Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

Yaser Fahrizal Damar Utama oleh Yaser Fahrizal Damar Utama
17 Agustus 2022
A A
Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“Mahasiswa baru sekarang banyak yang apatis, kerjaannya cuma ngehedon doang, diajak berkembang di organisasi nggak mau,” ujar seorang kader organisasi ekstra yang mengeluhkan sulitnya mendapat kader baru. Kurangnya minat mahasiswa di kampus-kampus beberapa tahun terakhir memang dirasakan di banyak tempat dan yang paling merasakannya adalah organisasi ekstra kampus.

Berbeda dengan BEM, Himpunan, dan UKM yang memiliki sasaran yang jelas untuk menggaet pengurus barunya. Berbeda dengan organisasi ekstra kampus, yang harus kerja ekstra untuk mempromosikan organisasinya.

Banyak organisasi ekstra yang akhirnya gulung tikar di kampus-kampus atau setidaknya merampingkan organisasinya seperti pengurangan komisariat. Apa penyebabnya? Apakah karena mahasiswa sekarang banyak yang tidak memiliki minat berorganisasi?

Benar itu menjadi salah satu faktor, tapi bukan satu-satunya.

Faktor terbesarnya adalah kejumudan organisasi tersebut dan ketidakmampuan para kader untuk adaptif dengan zaman. Banyak kader organisasi ekstra yang terjebak dengan budaya organisasi yang kuno dan menolak untuk menyadari bahwa ada beberapa hal yang sudah tidak relevan dan memerlukan penyesuaian.

Dalam momentum kongres atau munas, di mana seharusnya menjadi ajang untuk pembaharuan organisasi, mengevaluasi konstitusi dan pedoman-pedoman serta merumuskan arah gerak organisasi kedepannya, justru tidak melahirkan apa pun. Momentum ini hanya dianggap penting pada bagian kontestasi politiknya saja.

Kegiatan dan program yang dijalankan organisasi ekstra juga tidak bervariatif, cenderung monoton dari tahun ke tahun. Maka jangan heran jika banyak organisasi ekstra yang dalam promosinya hanya menjual nama-nama senior atau alumni mereka yang sudah sukses menempati posisi-posisi strategis di pemerintahan maupun dunia profesional. Ya gimana, hanya itu yang mereka miliki sebagai daya tawar.

Mereka tidak sadar bahwa zaman mereka dengan zaman senior-senior mereka yang sukses itu berbeda. Mungkin pada zaman senior-senior mereka aktif berorganisasi, organisasinya memang relevan dan dikelola dengan baik sehingga melahirkan sosok-sosok hebat yang mampu bersaing di bidangnya masing-masing.

Baca Juga:

Surat Terbuka untuk Kampus yang Menambah Mahasiswa dan Gedung, tapi Lahan Parkirnya Tetap Sempit, Logikanya di Mana?

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

Hari ini banyak kader organisasi ekstra yang angkuh dengan nama organisasinya sehingga merasa ogah untuk melakukan hal-hal teknis. Sudah merasa jadi orang besar mungkin.

Saya beri contoh terkait isu digitalisasi. Memang banyak organisasi ekstra yang akhir-akhir ini melakukan kajian terkait isu digitalisasi, tetapi mereka hanya selesai pada tataran konsep alias cuap-cuap doang. Buktinya masih banyak kader yang gaptek. Berapa banyak akun sosial media organisasi ekstra yang tidak dikelola dengan baik mulai dari komisariat sampai ke tingkat cabang?

Dibandingkan dengan melakukan banyak kajian dan pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi kader agar mampu berdaya dan bersaing di tengah kemajuan zaman saat ini, mereka lebih memilih menyibukan diri membuat gerbong-gerbong untuk kontestasi memperebutkan posisi dari periode ke periode tanpa tahu mau diisi dengan apa kepengurusan di setiap periode itu. Maka jangan heran jika program kerjanya sedikit tapi banyak konflik politik di internal organisasi ekstra hari ini.

Jika kita bicara sejarah, hampir semua organisasi ekstra kampus memiliki sejarah yang gemilang. Pada awal pembentukannya banyak ide-ide dan gagasan yang cerdas disertai dengan gerakan yang jelas dan terarah oleh para tokoh-tokohnya. Sehingga kehadiran mereka dapat dirasakan oleh semua pihak.

Namun hari ini, tidak banyak kader yang bertekad untuk memperpanjang sejarah gemilang itu. Mereka terjebak dengan romantisme masa lalu, tanpa sadar bahwa masa depan organisasinya ada di tangan mereka saat ini.

Saya mempertanyakan apa sebenarnya motivasi kader-kader ini ketika memutuskan masuk organisasi. Jika masuk hanya untuk kepentingan-kepentingan pragmatis seperti mendapatkan jejaring ketika lulus kuliah atau sekadar untuk menempati posisi-posisi strategis di kampus, tidak heran jika akhirnya banyak kader-kader non-ideologis seperti ini.

Sebagai salah satu kader organisasi ekstra kampus, saya merasa miris dengan kondisi ini dan amat menyayangkan organisasi-organisasi besar. Kini selangkah demi selangkah menuju jurang kematiannya bukan karena serangan dari pihak eksternal seperti dulu, tapi mati karena dibunuh oleh tingkah laku kadernya sendiri.

Penulis: Yaser Fahrizal Damar Utama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kritik buat Kader Organisasi Ekstra Kampus yang Ngerasa Kalah Pamor sama Komunitas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2022 oleh

Tags: ekstrakaderisasiKampuskonflik internalorganisasi
Yaser Fahrizal Damar Utama

Yaser Fahrizal Damar Utama

Bercita-cita memonetisasi celoteh-celotehnya

ArtikelTerkait

Calon Mahasiswa Perlu Mempertimbangkan 5 Hal Ini Sebelum Memutuskan Kuliah di UPI Bandung biar Nggak Kecewa

Calon Mahasiswa Perlu Mempertimbangkan 5 Hal Ini sebelum Memutuskan Kuliah di UPI Bandung biar Nggak Kecewa

16 Mei 2024
jangan beli mobil mobil korea hyundai datsun kia mojok

Apa sih Fungsi Stiker Kampus di Kaca Mobil?

16 Juni 2021
IPB romantis

IPB, Kampus Paling Romantis se-Indonesia

8 April 2020
Jadi Calon Ketua BEM Jangan Cuma Modal Ngotot, Situ Mau Jadi Pemimpin Apa Petinju?

Jadi Calon Ketua BEM Jangan Cuma Modal Ngotot, Situ Mau Jadi Pemimpin Apa Petinju?

22 Desember 2023
karang taruna pentas agustusan bendera merah putih indonesia terminalmojok

Menilik Sejarah Karang Taruna, Organisasi Paling Eksis di Bulan Agustus

5 Agustus 2021
Mahasiswa yang Kuliah Lama adalah Donatur Kampus Paling Dermawan Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Lama adalah Donatur Kampus Paling Dermawan

9 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

25 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
Cepu, Kecamatan di Blora yang Paling Pantas Dikasihani Mojok.co

Satu Dekade Merantau, Transportasi Umum di Blora Masih Gaib dan Jalanannya Bikin Cepat Menghadap Tuhan

24 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.