Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
20 Agustus 2022
A A
Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Karya Abah Lala Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok

Menyebut Lagu Ojo Dibandingke Bermental Playing Victim Itu Terlalu Goblok (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jika ada sesuatu yang viral, pasti semua ikut-ikutan. Lagu “Ojo Dibandingke” adalah salah satunya. Lagu karya Abah Lala yang viral saat dibawakan Farel Prayoga ini menjadi buah bibir. Apalagi saat dibawakan dalam rangkaian acara memperingati HUT Republik Indonesia ke-75. Dan semenjak itu, lagu ini jadi tidak asik lagi.

Bukan menyalahkan pemerintah yang sering bikin kebahagiaan rakyat jadi nggak asik. Kali ini saya menunjuk beberapa warganet yang sok ndakik-ndakik mengupas lagu ini. Ada akun yang menuding lagu “Ojo Dibandingke” sebagai citra hubungan manipulatif. Alasannya, lagu ini dianggap playing victim dan mengandalkan cinta serta kejujuran sebagai senjata saat kalah saing.

Sebenarnya, saya sih tidak ambil pusing dengan opini di atas. Tapi, ada yang perlu dipahami sebelum mencoba berargumen dengan bahasa ndakik-ndakik. Termasuk playing victim, mental health, personal space, dan istilah nom-noman hari ini.

Saya akan melewati bagian bedah lirik. Karena lirik dalam lagu “Ojo Dibandingke” bisa dirangkum jadi satu kata: ngenes. Lagipula, argumen akun tadi juga tidak membedah lagu dan langsung nyinyir ke urusan playing victim. Jadi saya akan langsung membedah perkara nyinyiran pekok ini.

Pertama, saya tidak melihat bagian mana dari playing victim ini. Lha wong lagu ini itu sambat alias mengeluh. Bukan untuk disasarkan pada pasangan, tapi lebih pada mengeluh sendiri. Bisa dibilang lagu ini sambatan Abah Lala, sesepele itu. Apakah mengeluh itu salah? Atau mengeluh itu dilarang? Kalau mengeluh itu dilarang, nanti kena mental issue lho.

Perkara manipulatif ini juga dipaksakan. Mengeluh sebagai bentuk manipulasi terkesan terlalu mutakhir. Manipulasi perlu mengubah sudut pandang dari realitas. Lha wong lagu “Ojo Dibandingke” adalah bentuk mengeluh dalam nada. Sama seperti saat rakyat mengeluh bansos tidak didistribusikan secara tepat sasaran. Manipulatif ndhogmu nggepok kuwi!

Mari kita tarik ke sudut pandang lebih luas. Terlepas dari lagu ini, apakah mengeluh untuk tidak dibanding-bandingkan adalah manipulasi dalam relasi? Saya malah melihat membanding-bandingkan ini sebagai implementasi hierarki sosial yang lebih manipulatif. Menjadikan pencapaian, terutama finansial, sebagai alat pembanding individu adalah manipulasi. Untuk apa? Untuk mencapai keseragaman sosial.

Keseragaman sosial membentuk kendali terhadap karakter unik setiap individu. Lebih jauh lagi, juga mengatur bagaimana seseorang untuk hidup. Kemiskinan struktural dan kultural terbentuk karena manipulasi hierarki sosial. Tentu untuk menjaga keunggulan kelompok sosial tertentu sehingga bisa mengambil kendali atas kelompok yang lebih lemah.

Baca Juga:

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

2 Alasan Bioskop Belum Layak Didirikan di Demak

Hop! Bahasa saya malah ikut-ikutan ketinggian. Tapi bagaimana lagi, lha wong urusan mengeluh saja bisa dilabel playing victim. Urusan paling basis pada manusia harus dibantah dengan opini ndakik-ndakik. “Ojo Dibandingke” itu hanya sebuah lagu lho, Cah. Kadang, pencipta lagu tak memiliki dan menyisipkan pesan tertentu. Coba cek sejarah lagu “I Am The Walrus” bikinan The Beatles, biar agak paham.

Opini tentang lagu “Ojo Dibandingke” ini cukup aneh. Di satu sisi menyebut menggunakan cinta dan kejujuran sebagai manipulasi. Tapi, juga mengamini bahwa cinta dan kejujuran adalah landasan dari sebuah relasi. Lha kok bisa manipulatif menggunakan unsur yang jadi landasan, bahkan erat dengan urusan hormonal? Cinta itu bukan Pancasila yang bisa jadi alat manipulasi Orde Baru.

Kembali ke masalah mengeluh. Mengeluh pada pasangan bukanlah bentuk manipulasi, tapi menjaga kesehatan mental. Apalagi ketika pasangan mulai bias dengan bentuk hierarki sosial tadi. Memenuhi kebutuhan hidup bersama itu wajib. Tapi memaksa hidup seperti ideal orang lain itu ra mashok. Apalagi ketika mengeluh disebut manipulatif. Kabeh oleh dan iso mengeluh joh!

Coba Anda bilang mengeluh itu manipulatif kepada tukang sayur yang sedang berteduh. Coba Anda sebut tukang becak yang sepi sedang memanipulasi istri dengan mengeluh. Opo ora disawat ndhasmu nganti nggepok.

Nggak perlulah apa-apa kita pandang dengan metode ini, teori itu, kadang suatu hal ya baiknya dipandang apa adanya. Apalagi ini sebuah lagu yang fungsinya untuk menghibur. Lha masak ya Abah Lala dianggap menormalisasi mental playing victim dan nggak mau berkompetisi, opo ra mumet ndasmu? Fungsi lagu koplo aja buat menghibur biar nggak mumet, malah dianalisis ndakik. Agak laen.

Jadi jangan sedikit-sedikit memakai kata “tinggi” pada sebuah isu. Apalagi tidak paham akar dari isu tersebut. Memaknai urusan sosial seperti lagu “Ojo Dibandingke” dengan ndakik-ndakik hanya membuat, sekali lagi, goblok. Dan, sekali lagi, Abah Lala ojo dibandingke dengan pasanganmu sing ra sepiro iku. Pasanganmu bisanya bikin meriang, Abah Lala bikin kita bergoyang, POKOKE GEDRUK!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jangan Pergi Ketika Didi Kempot Sudah Nggak Tenar Lagi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2022 oleh

Tags: abah lalaDangdutkoploOjo Dibandingneplaying victim
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Konser Putih Abu-Abu Pemkot Tegal Itu Aneh: Konser Dangdut, Temanya Anak SMA, untuk Memperingati HUT RI, Maksudnya Gimana?

Konser Putih Abu-Abu Pemkot Tegal Itu Aneh: Konser Dangdut, Temanya Anak SMA, untuk Memperingati HUT RI, Maksudnya Gimana?

14 Agustus 2023
sakit gigi

Kesengsaraan Mendalam Bagi Orang yang Sakit Gigi

12 Juni 2019
2 Alasan Bioskop Sebenarnya Belum Layak Didirikan di Demak

2 Alasan Bioskop Belum Layak Didirikan di Demak

20 Januari 2025
musik haram backST 12 indonesian idol menyanyi konser mojok

Berhenti Jadikan Agama sebagai Label Seseorang Pandai Menyanyi

9 Desember 2020
Rivalitas Penikmat Musik Jawa: Mulai Koplo hingga Campursari terminal mojok.co

Rivalitas Penikmat Musik Jawa: Mulai Koplo hingga Campursari

10 November 2020
Lagu Dangdut yang Haram Dinyanyikan di Resepsi Perkawinan (Unsplash)

Barisan Lagu Dangdut yang Idealnya Tidak Perlu Dibawakan di Resepsi Perkawinan

24 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.