Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

KKN: Tak Lebih dari Ajang Adu Gengsi dan Bikin Konten

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
9 Agustus 2022
A A
KKN: Tak Lebih dari Ajang Adu Gengsi dan Bikin Konten

KKN: Tak Lebih dari Ajang Adu Gengsi dan Bikin Konten (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hidup di lingkungan baru dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama orang dengan watak berbeda-beda itu nggak mudah. Setidaknya itu yang pernah saya alami dan rasakan sewaktu kuliah, tepatnya ketika jadi mas-mas KKN di suatu daerah. Hampir setiap hari, ada saja hal yang kami perdebatkan, mulai dari masalah makanan, proker, hingga adu gengsi sama kelompok lain.

Ya, KKN nggak cuma glelang-gleleng di kampung orang dengan almamater kebanggaan. Tapi, gimana caranya agar proker kelompok kita lebih unggul dari posko lain, yang masih satu daerah. Persaingan ini tampak begitu nyata menjelang perayaan HUT RI, yang mana setiap kelompok berlomba-lomba bikin jenis lomba anti-mainstream agar terkesan mind blowing.

Tahun 2014, saya KKN di salah satu sudut Kota Jogja. Saat itu, kelompok atau posko kami merasakan betul persaingan dengan kelompok lain. Persaingan ini dipicu karena mendengar ada salah seorang warga yang membanding-bandingkan kelompok kami dengan kelompok lain. Katanya, kelompok lain di RW sebelah, lebih aktif, progresif, dan membuat proker yang langsung bisa dirasakan warga.

Gairah muda dan perkataan nylekit, adalah recipe for disaster. Tahun segitu Abah Lala belum bikin lagu “Ojo Dibandingne” sih, jadi orang masih suka banding-bandingne, saing-saingke.

Perkataan yang cukup mengiris hati tersebut, akhirnya memaksa kami untuk membuktikan bahwa kami lebih unggul dari kelompok lain. Nggak cuma bikin proker yang butuh modal banyak, tapi kelompok saya juga memoles sedemikian rupa agar tingkah laku terlihat lebih ramah, sopan, dan humanis. Setelah selesai KKN, tak pikir-pikir, kelakuan saya selama KKN cuma sandiwara semata, kehilangan ketulusan dalam bekerja, dan hanya nuruti nafsu yang cukup absurd.

Ternyata, apa yang saya alami tersebut juga dirasakan oleh sebagian kawan-kawan saya yang sedang KKN. Saat ini, mayoritas kampus mewajibkan mahasiswa-nya bikin akun Instagram untuk mendokumentasikan setiap proker KKN. Bahkan, ada kampus yang memberikan reward buat kelompok KKN yang bikin konten video paling menarik. Tentu saja, aturan ini semakin memicu “perang dingin” atau adu gengsi antar kelompok KKN, terutama mereka yang berada dalam satu wilayah atau kelurahan, tapi beda posko.

Adanya tuntutan dari pihak kampus serta “nafsu” gagah-gagahan proker dengan kelompok lain ini, akhirnya membuat sebagian mahasiswa selalu mencari ide bikin program KKN (baca: konten), yang instagrammable. Berbagai cara pun dilakukan, mulai dari program yang memang benar-benar diciptakan sendiri hingga program penuh drama.

Ya, program sandiwara ini biasanya hanya memanfaatkan momen atau situasi, yang kebetulan masyarakat tengah melakukan kegiatan rutin. Seperti arisan, pengajian, dan kegiatan sosial lainnya, tapi diakuisisi sebagai program “ciptaan” tim KKN. Caranya pun mudah: ikut nimbrung warga, nyalakan kamera, unggah di Instagram, lalu bikin caption yang “seolah-olah” program hasil dari ide sendiri. Jadi, misal kamu nemu akun KKN dan memposting simbah-simbah tengah macul di sawah dengan caption “lagi bikin proker pertanian di sawah nich, Gaes”, patut dicurigai barangkali itu cuma rekayasa semata.

Baca Juga:

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

Mahasiswa Politeknik Nggak Pernah KKN, Bukan Berarti Nggak Berjiwa Sosial, Pengabdian Kami Cuma Beda Gaya Saja

Sementara itu, puncak persaingan antarkelompok atau posko KKN ini tampak semakin masif saat acara perpisahan KKN. Ya, perpisahan adalah babak akhir dari perang panjang selama KKN. Semakin meriah acara perpisahan, maka kelompok KKN berpotensi besar bisa mencuri hati masyarakat dan pemangku wilayah. Ini yang sekiranya ada di benak rata-rata kawula KKN. Adu gengsi is real.

Adu gengsi ini juga terjadi di desa saya beberapa tahun lalu, yang kebetulan dijadikan lokasi KKN. Semula, rencana acara perpisahan KKN hanya akan digelar secara kecil-kecilan, seperti menampilkan bocil-bocil dusun untuk menari dan baca puisi di atas panggung. Namun, mendengar kabar bahwa kelompok KKN di dusun sebelah akan nanggap organ tunggal, maka kelompok KKN di desa saya jadi berpikir ulang.

ADVERTISEMENT

Dua hari sebelum acara perpisahan, pihak KKN dan sejumlah anggota Karang Taruna menggelar rapat terbatas di Balai Padukuhan. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat untuk nanggap dangdutan plus nanggap biduan kondang lengkap dengan sound system “nyaris” sekelas yang dipakai Java Rockin’ Land.

Benar saja, acara perpisahan digelar dengan meriah. Tidak hanya menampilkan pentas seni kelas teri, tetapi dangdutan super gagah. Tak pelak, kawula muda dari berbagai penjuru dusun pun tumpah ruah. Banyaknya penonton di luar ekspektasi ini, bikin panitia kocar-kacir dan kericuhan pun tak terhindarkan.

Perpisahan KKN yang harusnya jadi momen penuh kegembiraan dan diselimuti rasa haru, seketika berubah jadi ajang adu jotos antarpenonton. Adu gengsi berujung lahan pabji. Mengingat potensi kericuhan bisa makin meluas, akhirnya acara perpisahan KKN di kampung saya terpaksa harus dibubarkan.

Tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, acara perpisahan yang broken ending tersebut juga menguras isi dompet kawula KKN. Anggaran membengkak dan masyarakat mau nggak mau juga harus ikut membantu nomboki kekurangannya. Keinginan untuk “mengalahkan” kelompok lain pun gagal, yang terjadi justru peristiwa memalukan yang mungkin akan terngiang-ngiang sepanjang hidup.

KKN yang semula bertujuan untuk mengabdi serta meningkatkan sikap peduli mahasiswa terhadap kemajuan masyarakat dengan aksi nyata, justru jadi wahana ajang pamer dan adu gengsi, yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Mengingat mahasiswa KKN adalah manusia yang digadang-gadang sebagai agen perubahan, malah kebanyakan gimmick yang cenderung meresahkan.

Sejatinya, KKN adalah program untuk “membumikan” mahasiswa. Menaruh mereka ke tanah, karena terlalu lama menjejak langit. Agar teori sundul langit itu tetap bisa berguna di masyarakat. Sebab, mahasiswa nantinya akan hidup di masyarakat, sebenar-benarnya medan dari ilmu kuliah mereka. Kalau ujungnya adu gengsi, bukannya menapak tanah, malah menantang langit.

Tak bisa dimungkiri, acara HUT RI malah kerap jadi ajang adu gengsi antarkelompok. Lupa kalau mereka datang untuk mengabdi ke warga. Biasanya, dari acara tersebut, bergulir ke acara-acara lain. Bumi, yang harusnya mereka tapak, malah diinjak-injak.

Membuat acara meriah di lokasi KKN tentu sah-sah saja, Ri. Tapi, jika agenda KKN cuma dijadikan ajang adu gengsi antarposko serta mengedepankan ego tanpa spekulasi, tentu hanya akan jadi cerita konyol yang kering makna dan esensi. Bukannya memberi solusi permasalahan di masyarakat dengan program-program nyata, malah nambah-nambahi beban angsuran BRI ta, Ri… 

ADVERTISEMENT

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Gunungkidul Adalah Sebaik-baiknya Kabupaten untuk Tempat KKN

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Agustus 2022 oleh

Tags: adu gengsihut rikelompokKKNprogram
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

kkn di desa

Kenapa KKN di Desa Akan Selalu Lebih Berkesan Dibandingkan KKN di Kota

9 Juli 2019
jurusan bahasa dan sastra

Jurusan Bahasa dan Sastra yang Selalu “Ditodong”, Lalu Dipinggirkan

6 Agustus 2019
Senangnya KKN Bareng Mahasiswa “Sultan”, Program Lancar Tanpa Keluar Banyak Uang Mojok.co

Senangnya KKN Bareng Mahasiswa “Sultan”, Program Lancar Tanpa Keluar Banyak Uang

3 Juni 2025
Proker KKN Bikin Jamu, Program Mahasiswa KKN Paling Nggak Berguna di Gunungkidul Mojok.co

Proker KKN Bikin Jamu, Program Mahasiswa KKN Paling Nggak Berguna di Gunungkidul

13 Januari 2024
Proker KKN Kadang Nggak Nyambung sama Jurusan Kuliah dan Kita Harus Berdamai dengan Itu

Panduan Singkat Menjadi Setia Selama KKN agar Terhindar dari Konflik yang Tak Perlu

19 Juli 2024
masa kkn kisah horor saat kkn hantu yang paling sering disebut mojok.co

8 Hantu yang Sering Dilibatkan dalam Kisah Horor KKN

4 Juli 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Tradisi lek-lekan di hajatan perkawinan diam-diam bikin biaya bengkak  Mojok.co

Tradisi lek-lekan di hajatan pernikahan diam-diam bikin biaya bengkak 

18 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Kegelisahan peneliti BRIN tentang keripik, sepatu, dan genteng (Unsplash)

Catatan seorang peneliti BRIN yang hatinya remuk redam melihat koleganya dihina cuma bisa bikin keripik, sepatu, genteng, dan ngabisin anggaran negara

15 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.