Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Nggak Usah Terlalu Teoretis, Begini Cara Sederhana Menemukan Masalah Warga Desa agar Proker KKN Nggak Itu-itu Aja

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
31 Juli 2023
A A
Seragam KKN Itu Nggak Ada Faedahnya, Sumpah!

Ilustrasi mahasiswa KKN (Irmen Jagau/Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemarin hari, saya sudah membahas perihal tujuan pertama KKN atau sebut saja “esensi” KKN. Sebelumnya saya nggak menduga kalau pembahasan sederhana itu membuat banyak kawan-kawan mahasiswa, baik dari satu kampus maupun lain kampus itu mengirim direct message ke saya untuk sekadar berterima kasih dan mengapresiasi. Bahkan, nggak tanggung-tanggung, sebagian dari mereka ada yang me-repost artikel itu.

Mereka merasa relate lantaran esensi KKN yang selama ini mereka pahami memang nyatanya ndakik-ndakik. Sehingga pemahaman yang ndakik-ndakik itulah yang membuat mereka bingung untuk menemukan masalah warga dan mengambilnya sebagai ide proker. Saya nggak menganggap kampus mereka belum bisa membekali dengan tepat atau nggak. Sebab selain saya sendiri nggak tahu faktanya secara langsung, juga itu urusan kampus mereka.

Yang pasti, dari artikel itu, selain membuat saya merasa bangga dan berterima kasih kepada Mojok, juga saya merasa berdosa kalau hanya memberitahu hakikat KKN tanpa memberitahu cara praktis menemukan masalah warga desa agar menjadi ide proker KKN. Sebelum membacanya, alangkah lebih bijaknya pastikan dulu apakah Anda sudah membaca artikel saya sebelumnya sampai akhir atau belum. Biar apa? Biar nggak salah paham.

Jadi, pertama-tama, untuk menemukan masalah warga, biasanya mahasiswa disuguhkan dengan beragam teori sebagai pisau analisis masalah warga desa. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi dan berkaca pada proker kelompok KKN saya saat ini, rupanya rumitnya analisis itu bisa dirumuskan dengan cara yang amat sederhana. Bahkan, rumusan sederhana itu saya rampingkan bukan lagi sebagai teori ataupun analisis, melainkan sebagai pendekatan.

Maka, untuk menemukan masalah warga desa agar bisa dibuat jadi ide proker KKN, kita sebenarnya cuma perlu tahu cara pendekatan kita ke warga desa. Dan pendekatan itu saya rangkum menjadi beberapa poin berikut.

Selain mengikuti kegiatan, bertamulah ke warga sekitar

Pendekatan yang dilakukan mahasiswa KKN biasanya nggak jauh-jauh dari upaya ikut serta mereka dalam kegiatan-kegiatan warga desa. Baik yang berbau sosial maupun keagamaan. Nggak ada yang salah dengan itu. Kelompok KKN saya sendiri pun melakukan cara tersebut.

Baca Juga:

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Akan tetapi, menemukan masalah warga dengan cara mengikuti kegiatan sosial-keagamaan saja belum cukup. Kegiatan semacam itu sifatnya masih formal. Sehingga situasi yang berbau formal itu yang akhirnya nggak terlalu optimal untuk kita menemukan masalah warga desa secara gamblang.

Maka, selain mengikuti kegiatan, bertamulah ke warga sekitar. Nggak perlu sampai semua warga satu desa. Cukup ke warga sekitar posko saja. Tapi bila kelompok Anda mampu, ya, silakan. Yang pasti, dengan cara itu, warga secara nggak langsung akan merasa dekat dengan kelompok Anda. Lebih-lebih merasa kelompok Anda adalah bagian dari warga desa itu sendiri.

Saya bukan menyarankan untuk nggak bertamu ke pejabat desa. Itu adalah perkara wajib yang saya kira nggak perlu saya ingatkan. Saya menyarankan agar bertamu ke warga desa adalah supaya Anda bisa menemukan masalah warga secara lengkap tanpa ada pretensi dari pejabat desa yang mungkin informasi darinya bisa saja cuma “upaya memperbaiki citra”. Ini bukan berarti suuzan, tapi lebih ke arah antisipasi saja.

Menapaklah ke warung-warung kopi

KALAU dirasa bertamu ke warga sekitar posko kurang menyeluruh, Anda juga bisa ambil alternatif lain, yaitu menapak ke warung-warung kopi di desa tempat Anda KKN. Situasi nonformal dan santai di warung kopi itu bisa Anda manfaatkan untuk ngobrol alih-alih mengorek informasi masalah warga desa.

Terus terang saja, saya yang kebetulan jadi divisi humas di kelompok KKN, kerap sekali mendapat informasi nggak terduga ketika ngobrol sama warga di warung-warung kopi. Ada saja informasi-informasi terkait masalah desa yang nggak bisa atau mungkin luput dari obrolan saya dengan pejabat desa.

Saya pikir, ini bukan cara licik. Walaupaun pada faktanya memang kita berniat mengorek informasi, tapi dengan kita menapak ke warung-warung kopi, secara nggak langsung kita sedang membaur, mengenal, dan berupaya merasakan jadi warga desa itu sendiri.

Sekali lagi, ini bukan cara licik. Saya lebih nyaman menyebutnya cara yang cerdik. Oke? Tekan angka satu jika Anda setuju.

BKBD dan sopan santun adalah kunci

Melalui kedua pendekatan tadi, kunci daripada itu adalah menerapkan prinsip BKBD.

Jujur saja, saya kurang setuju dengan kepanjangan dari SKSD (sok kenal sok dekat). Sebab selain singkatan itu terkesan alay, juga seolah-olah menuntun kita untuk cuma pura-pura ingin kenal dan dekat. Tapi ya sudahlah, sebagai wujud mengikuti perkembangan zaman sekaligus memperbaiki singkatan sebelumnya, saya menawarkan satu singkatan yang lebih bijak, yaitu BKBD.

Sederhana saja, kepanjangan dari BKBD adalah “berusaha kenal berusaha dekat”. Saya kira Anda pun setuju dengan kata “berusaha” daripada “sok” yang kesannya pura-pura. Kalau Anda pun setuju, mari sama-sama berdoa semoga Kemendikbud segera merilisnya di KKBI daring.

Kita balik pada pembahasan. Jadi, dengan kita menerapkan prinsip BKBD, pendekatan kita ke warga akan lebih bijak karena kita dituntun untuk berusaha mengenal warga sebagaimana sesama manusia, dan berusaha mendekat sebagaimana sesama dari satu bangsa. Tapi ingat, BKBD itu juga nggak akan ampuh kalau Anda justru menerapkannya tanpa sopan santun.

Kesampingkan jas almamater dan ponsel

Satu hal yang mungkin dikira remeh tapi sangat penting, adalah pemakaian jas dan penggunaan ponsel.

Ketika kelompok KKN Anda melakukan beberapa pendekatan tadi, jangan sekali-kali memakai jas almamater. Sebab itu secara nggak langsung Anda menciptakan kelas sosial dengan warga desa; warga merasa dirinya adalah kaum kelas bawah dan Anda adalah kelas atas. Akhirnya, kemungkinan besar warga akan sedikit tertutup dalam memberikan informasi masalah desa.

Demikian juga dengan ponsel. Jangan sekali-kali ketika ngobrol atau menerapkan BKBD, Anda menatap ponsel. Kesampingkan dulu ponsel Anda yang paling-paling isinya cuma notif dari Indosat dan memori ponsel penuh itu. Sederhananya, supaya Anda tetap menganggap manusia (warga) lebih tinggi daripada barang (ponsel).

Dari beberapa cara pendekatan tadi, kalau kelompok Anda melakukannya dengan tertib, saya berani jamin kemungkinan besar tanpa Anda bertanya ke warga dan berpikir apa masalah desa, warga akan dengan sendirinya menjawab sampai ke akar-akarnya. Sebab mereka sudah merasa bahwa Anda adalah warga desanya sendiri, yang secara tersirat mau membantunya. Saya nggak membual, dan pendekatan tadi berdasarkan pengalaman kelompok KKN saya sendiri. Coba saja kalau nggak percaya.

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA KKN: Tak Lebih dari Ajang Adu Gengsi dan Bikin Konten.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2023 oleh

Tags: KKNMahasiswaprogramwarga desa
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Pengalaman Saya Menjadi Joki Skripsi yang Penghasilannya Nggak Main-main terminal mojok.co joki tugas

Kok Bisa Ada Mahasiswa yang Bangga Pakai Jasa Joki Tugas, Sehat, Bos?

5 Februari 2023
5 Tips KKN di Demak dari Pemuda Setempat (Unsplash)

5 Tips KKN di Demak dari Pemuda Setempat yang Prihatin Melihat Ada Mahasiswa Diusir Warga

1 Agustus 2023
4 Tipe Motivator Indonesia Menyebalkan yang Biasanya Ada di Seminar Perkantoran terminal mojok.co

Forum Diskusi Anak Jurusan Tasawuf Nggak Kalah Absurd dari Anak Filsafat

15 November 2020
Cerita Penyintas Gangguan Mental yang Dapat Stigma Negatif di Masyarakat terminal mojok.co

Menikah Bukan Solusi Capek Kuliah

19 Maret 2020
anak magang

Anak Magang Perlu Dibayar Nggak, Sih?

6 September 2019
Alasan Orang Tua Melarang Keinginan Anaknya untuk Ngekos anak kos terminal mojok.co

Alasan Orang Tua Melarang Keinginan Anaknya untuk Ngekos

2 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.