Ide

26 Juni 2024
karawang cikampek mojok

Kok Bisa, sih, Cikampek Lebih Terkenal ketimbang Karawang?

8 Agustus 2020
Karawang Menyimpan Aib di Antara Warga dan Goyang Karawang (Unsplash) alun-alun karawang

Renovasi Alun-alun Karawang, Sebuah Usaha Menghidupkan Kejayaan yang Sempat Mati Suri

5 Oktober 2023
Surat Terbuka untuk Pemda Karawang Terkait Pengelolaan Rusunawa Adiarsa: Masak Kalah sama Cerita Angker?

Surat Terbuka untuk Pemda Karawang Terkait Pengelolaan Rusunawa Adiarsa: Masak Kalah sama Cerita Angker?

23 Mei 2023
Karawang, Sebaik-baiknya Tempat Tinggal dan Investasi TKI

Karawang, Dulu Lumbung Padi Kini Kota Industri: Kota yang Semakin Ideal untuk Menetap dan Berinvestasi

23 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.