Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Satu Dekade Merantau, Transportasi Umum di Blora Masih Gaib dan Jalanannya Bikin Cepat Menghadap Tuhan

Fatikha Faradina oleh Fatikha Faradina
24 April 2026
A A
Cepu, Kecamatan di Blora yang Paling Pantas Dikasihani Mojok.co

Cepu, Kecamatan di Blora yang Paling Pantas Dikasihani (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah lebih dari satu dekade saya merantau meninggalkan Blora. Ada banyak hal yang berubah di dunia ini selama sepuluh tahun terakhir, tapi anehnya, ada satu hal yang sangat konsisten di kampung halaman saya, transportasi umum yang masih gaib alias tidak ada wujudnya.

Sebagai perantau yang sering pulang-pergi melintasi rute Bandung-Blora atau Jakarta-Blora, ketiadaan transportasi publik ini bukan sekadar perkara tidak nyaman, melainkan sebuah teror berulang. Titik pendaratan langganan saya adalah Stasiun Cepu. Sialnya, kereta sering kali memuntahkan penumpangnya di jam-jam yang sangat tidak manusiawi, misalnya jam 3 pagi. Di kota besar, jam segitu kita masih bisa santai mencari taksi atau angkutan malam. Di Cepu? Boro-boro.

ADVERTISEMENT

Tidak ada transportasi umum yang reliable. Alhasil, orang tua saya harus rela bangun di tengah malam buta, menerjang hawa dingin, murni untuk menjadi sopir dadakan. Menjemput pun tidak bisa sembarangan pakai motor. Kami wajib menggunakan mobil karena rute dari stasiun menuju rumah mengharuskan kami membelah hutan belantara Cepu. Gelap gulita, sepi, dan mencekam. Lewat sana malam-malam naik motor sama saja dengan menyerahkan diri pada mara bahaya. Sungguh sebuah penyambutan pulang kampung yang menguji nyali.

BACA JUGA: 3 Fakta Menarik tentang Blora yang Jarang Orang Bicarakan

Surat untuk Bupati yang (mungkin) jadi bungkus mendoan

Merasa situasi ini sudah sangat tidak masuk akal, saya pernah mencoba mengambil langkah elegan. Saya menyusun surat resmi, melayangkan keluhan dan saran panjang lebar kepada Kantor Bupati, Dinas Perhubungan, hingga instansi yang mengurus pembangunan daerah di Blora. Isi suratnya lugas saja, tolong sediakan transportasi umum yang layak.

Hasilnya? Tentu saja nihil.

Sampai detik ini, hilal angkutan umum itu tak kunjung tampak. Kadang saya membayangkan, jangan-jangan surat berisi aspirasi warga yang sudah saya susun rapi itu tidak pernah dibaca. Mungkin sekarang nasibnya sudah beralih fungsi menjadi kertas bungkus gorengan mendoan di kantin pemda. Rasanya ironis, suara warga yang mengeluhkan kebutuhan dasar malah cuma dianggap angin lalu.

Ironi anak sekolah dan bencana nyawa di jalanan Blora

Ketiadaan angkutan umum ini punya efek domino yang mengerikan. Coba luangkan waktu sejenak dan lihat anak-anak sekolah di Blora. Apa pemerintah daerah tidak kasihan melihat anak-anak yang kakinya saja belum menapak tanah dengan sempurna, sudah harus memaksakan diri mengendarai motor ke sekolah?

Baca Juga:

Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

Mereka ini usianya belum cukup, SIM jelas tidak punya, tapi dipaksa oleh keadaan untuk turun ke jalan raya berbagi aspal dengan kendaraan-kendaraan besar. Ini bukan perkara anak muda yang ingin gaya-gayaan jadi ngabers. Ini murni karena negara gagal menyediakan pilihan angkutan yang aman. Membiarkan anak di bawah umur berkendara setiap hari karena ketiadaan opsi sama saja dengan melegalkan bahaya bagi nyawa generasi penerus.

Penyakit silo organisasi: jalan rusak kok lempar tanggung jawab?

Penderitaan warga Blora makin paripurna ketika kita bicara soal kondisi aspal. Jalan-jalan di pedalaman banyak yang terabaikan, berlubang, dan kacau balau. Namun, setiap kali masyarakat protes, jawaban dari birokrat selalu seragam dan menjengkelkan: “Maaf, itu jalan kewenangan provinsi,” atau “Oh, itu jalan nasional, bukan wewenang kabupaten.”

Sikap ini memperlihatkan betapa parahnya mentalitas silo dalam organisasi pemerintahan kita. Setiap instansi dan tingkatan pemerintahan bekerja di dalam gelembungnya masing-masing. Ego sektoral diagungkan, sementara sinergi dan koordinasi antar-dinas lenyap entah ke mana.

Padahal, bagi kami warga awam di Blora, jalan ya sekadar jalan yang harus dilewati tiap hari. Kami selaku pembayar pajak tidak peduli dan tidak wajib hafal mana jalan kabupaten, mana jalan provinsi, atau mana jalan nasional. Kami hanya butuh jalan yang mulus dan aman untuk beraktivitas. Kalau pemerintah daerah kerjanya hanya duduk manis, memelihara birokrasi yang kaku, rajin lempar tanggung jawab, dan gagal mengurus hal fundamental semacam ini, lalu sebenarnya apa gunanya kalian ada?

Sebagai warga negara, saya merasa sudah menunaikan adab menegur yang paling luhur. Saya sudah menyampaikan keluhan ini secara tertutup, elegan, dan pribadi melalui surat resmi kepada pihak berwenang di Blora. Tapi karena tidak ada itikad baik apalagi perubahan, ya sudah.

Jangan salahkan saya kalau sekarang tulisan ini saya gelar di ruang publik biar masyarakat luas yang ikut menilai dan menghakimi kinerjanya. Toh, kita semua tahu betul hukum tata negara paling mutakhir di Indonesia: no viral, no progress, kan?

Penulis: Fatikha Faradina
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jangan Merantau ke Kabupaten Blora kalau Nggak Punya Kendaraan Sendiri, Transum di Sini Nyaris Punah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh

Tags: blorastasiun ceputransportasi umum di blora
Fatikha Faradina

Fatikha Faradina

Alumnus D3 Pajak STAN, melanjutkan studi sarjana Manajemen dan Hukum. Mengisi waktu sebagai analis pajak dan pemerhati kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Alasan Warga Blora Bagian Timur Ogah Main ke Alun-Alun Kabupaten Mojok.co

Alasan Warga Blora Bagian Timur Ogah Main ke Alun-Alun Kabupaten

6 Mei 2025
Jangan Merantau ke Kabupaten Blora kalau Nggak Punya Kendaraan Sendiri, Transum di Sini Nyaris Punah!

Jangan Merantau ke Kabupaten Blora kalau Nggak Punya Kendaraan Sendiri, Transum di Sini Nyaris Punah!

5 September 2024
Pelafalan Nama Daerah di Jawa Tengah (Unsplash.com)

Pelafalan Nama Daerah di Jawa Tengah Sesuai Lidah Penduduk Asli

14 Oktober 2022
3 Fakta Menarik tentang Blora yang Jarang Orang Bicarakan

3 Fakta Menarik tentang Blora yang Jarang Orang Bicarakan

15 November 2025
5 Fakta Ungker, Kepompong Ulat Jati yang Jadi Kuliner Khas Blora Mojok

5 Fakta Ungker, Kepompong Ulat Jati yang Jadi Kuliner Khas Blora

24 Desember 2023
Stasiun Cepu Blora, Stasiun Kecil di Jalur Pantura Timur yang Nggak Bisa Disepelekan

Stasiun Cepu Blora, Stasiun Kecil di Jalur Pantura Timur yang Nggak Bisa Disepelekan

10 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

27 Juli 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026
Rute kucing UGM, spot lari Jogja yang kalcer dan ramah untuk pelari pemula Mojok.co

Rute kucing UGM, spot lari Jogja yang kalcer dan ramah untuk pelari pemula

29 Juli 2026
Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa Mojok.co

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

28 Juli 2026
Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis Jogja adalah anomali, perempatan paling berpendidikan sekaligus meresahkan di Jogja

29 Juli 2026
Motor Honda Vario 150, Sahabat Terbaik Toko Kelontong (Unsplash). daihatsu sigra

Honda Vario 150 LED Old, motor yang semakin tua justru semakin diburu, motor Honda terbaik!

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.