Ketika menginjaklan kaki di stasiun Purwakarta saya langsung terpana, karena hanya perlu jalan kaki sekitar 5 menit sudah sampai, kita langsung disuguhi dengan berbagai fasilitas umum seperti alun-alun, museum dan lain-lain. Seakan daerah tersebut memang sudah dipikirkan dengan matang tata letak wilayahnya. Hal tersebut bertolak belakang dengan daerah asal saya yaitu Karawang, yang sangat amburadul menurut saya
Lihat Karawang. Ketika keluar dari stasiun, tidak ada yang bisa dilihat. Hanya disambut oleh barisan toko yang berjajar. Belum lagi terik panas matahari yang sangat menyengat, diperparah dengan pohon yang sangat jarang wujudnya di areal sekitar jalan.
Padahal, Karawang dulunya adalah induk dari Purwakarta sebelum memisahkan diri pada 1949. Tapi, justru Purwakarta duluan yang melesat maju. Duluan peduli pada fasum, setidaknya, menurut saya.
Saya pikir, Karawang sebaiknya mau merendahkan diri dan belajar bagaimana membuat konsep tata letak wilayah yang baik pada Purwakarta. Bisa dimulai dari penerapancorak budaya Sunda yang sangat khas, penanaman pohon yang sesuai dengan peruntukannya. Serta, diperbanyak RTH untuk warga sekitar.
BACA JUGA: 3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah
Karawang sudah punya alun-alun, tapi…
Saya tahu sudah ada alun-alun Karawang, dan ada juga Karangpawitan. Tapi itu saja tidak cukup dan lokasinya pun termasuk jauh untuk warga di wilayah Karawang Barat. Sudah begitu, daerah tersebut pun padat karena dekat dengan kawasan industri.
Ini masalah utama Kota ini. Saat membuat fasilitas umum, kerap tidak melihat kebutuhan masyarakat. Misal, RTH. Sudahlah sedikit, tak proper lagi. Maksudnya, sudah tahu daerah ini panas, kenapa tidak diperbanyak pohon besar untuk menangkal sinar matahari?
Padahal RTH di Karawang ini amat penting. Status wilayah ini sebagai kawasan urban yang padat penduduk bikin hal tersebut jadi begitu penting. Sebagai daerah penyangga ibu kota sekaligus pusat industri, Karawang menjadi magnet bagi migrasi penduduk, baik lokal maupun mancanegara.
Oleh karena itu, penyediaan RTH yang estetik, aksesibel, dan fungsional harus menjadi prioritas utama Pemerintah Daerah guna menjaga keseimbangan ekosistem di tengah masifnya pertumbuhan populasi.
Baca halaman selanjutnya
Manfaatkan kesempatan yang ada



















