MOJOK.CO Pulau Nusakambangan punya kesan seram dan mengerikan. Kayaknya gila aja kalau ada orang yang berniat liburan ke sana. Ngapain, ya kan???

Saya hampir mati di Nusakambangan. Kalau saja sepeda motor yang saya naiki kala itu oleng ke kanan, kayaknya bahkan tulisan ini nggak akan pernah saya mulai karena saya sudah keburu lari-lari di bawah batu nisan.

Ceritanya panjang, tapi nggak panjang-panjang banget. Waktu SMA, seorang teman—sebut saja namanya Merah—mengajak saya dan kawan-kawan pergi ke Pulau Nusakambangan. Sebagai makhluk hidup asli cetakan Cilacap, saya langsung excited, dong. Masa orang Cilacap nggak pernah ke Nusakambangan??? Apa kata dunia???

Omong-omong soal Nusakambangan, harus diakui bahwa sebagian orang memang lebih familier dengan Nusakambangan ketimbang Cilacap itu sendiri. Dikiranya, Cilacap adalah bagian dari Nusakambangan, padahal yang benar adalah Nusakambangan milik Kementerian Hukum dan HAM.

Setiap kali ada berita pemasukan narapidana (napi) baru ke Nusakambangan, ada saja orang yang heboh: “Gimana, di tempatmu banyak polisi, ya?”

Maksud saya, kenapa harus heboh banget, sih, kalau ada banyak polisi??? Noh, tilangan tiap pagi ke arah jalan kantor Mojok juga banyak keleus polisinya!

Tapi, yah, mari kita kembali ke cerita soal ajakan si Merah. Saya setuju untuk pergi ke Pulau Nusakambangan, begitu pula dengan dua teman saya yang lain, Kuning dan Hijau. Kami berempat—tiga cewek dan satu cowok—sepakat untuk membawa dua buah sepeda motor: saya membonceng Hijau, Kuning membonceng Merah.

Tentu saja, “kesongongan” kami membawa sepeda motor menunjukkan sebuah hal berbeda: kami tidak pergi ke Pulau Nusakambangan menggunakan perahu biasa yang ditawarkan nelayan. Paman si Merah adalah salah seorang sipir di Nusakambangan, dan kala itu tidak ada penjagaan ketat untuk masuk ke pulau. Itulah sebabnya, Kawan-kawan sekalian, kami berempat bisa menyeberang “dengan normal”, naik kapal dari dermaga penyeberangan.

Wajah Lain Pulau Nusakambangan

Pulau penjaraini nama alias dari Nusakambangan yang mungkin paling terkenal. Gara-gara napi kelas berat dikirim ke sini, dan tempat ini juga menjadi area eksekusi narapidana tertentu, Pulau Nusakambangan jadi punya kesam seram dan mengerikan. Kayaknya gila aja kalau ada orang yang berniat liburan ke Nusakambangan. Ngapain, ya kan???

Tapi ya gimana, nyatanya saya (dan banyak orang) memang pernah kok (((liburan))) ke Pulau Nusakambangan.

Jangan tanya saya berhenti di mana di Nusakambangan—saya lupa namanya. Yang jelas, begitu turun, kami langsung naik motor dan berdecak kagum sendiri karena jalanannya sudah aspal. Mulus, kayak kisah cintamu dengannya. Amin!

“Nusakambangan itu kayak apa? Apakah di tengah-tengah ada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang dikelilingi gembok?” tanya seseorang.

Ternyata nggak gitu bentuknya, Malih. Sepanjang jalan di atas jalan aspal, kanan dan kiri kami adalah hutan. Tanamannya tinggi-tinggi dan terlihat padat oleh banyak tanaman. Kalau melihat ke atas sedikit, kamu bisa menemukan banyak burung dan kupu-kupu yang terbang—hal yang sekarang nggak kamu temui gara-gara kamu sedang terjebak deadline sampai ingin meledak.

Hutan juga kelihatan jelas kalau kamu mendarat di Nusakambangan naik perahu dari Pantai Teluk Penyu. Ya, kalau pamanmu bukan sipir kayak pamannya si Merah, kamu tetap bisa ke Pulau Nusakambangan naik perahu biasa selama 15 menit, kok. Bayarnya 15 ribu—artinya, setiap menit perjalananmu ke Nusakambangan harganya seribu rupiah. Wkwk.

Kalau kamu memilih ke Nusakambangan naik perahu, kamu harus siap jalan kaki. Biasanya, orang-orang bakal mengunjungi salah satu pantai: Pantai Kalipat atau Pantai Karang Bolong. Jarak pantai dengan tempat pemberhentian perahu ini lumayan. Kamu harus jalan kaki selama 30 menit sebelum sampai di Pantai Karang Bolong, atau 45 menit hingga 2 jam untuk sampai di Pantai Kalipat.

“Jalannya terjal dan nggak ada rumah penduduk. Kanan-kiri hutan,” jelas seorang teman saya yang pernah mengunjungi Pantai Kalipat. Wow, ternyata beda dengan bagian Nusakambangan yang saya rasakan, yang sudah berjalan aspal. Bahkan sampai sini saja, kita sudah melihat dua wajah Nusakambangan, ya?

Pantai Pasir Putih dan Lapas

Setelah barisan hutan yang cantik, saya melewati beberapa Lapas. Iya, bukan cuma satu lapas, tapi ada dua, tiga, dan seterusnya. Ternyata, mulanya memang ada sembilan lapas di sana, namun kini yang beroperasi tinggal beberapa saja, seperti Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning, dan Lapas Permisan.

Tidak ada kompleks perumahan di sana. Tempat tinggal paman si Merah pun ada di barisan rumah dinas sipir yang hanya beberapa, tepat di depan sebuah lapas yang ukurannya agak lebih besar—kalau tidak salah, namanya Lapas Batu.

Kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Permisan. Setelah “selesai” dengan lapas di kanan-kiri, kali ini perjalanan kami berhiaskan jurang (di sebelah kanan) dan dinding tebing (di sebelah kiri). Si Hijau yang mengendarai motor kegirangan karena bisa menyalurkan hasratnya untuk ngebut-ngebutan, sampai tahu-tahu motornya oleng dan lepas kendali.

“Bruuuk!!!”

Kalau ada satu hal yang saya syukuri, itu adalah kesigapan si Hijau membanting kendali ke sebelah kiri. Saya nggak tahu apa yang bakal terjadi kalau dia belok ke kanan—mungkin kami nggak akan pernah bisa melihat Pantai Permisan.

Untungnya, saya dan Hijau masih disayang Tuhan dan nggak mati mendadak setelah kepentok dinding tebing. Kami sampai di Pantai Permisan setelah itu. Nggak ada penyewaan banana boat, tapi, harus diakui, pantainya bersih luar biasa.

Ini mengingatkan saya pada kisah teman saya yang lain soal Pantai Kalipat dan Pantai Karang Bolong. Ketiganya sama-sama berpasir putih dan bersih sekali. Di Pantai Permisan, misalnya, airnya terlampau jernih, bahkan kamu bisa melihat ikan-ikan berenang—dan saya nggak bercanda!

Ombaknya kadang besar, kadang juga sedikit tidak terlalu besar. Yang jelas, kalau kamu berharap kamu akan selalu bisa bermain air sambil haha-hihi kayak orang lagi foto prewedding, kamu salah. Kadang-kadang, yang bisa kamu lakukan cuma duduk di pasir putih sambil menikmati pantai yang cantik ini, alih-alih maju ke depan dan membiarkan tubuhmu disapu ombak.

Oh, saya nggak bercanda. Soalnya, sehari setelah saya mengunjungi Pantai Permisan, Merah memberi tahu saya,

“Ada perempuan terseret ombak di Pantai Permisan. Lokasinya tepat di tempat kita kemarin ngelihat ikan.”

Saya sedikit bergidik. Ternyata saya sudah dua kali hampir mati (dan selamat) di Pulau Nusakambangan.

BACA JUGA Liburan Itu Penting dan Harus Jadi Budaya Kita atau artikel Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles