Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Anak Kecil Bertaruh Nyawa demi Bisa Sekolah dengan Menyeberangi Jembatan Kedungwanglu, Pemkab Gunungkidul Diam Tak Tahu Malu

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
21 Januari 2024
A A
Gunungkidul Berlumuran Dosa, Biarkan Anak Kecil Bertaruh Nyawa (Unsplash)

Gunungkidul Berlumuran Dosa, Biarkan Anak Kecil Bertaruh Nyawa (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Baru-baru ini, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dan Bupati Gunungkidul, Sunaryanta, meresmikan ruas jalan Tawang-Ngalang. Jembatan penghubung Kabupaten Gunungkidul-Sleman itu nantinya menjadi akses exit tol di Bokoharjo, Sleman. Tentu saja, adanya jalan ini nantinya bisa mempermudah langkah para turis yang hendak berkunjung ke objek wisata Gunungkidul maupun Sleman.

Di balik pembangunan jalan tersebut, ternyata menyimpan banyak sisi gelap. Publik tentu masih ingat, jalan penghubung Kabupaten Gunungkidul-Sleman ini harus mengorbankan Air Terjun Kedung Kandang di Nglanggeran, Patuk. Air terjun yang dulu tampak asri, indah, dan memesona itu, kini porak-poranda.

Tepat saat para pemangku wilayah sibuk meresmikan jalan Tawang-Ngalang kemarin, ada warga yang tinggal di Banyusoco, Playen, Gunungkidul, terisolir akibat jembatan penyeberangan tenggelam karena banjir. Nyaris setiap musim hujan datang, warga harus bertaruh nyawa ketika menyeberang di jembatan bernama Kedungwanglu itu.

Janji-janji dari pemangku wilayah yang ingin memperbaiki Jembatan Kedungwanglu dari tahun ke tahun terus dikumandangkan. Tapi sampai sekarang, akses jalan utama warga yang menghubungkan ke luar dusun itu nyatanya (tetap) tenggelam saat musim hujan.

Kondisi jembatan Kedungwanglu yang tetap terabaikan

Ya, hujan deras yang mengguyur Bumi Handayani belakangan ini seperti 2 mata pisau bagi warga Dusun Kedungwanglu, Desa Banyusoco, Playen, Gunungkidul. Di balik senyum semringah warga melihat biji-biji kacang di ladang yang sudah mulai tumbuh, ada perasaan was-was ketika harus melintas di jembatan crossway sepanjang 50 meter itu.

Seolah jadi agenda tahunan, setiap kali musim penghujan tiba, sungai Prambutan dan Sungai Oya di dusun ini akan meluap, lalu menelan jembatan Kedungwanglu. Mojok sendiri pernah meliput kondisi memprihatinkan ini.  Liputan yang ditulis Mas Hammam Izzuddin itu mengabarkan bahwa jembatan dengan lebar sebadan kendaraan roda 4 ini jadi satu-satunya akses warga Kedungwanglu yang hendak keluar dusun. Jadi, ketika hujan deras, sudah dipastikan jembatan akan tenggelam dan menghambat aktivitas warga.

Melihat kondisi yang amat sangat membahayakan ini, sebenarnya warga sekitar tidak tinggal diam. Sudah lama mereka mengeluhkan keadaan jembatan Kedungwanglu saat musim hujan. Bahkan, warga juga sering diajak diskusi oleh pemangku wilayah setempat untuk membahas perbaikan jembatan. Tapi sesuai prediksi, yang tersisa hanya wacana dan retorika semata.

Sampai sekarang, warga dibiarkan tetap bertaruh nyawa ketika menyebrangi jembatan. Sungguh omong kosong yang sering dipertontonkan pemilik kebijakan di hadapan warga sekitar.

Baca Juga:

3 Tempat Wisata Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Berkali-kali

Kasihan Solo, Selalu Dibandingkan dengan Jogja, padahal Perbandingannya Kerap Tidak Adil!

[Breaking News] Kedhungwanglu, Banyusoca, Playen, Gunungkidul pagi tadi terlihat siswa harus menyeberang sungai untuk ke sekolah ,ditambah 2 hari ini mati listrik di wilayah tersebut (19/01/2024).
*Kelvin kahimpong | @merapi_uncover pic.twitter.com/k3k5RZ6WUH

— Kabar Gunungkidul (@KabarGunkid) January 19, 2024

Warga bukan prioritas utama bagi Pemkab Gunungkidul?

Melihat kondisi yang kini sedang dialami dulur-dulur di Dusun Kedungwanglu tentu menyesakkan dada. Selain terisolir akibat banjir, bertahun-tahun mereka juga harus mendengar janji-janji palsu pemerintah setempat yang tak kunjung merealisasikan perbaikan jembatan. Ya, Pemkab Gunungkidul kini terang-terangan tutup mata dengan keadaan mendesak yang seharusnya mendapat perhatian.

Ironi memang. Proyek-proyek nggak penting bin mubazir kayak pengurukan Alun-Alun Gunungkidul memakai pasir, pembangunan Taman Kota, hingga Tugu Tobong Gamping, terus-menerus dibanggakan oleh Pemkab. Sementara kebutuhan krusial kayak perbaikan jembatan Kedungwanglu, justru (semakin) terabaikan. Bukankah ini jadi bukti nyata kalau kebutuhan warga bukan lagi prioritas utama?

Di musim penghujan seperti sekarang, seharusnya warga Kedungwanglu banyak beraktivitas di sawah. Namun, karena kondisi akses jalan yang memprihatinkan, pekerjaan warga masyarakat jadi terhambat.

Selain itu, meluapnya sungai yang menutupi jembatan ini juga berdampak kepada siswa-siswi yang hendak pergi ke sekolah. Anak-anak yang seharusnya nyaman, tenang, dan riang gembira, harus was-was bertaruh nyawa saat musim penghujan tiba.

Lalu, ke mana perginya para penguasa saat warga membutuhkan perannya? Apa gunanya pesta 5 tahunan yang menghabiskan anggaran triliunan rupiah itu?

Kebanyakan janji, nggak ada aksi

Saya cukup yakin dan percaya ketika ada masalah seperti ini, Pemkab Gunungkidul langsung meninjau lokasi. Pemangku wilayah akan datang menunjuk jembatan dengan jari telunjuk dan memotret kondisi jembatan. Janji-janji pun diobral di hadapan warga sekitar. Tapi, ya, sebatas itu saja, ujung-ujungnya rencana perbaikan jembatan berakhir tanpa kepastian.

Saat warga merasa gamang dengan masa depan anak-anaknya, Pemkab Gunungkidul malah sibuk membangun proyek-proyek nirfaedah yang eksploitatif. Padahal, harapan warga sejatinya amat sangat sederhana. Masyarakat hanya ingin menyeberang di jembatan dengan tenang tanpa rasa khawatir yang berlebihan. Warga hanya ingin melihat anak-anak mereka pulang sekolah dengan senyum semringah, bukan kondisi yang berpotensi bikin trauma.

Yah, barangkali sudah risiko jadi rakyat kecil. Kemarin, saat Raffi Ahmad punya keinginan bikin beach club di Pantai Krakal, tanpa pikir panjang, Pemkab Gunungkidul gerak cepat memenuhi ambisi investor kaya raya itu. Tapi, warga Kedungwanglu yang sudah bertahun-tahun menginginkan perbaikan jembatan, selalu tutup mata dan terus diabaikan. Lupa daratan, Pak?

Itulah kenyataan pilu yang setiap tahun dihadapi warga Kedungwanglu. Ketika para wakil rakyat sibuk memasang baliho bernilai ratusan juta di sepanjang jalan raya, hanya untuk bersekolah dan cari makan saja, warga Kedungwanglu harus bertaruh nyawa. Sebuah ironi yang kini terjadi di Bumi Handayani.

Penulis: Jevi Adhi Nugraha

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Resort and Beach Club Gunungkidul: Raffi Ahmad Semakin Kaya, Warga Setempat Tetap Merana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2024 oleh

Tags: BanyusocoGunungkidulJembatan Kedungwanglupemkab gunungkidulplayenraffi ahmad
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

Kukusan Bambu, Alat Masak Tradisional yang Kian Terpinggirkan

Kukusan Bambu, Alat Masak Tradisional yang Kian Terpinggirkan

14 April 2022
5 Hal yang Nggak Ada di Gunungkidul tapi Sering Dicari Wisatawan

5 Hal yang Nggak Ada di Gunungkidul tapi Sering Dicari Wisatawan

12 Juni 2022
Berkat Pagebluk, Jaranan Turonggo Yakso Lahir dan Berkembang di Trenggalek jathilan dongko trenggalek terminal mojok.co

3 Tipe Penonton Jathilan di Kampung Halaman Selain Pura-pura Kesurupan

3 Juli 2021
Surat Terbuka untuk Bupati Gunungkidul yang Lagi Sibuk Bikin Taman Kota

Taman Tobong Gamping Gunungkidul: Taman Kota Mirip Malioboro yang Kurang Cocok buat Nongkrong

25 Juli 2023
Seandainya Raffi Ahmad Betul Terlibat Pencucian Uang, Orang-orang Ini Mungkin Akan Terseret Mojok.co

Seandainya Raffi Ahmad Terlibat Pencucian Uang, Orang-orang Ini Mungkin Akan Terseret

3 Februari 2024
Bocoran Jenis-jenis Ritual yang Dilakukan oleh Calon Pejabat Saat Musim Pemilu dari Dukun Gunungkidul

Bocoran Jenis-jenis Ritual yang Dilakukan oleh Calon Pejabat Saat Musim Pemilu dari Dukun Gunungkidul

17 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.