Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bandung Memang Indah (Syarat dan Ketentuan Berlaku)

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
21 Juni 2022
A A
Bandung Memang Indah (Syarat dan Ketentuan Berlaku)

Jalan Layang Pasupati Bandung (Creativa Images/Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang, Bandung, sama halnya seperti Yogyakarta sering diromantisisasi oleh banyak orang. Mulai dari orang asing yang menjajah Indonesia, hingga rakyat jelata seperti kita. Sampai-sampai ada ungkapan legendaris, “Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum.”

Ungkapan tersebut saat ini dipampang secara jelas di kawasan ikonik Kota Bandung, yakni kawasan Asia Afrika. Buat yang belum tahu, ungkapan tersebut diungkapkan pertama kali oleh Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau akrab dipanggil M.A.W. Brouwer, seorang akademisi asal Belanda.

Ungkapan serupa kembali diungkap oleh salah satu seniman asal Bandung, Pidi Baiq lewat salah satu lagunya. “Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi”, yang dipampang berseberangan dengan kalimat M.A.W. Brouwer di kawasan Asia Afrika.

Penggalan kalimat tersebut pun dinyanyikan ulang oleh Danilla Riyadi sebagai soundtrack film Dilan yang semakin mengukuhkan romantisisasi Bandung yang sudah dikenal dunia selama berabad-abad.

Di era sosial media seperti saat ini, beredar banyak video singkat yang memperlihatkan betapa estetiknya Bandung, terutama sehabis hujan. Banyak orang luar berkomentar, “Wah, Bandung estetik ya kalau lagi hujan! Jadi pengin tinggal di Bandung!”

Sebagai orang Bandung dari lahir, saya hanya bisa berucap, “Bandung memang estetik, MyLov. Tapi, syarat dan ketentuan berlaku!”

Bandung estetik kalau lagi hujan itu hanya berlaku di daerah seperti Braga, Dago, Asia Afrika dan Jalan Riau saja. Pasalnya, daerah tersebut memang rindang dan banyak pepohonan. Banyak sekolah, restoran, hingga kantor pemerintahan maupun kantor swasta yang sudah berdiri di sana sejak masa Kolonial Belanda. Banyak juga rumah peninggalan orang Belanda maupun orang kaya Indonesia yang berdiri di sana. Infrastrukturnya juga mendukung banget. Makanya bisa dibilang estetik.

Coba kalau kalian main di daerah seperti Kopo, Mohamad Toha, Cibaduyut, Pasar Kordon, saya jamin lidah kalian tidak akan berujar seperti itu. Malah, kalian akan misuh-misuh mengeluarkan 100 makian.

Baca Juga:

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

Kenapa? Daerah tersebut sangatlah jauh dari kesan estetik sehabis hujan karena kemacetannya. Bukan hanya macet, daerah tersebut kerap kali diterjang banjir cileuncang, yakni sebuah istilah dalam bahasa Sunda untuk menggambarkan terjadinya genangan air di suatu tempat akibat terhambatnya pembuangan atau aliran air tersebut.

“Kalau lagi nggak hujan, gimana?”

Saat tidak hujan, daerah tersebut memang tidak semacet saat hujan turun. Tapi, bukan berarti estetik karena daerah itu jumlah pepohonan rindangnya tidak sebanyak daerah estetik yang saya sebutkan di atas, jadinya gersang banget. Udah gitu infrastrukturnya dari dulu sampai sekarang nggak ada perubahan sama sekali. Entah apa masalahnya, itu urusan pemerintah, bukan urusan saya.

“Berarti Bandung semrawut ya?”

Bisa dibilang, seperti itu, MyLov. Sejak zaman Kolonial Belanda, hanya “kawasan estetik” yang saya sebutkan di atas saja yang enak untuk ditempati. Kurang lebih, “kawasan estetik” memang hanya memiliki berjarak sejauh 5-6 kilometer dari pusat kotanya saja. Sangat mudah dijangkau oleh warga Bandung dengan menggunakan sepeda. Sebagian besar kota di Indonesia saat masa Kolonial Belanda memang seperti ini desainnya.

Teman-teman saya yang kuliah arsitektur atau planologi pun pernah bilang ke saya, Bandung itu dari awal memang didesain untuk destinasi wisata doang. Nggak cocok jadi kota metropolitan kayak Jakarta. Kalau mau kayak gitu, harus dihancurkan dan dibangun dari nol, tapi kan mustahil.

Makanya saat masih maba, tema-teman saya yang dari Jakarta misuh-misuh, “Di Bandung mah pusing naik mobil teh. Dikit-dikit lampu merah! Nggak kayak di Jakarta!” dan saat saya bekerja di Jakarta, saya jadi paham apa yang dimaksud teman-teman saya tersebut. Jalanan Bandung itu kecil-kecil, makanya dikit-dikit ketemu lampu merah. Udah gitu kendaraan bermotornya makin hari makin banyak, makanya macet banget. Sedari awal memang didesain untuk kota wisata doang, makanya jalanannya kecil-kecil.

Pemerintah Kolonial Belanda sempat berencana memindahkan ibu kota Hindia Belanda ke Bandung, makanya sempat dibangun kantor pusat kereta api, kantor pusat pemerintahan, hingga kantor pusat Angkatan Darat di Cimahi. Sayangnya, rencana tersebut gagal karena Hindia Belanda keburu berpindah ke tangan Jepang, makanya jadi semrawut.

Jadi ungkapan “Bandung estetik ya kalau lagi hujan!” memang kurang tepat untuk diucapkan. Yang tepat, indah, tapi syarat dan ketentuan berlaku. Hanya “kawasan estetik” yang saya sebutkan di atas saja yang rindang dan sejuk. Yang lainnya mah, nggak.

Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Klaten, Kota Indah yang (Sialnya) Terjepit Jogja dan Solo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2022 oleh

Tags: BandungBragakeindahan
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Hotel Murah Meriah di Sekitar Gedung Sate Bandung

5 Rekomendasi Hotel Murah Meriah di Sekitar Gedung Sate Bandung

21 April 2022
3 Tempat Makan di Bandung yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

3 Tempat Makan di Bandung yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup 

13 Februari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Bandung (Katanya) Kota Wisata, tapi Wisatawan Mau Parkir Saja Susah

Bandung (Katanya) Kota Wisata, tapi Wisatawan Mau Parkir Saja Susah

6 Juni 2025
4 Hal yang Menghancurkan Kenyamanan ketika Olahraga Lari di Pinggir Jalan Kota Bandung 

4 Hal yang Menghancurkan Kenyamanan ketika Olahraga Lari di Pinggir Jalan Kota Bandung 

15 September 2024
Banyaknya Fasilitas yang Rusak di Taman Monju Bukti Warga Bandung Belum Siap dengan Fasilitas Gratis

Banyaknya Fasilitas yang Rusak di Taman Monju Bukti Warga Bandung Belum Siap dengan Fasilitas Gratis

20 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.