Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Mencoba Jus Detoks: Berakhir Sebelum Matahari Terbenam di Hari Pertama

Meita Eryanti oleh Meita Eryanti
5 September 2019
A A
jus detoks

jus detoks

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, sepupuku menikah di Bandung. Aku dan suami datang untuk mendampingi orangtuaku yang datang dari Jogja. Jadi, di sanalah aku bertemu dengan saudara-saudara yang sudah sekian tahun tidak bertemu. Yang menyebalkan dari pertemuan itu adalah orang-orang yang berkomentar, “Meta gendutan ya sekarang.”

Hell yah! Nggak usah dikasih tahu aku juga sadar kalau aku sekarang tambah gendut. Aku juga punya kaca, kok, di rumah.

Awalnya aku nggak mau peduli tapi lama kelamaan aku sadar sendiri kalau pola hidupku harus berubah. Aku mulai merasakan beratnya membawa beban badan dan pencernaanku yang aku rasa kurang bagus.

Aku kemudian berkomitmen untuk bisa olahraga dan makan buah setiap hari. Pinginnya sih ikut gym atau kelas aerobik gitu. Tapi aku pikir-pikir lagi, sayang juga uangnya. Aku lalu mencari-cari di internet tentang program olahraga di internet. Dalam pencarian ‘jati diri’ itu, jadi mengunduh aplikasi pendamping olahraga bernama Freeletics (aku pakai yang mode gratis dulu) dan menemukan iklan jus detoks.

Dari yang aku baca, aku menyimpulkan kalau jus detoks adalah program diet yang menyarankan kita untuk mengkonsumsi jus buah dan sayuran selama 1, 3, atau 5 hari. Selama program kita tidak diperbolehkan makan makanan selain sayur dan buah. Banyak testimoni yang menyatakan bahwa program jus detoks ini efektif untuk menurunkan berat badan.

Saat proses pencarian itu, beranda Instagramku jadi banyak iklan jus detoks. Luar biasa yah teknologi informasi kita ini. Mengerti sekali apa yang kita butuhkan. Aku kemudian mengulik satu dari sekian iklan itu. Di akun itu, mereka menawarkan program jus detoks selama 3 hari. Selama program, aku cuma boleh sarapan telur rebus 2 butir, minum 1 botol jus detoks (ada 6 botol sehari) saat jam-jam tertentu, dan kalau lapar cuma boleh makan buah (misal pepaya atau pisang) dan minum air putih. Harga untuk 18 botol jus untuk 1 program tersebut sekitar 600 ribuan.

Ya ampun! Untuk mengumpulkan uang sejumlah 600 ribu itu agak berat, menurutku. Sayang kalau dihabiskan untuk membeli jus yang habis selama 3 hari. Kalau dihitung-hitung, itu berarti 200 ribu sehari. Satu botol jusnya lebih dari 30 ribu. Buat aku yang belum kaya, ya yang benar saja…

Aku kemudian melihat informasi di feed Instagram sebuah usaha cathering di Jakarta kalau di hari pertama program detoks itu aku harus meminum 4 botol jus yang terbuat dari bayam, timun, nanas, dan lemon serta 2 botol jus yang terbuat dari nanas dan air kelapa.

Baca Juga:

Menambah Berat Badan Nyatanya Nggak Sesederhana Makan Banyak. Tantangannya Nggak Kalah Susah dengan Menurunkan Berat Badan

5 Makanan Alfamart yang Cocok untuk Diet: Teman Setia Pejuang Berat Badan Tanpa Drama Berlebihan

Aku memutuskan mencoba untuk membuat jus detoks sendiri. Aku ke pasar untuk membeli nanas yang sebuahnya 10 ribu, bayam yang harganya 2 ribu per 3 ikat, timun yang satu kantong plastik 1 kiloan 8 ribu (kalo nggak salah), dan 4 buah lemon seharga 18 ribu serta membeli air kelapa dari sebutir kelapa muda seharga 10 ribu di seberang jalan. Dan aku beli semua bahan yang aku butuhkan dengan uang nggak sampai 100 ribu.

Aku mendapatkan resep jus detoks yang hampir mirip dengan yang dibuat oleh katering itu di Cookpad. Aku lalu mengikuti takaran dari resep di Cookpad itu. Seikat bayam, sebuah timun yang agak besar, seperempat buah nanas, dan 1 buah lemon aku giling dengan tambahan air secukupnya. Dan, jadilah 1 gelas besar jus detoks berwarna hijau aneh. Aku kemudian membuat 3 gelas lainnya.

Aku terbiasa untuk tidak makan berat saat sarapan. Biasanya, 2 buah bakpao dan segelas teh manis cukup. Aku baru mulai makan nasi pada jam 11 siang. Jadi, sarapan 2 butir telur rebus bukan hal yang terlalu memberatkan.

Pada pukul 10 pagi, aku kemudian meminum segelas jus detoks yang sudah aku buat. Pukul 11 siang, perutku mulai bergemuruh meminta diisi. Ini waktunya makan nasi, seharusnya. Aku kemudian makan pisang dan segelas air. Pukul 12, aku meminum gelas jus yang kedua. Pukul 2 siang, perutku mulai meronta-ronta lagi. Aku meminum gelas jus yang ketiga ditambah pisang dan air putih.

Aku sebenarnya agak geli meminum campuran itu. Nggak suka ada campuran bayam di minumannya. Aku mensugesti diriku sendiri, aku harus minum ini demi kebaikanku sendiri. Kayaknya, kondisi badan aku hari itu tidak pernah dalam keadaan kenyang. Rasanya aku kembung gitu dari tadi minum mulu.

Pukul 4 sore, aku masih meminum jus hijau itu. Namun pukul 5 sore akhirnya aku makan nasi dengan ikan goreng dan sayur lodeh. Berakhir sudah program diet jus detoksku. Perutku mengirim sinyal ‘kelaparan’ terus dan aku jadi nggak bisa melakukan banyak hal. Mau ngapa-ngapain juga males. Belum lagi kalau perut kita dalam kondisi kembung itu kan nggak enak ya.

Aku kemudian berfikir, ya pantas saja orang-orang turun berat badan berkilo-kilo setelah program jus detoks ini. Mereka nggak makan apa-apa kecuali minum jus tiap 2 jam sepanjang siang!

Di buku berjudul The Bad News About What’s Good For You, aku membaca kalau penulisnya (Jeff Wilser) mencoba untuk melakukan program jus detoks ini selama 5 hari. Dia tidak merasakan kelaparan yang aku rasakan. Dia bahkan bisa bermain tenis pada hari ke 4-nya. Pada hari ke 5, berat badannya turun sebanyak 6 pounds (kira-kira 2,7 kg) dan dia jadi bersemangat untuk minum jus di hari berikutnya. Kemudian aku merasa payah banget.

Namun dia bilang kalau jus detoks itu kalau diibaratkan hubungan laki-laki dan perempuan, bukan merupakan pernikahan yang sehat. Itu hanyalah one night stand. Saat program badanmu kurusan tapi berat badannya naik lagi setelah dia kembali memakan karbohidrat dan daging.

Ya, emang kayak gitu kan? Semua diet seperti itu kan? Kenaikan berat badan berbanding lurus dengan jumlah dan jenis makanan yang ditelan. Ya kalau mau kurus terus ya diet terus sampai selamanya. Jangan makan makanan ‘berat’ atau makanan ‘sampah’ lagi.

Mungkin bagi sebagian orang, program jus detoks ini efektif untuk menurunkan berat badan. Namun bagi aku nggak cocok. Aku nggak sekuat itu menahan lapar. Aku butuh protein dan karbohidrat untuk mengisi energiku. Aku butuh tenaga untuk ngepak buku-buku jualan, berolahraga, mencuci baju, memasak, bersih-bersih rumah, bahkan untuk ngobrol dengan tetangga.

Aku yakin untuk menambah jumlah buah dan sayuran dalam menu makananku sehari-hari serta mengurangi karbohidrat dan lemak setelah ini. Aku juga akan berusaha berolahraga. Namun aku tidak akan menyiksa diriku lagi dengan hanya minum jus seharian. Aku berupaya untuk bugar, bukan kurusan. Aku juga yakin untuk bilang ‘bodo amat’ sama kata orang. (*)

BACA JUGA Sambat Sejenak : Duh Iuran BPJS Kesehatan Naik Dua Kali Lipat atau tulisan Meita Eryanti lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 September 2019 oleh

Tags: Bodo Amatdietjus detoksKesehatanmenurunkan berat badan
Meita Eryanti

Meita Eryanti

ArtikelTerkait

Nggak Berani Menolak Tugas di Luar Tupoksi Pekerjaan, 4 Kerugian Ini Menanti

Nggak Berani Menolak Tugas di Luar Tupoksi Pekerjaan, 4 Kerugian Ini Menanti

2 Juli 2022
Fukumi Beras Porang: Sehat di Badan, Nggak Sehat di Kantong

Fukumi Beras Porang: Sehat di Badan, Nggak Sehat di Kantong

18 November 2022
Demi Menjaga Lingkungan, Apa Sebaiknya Kita Mandi Sehari Sehari Saja? teminal mojok.co

Betapa Sucinya Orang yang Suka Mandi dan Betapa Hinanya Orang yang Jarang Mandi

13 Agustus 2019
Pertolongan Pertama pada Sakit Gigi yang Dapat Kamu Coba di Rumah terminal mojok

Pertolongan Pertama pada Sakit Gigi yang Dapat Kamu Coba di Rumah

25 September 2021
kesehatan fisik dan mental

Kebiasaan yang Merusak Kesehatan Fisik dan Mental, Tapi Sering Dilakukan

19 September 2019
gym adalah doang mah Gampang! Yang Susah itu Istiqamahnya! terminal mojok

Nge-Gym doang mah Gampang, yang Susah Istiqamahnya!

22 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku Mojok.co

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

20 April 2026
7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung kerja di jakarta

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

20 April 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

17 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.