Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jauh-Jauh ke Pulau Penyengat Hanya untuk Berdoa Soal Jodoh? Kamu Bakal Kecewa!

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
13 November 2019
A A
Jauh-Jauh ke Pulau Penyengat Hanya untuk Berdoa Soal Jodoh? Kamu Bakal Kecewa!
Share on FacebookShare on Twitter

Kali pertama mendengar kata Pulau Penyengat, bayangan saya langsung tertuju pada segerombolan serangga yang suka mengeluarkan sengatan. Ternyata pemikiran saya yang absurd ini tak seratus persen salah. Sebab, menurut cerita soal asal muasal pulau kecil yang terletak di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ini, dulunya dikarenakan banyaknya serangga yang suka menyengat.

Sekadar info saja, Pulau Penyengat ini dulunya merupakan pusat pertahanan dari Kerajaan Riau. Nah, yang paling penting selain terdapat begitu banyak bangunan bersejarah di pulau ini, ada juga mitos-mitos yang berembus ramai di masyarakat Kepulauan Riau dan sekitarnya tentang pulau yang satu ini.

Banyak orang yang percaya bahwa seseorang yang berdoa secara khusyuk di Masjid Sultan Riau dan menyebutkan nama orang yang ia sukai, maka kelak mereka akan berjodoh di kemudian hari. Tapi eh tapi, nggak hanya itu saja mitos yang berlaku. Sebab, bagi mereka yang merupakan pasangan kekasih akan mengalami hal sebaliknya. Ada yang bilang kalau orang yang berpacaran pantang pergi ke tempat ini secara bersamaan. Bisa putus!

Ketika saya tinggal di Batam, isu tentang mitos ini seperti bahan ghibahan paling aduhai bagi para jomblo. Mereka pada penasaran, benarkah kalau berdoa di sana, hajat tentang jodohnya itu akan terkabul? Jelas, mendengar hal semacam ini para pendamba yang tak berani mengatakan cinta pada orang yang ia sukai akan menjadikan hal semacam ini sebagai solusi atas segala masalahnya. Enakkan, tinggal berdoa saja, biar semesta nanti yang menyatukan cinta keduanya.

“Itu serius loh, buktinya aku. Kami waktu itu pergi ke sana bersama dan aku berdoa agar berjodoh sama dia, eh nyatanya kami udah nikah selama 10 tahun ini! Sedangkan temanku yang bawa pacarnya, akhirnya ya putus!” Cerita salah satu senior kawakan di tempat kerja dengan mimik wajah meyakinkan.

Gara-gara cerita ini, teman baik saya merayu saya tiada henti agar kami pergi ke sana dan membuktikannya sendiri. Sekadar info lagi, sahabat baik saya ini sudah berusia 25 tahun waktu itu dan dia tengah menyukai seorang laki-laki alim yang ia kenal di sebuah majelis taklim. Dia sangat galau dengan usianya yang sudah terbilang tua bagi dia, sedangkan dia belum juga menemukan jodoh. Oleh karenanya, dia bersemangat sekali mengajak saya ke sana agar berjodoh dengan laki-laki dambaannya tersebut.

Alhasil di suatu Sabtu, kami berdua membolos dari lembur kerja. Waktu itu saya mengajak tiga teman lainnya untuk ikutan rombongan pengajian dalam rangka wisata religi ke Pulau Penyengat. Perjalanan dari rumah sampai pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur, Batam, sekitar kurang lebih satu jam. Lalu kami naik kapal feri, itu pun harus ada drama dari teman saya yang mabuk laut~

Saya kebagian tugas memijat-mijat tengkuk lehernya dengan minyak kayu putih, akhirnya dia bisa tidur dan tak lagi muntah-muntah. Setelah itu kami sampai di Pelabuhan Tanjung Pinang dan meneruskan perjalanan menggunakan pompong, sebuah perahu kecil bermotor, selama kurang lebih 15 menit. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan darat dan laut yang begitu jauh itu, kami sampai di Pulau Penyengat.

Baca Juga:

5 Mitos Kebumen yang Bikin Orang Luar Mikir Dua Kali sebelum Berkunjung

Alasan Mengapa Anak Madura yang Kuliah di Jakarta Lebih Sulit Menemukan Pasangan ketimbang yang Kuliah di Jogja

Di pulau ini kami disambut oleh para remaja setempat yang begitu ramah di depan Masjid Sultan Riau. Sebuah masjid megah berwarna kuning dan bergaya ala masjid-masjid Turki. Menurut cerita warga setempat, masjid ini didirikan dengan bahan dasar putih telur, kapur, tanah liat, dan pasir. Tak sedikit orang yang menjuluki masjid ini dengan sebutan Masjid Putih Telur.

Saat tuan rumah masih bercerita tentang asal muasal pulau ini di pendopo depan masjid, keempat teman saya sudah tak sabar ingin berdoa di dalam masjid. Mereka bergegas meninggalkan saya, dan kemudian berdoa secara khusyuk di dalam masjid sampai siang hari. Sedangkan saya duduk santai dengan angin sepoi-sepoi sambil mendengarkan cerita menakjubkan tentang pulau ini, serta menikmati kuliner khas Melayu yang disajikan oleh tuan rumah pada kami. Sungguh kenikmatan yang hakiki.

Sehabis salat zuhur, keempat teman saya keluar dari masjid dengan muka semringah seolah mereka yakin, jodohnya tak akan lama lagi mereka dapatkan. Sebagai teman, saya hanya bisa mengamini saja. Kemudian kami diajak berkeliling pulau oleh tuan rumah dengan berjalan kaki. Sebenarnya kalau mau naik bentor (becak motor) sih bisa, tapi jalan kaki bareng-bareng gitu lebih asyik sih menurut saya.

Jujur saya terkesima saat melihat isi dari pulau kecil ini. Di sini saya diajak melihat makam-makam para raja, ada juga makam pahlawan nasional, Raja Ali Haji yang merupakan pencipta Gurindam 12. Ada juga balai adat melayu, gudang mesiu, benteng pertahanan di Bukit Kursi, dan juga di Pulau ini menyimpan Alquran dengan tulisan asli yang dibuat sekitar tahun 1867 oleh warga setempat. Satu lagi, ada juga Monumen Bahasa Melayu yang didirikan untuk mengenang jasa Raja Ali Haji.

Dari cerita yang saya dengar, pulau ini merupakan sebuah mas kawin dari Sultan Mahmud Syah untuk Engku Puteri Raja Hamidah. Wow luar biasa yah, kalau sultan itu, mas kawinnya nggak tanggung-tanggung.

Sebenarnya aneh saja, jika ada orang yang jauh-jauh ke sini hanya untuk berdoa minta jodoh. Karena jika dipahami dalam-dalam ada banyak hal menarik yang bisa kita temukan di tempat ini. Saya bahkan tak tertarik sedikit pun untuk mengikuti mitos yang berlaku itu, nanti kalau jodoh ya nggak ke mana kan ya? Yang penting mah piknik dulu.

Sorenya kami langsung kembali pulang ke Batam, dan lagi-lagi dua teman saya mabuk laut. Saya harus mengurusi dua pasien ini, karena dua lainnya tak tahan dengan bau muntahan. Hmmm~

Ending dari cerita perjalanan jauh nan melelahkan itu, dari keempat teman saya itu tak ada satu pun yang berjodoh dengan lelaki yang begitu khusyuk mereka sebut-sebut namanya dalam doanya di pulau itu.

Sebagai bahan pelajaran bagi kita semua, agar tidak terjebak akan sebuah mitos yang belum tentu kebenarannya. Kalau niatnya cuma cari jodoh mah bakalan capek sendiri dan nggak bakal menikmati perjalanannya.

BACA JUGA Liburan ke Pulau Nusakambangan, Melihat Wajah Lain “Pulau Penjara’ atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 November 2019 oleh

Tags: jodohMitospulau penyengat
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

3 Mitos Gunung Arjuno Malang yang Saya Patahkan Saat Pendakian

3 Mitos Gunung Arjuno yang Saya Patahkan Saat Pendakian

20 Oktober 2023
tumbal proyek mitos isu penculikan mojok

Mitos Tumbal Proyek: Berawal dari Salah Tafsir, Berakhir Jadi Urban Legend

9 Maret 2021
Menyelisik Mitos Larangan Menikah di Bulan Safar pada Masyarakat Sunda Terminal Mojok

Menyelisik Mitos Larangan Menikah di Bulan Safar pada Masyarakat Sunda

16 Februari 2021
3 Mitos Jaga IGD yang Nggak Masuk Akal, tapi Beneran Terjadi

3 Mitos Jaga IGD yang Nggak Masuk Akal, tapi Beneran Terjadi

15 Februari 2022
pernikahan jawa terhalang weton mitos mbangkel ponorogo suro mojok.co

Selain Weton Tak Cocok, Mitos Mbangkèl Juga Bisa Menggagalkan Pernikahan Orang Jawa

13 Juli 2020
mitos tahi lalat

Mitos Tahi Lalat dan Pertandanya

4 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.