Pengalaman Mencoba Jus Detoks: Berakhir Sebelum Matahari Terbenam di Hari Pertama

Aku menyimpulkan kalau jus detoks adalah program diet yang menyarankan kita untuk mengkonsumsi jus buah dan sayuran selama 1, 3, atau 5 hari.

Artikel

Avatar

Beberapa waktu lalu, sepupuku menikah di Bandung. Aku dan suami datang untuk mendampingi orangtuaku yang datang dari Jogja. Jadi, di sanalah aku bertemu dengan saudara-saudara yang sudah sekian tahun tidak bertemu. Yang menyebalkan dari pertemuan itu adalah orang-orang yang berkomentar, “Meta gendutan ya sekarang.”

Hell yah! Nggak usah dikasih tahu aku juga sadar kalau aku sekarang tambah gendut. Aku juga punya kaca, kok, di rumah.

Awalnya aku nggak mau peduli tapi lama kelamaan aku sadar sendiri kalau pola hidupku harus berubah. Aku mulai merasakan beratnya membawa beban badan dan pencernaanku yang aku rasa kurang bagus.

Aku kemudian berkomitmen untuk bisa olahraga dan makan buah setiap hari. Pinginnya sih ikut gym atau kelas aerobik gitu. Tapi aku pikir-pikir lagi, sayang juga uangnya. Aku lalu mencari-cari di internet tentang program olahraga di internet. Dalam pencarian ‘jati diri’ itu, jadi mengunduh aplikasi pendamping olahraga bernama Freeletics (aku pakai yang mode gratis dulu) dan menemukan iklan jus detoks.

Dari yang aku baca, aku menyimpulkan kalau jus detoks adalah program diet yang menyarankan kita untuk mengkonsumsi jus buah dan sayuran selama 1, 3, atau 5 hari. Selama program kita tidak diperbolehkan makan makanan selain sayur dan buah. Banyak testimoni yang menyatakan bahwa program jus detoks ini efektif untuk menurunkan berat badan.

Saat proses pencarian itu, beranda Instagramku jadi banyak iklan jus detoks. Luar biasa yah teknologi informasi kita ini. Mengerti sekali apa yang kita butuhkan. Aku kemudian mengulik satu dari sekian iklan itu. Di akun itu, mereka menawarkan program jus detoks selama 3 hari. Selama program, aku cuma boleh sarapan telur rebus 2 butir, minum 1 botol jus detoks (ada 6 botol sehari) saat jam-jam tertentu, dan kalau lapar cuma boleh makan buah (misal pepaya atau pisang) dan minum air putih. Harga untuk 18 botol jus untuk 1 program tersebut sekitar 600 ribuan.

Ya ampun! Untuk mengumpulkan uang sejumlah 600 ribu itu agak berat, menurutku. Sayang kalau dihabiskan untuk membeli jus yang habis selama 3 hari. Kalau dihitung-hitung, itu berarti 200 ribu sehari. Satu botol jusnya lebih dari 30 ribu. Buat aku yang belum kaya, ya yang benar saja…

Aku kemudian melihat informasi di feed Instagram sebuah usaha cathering di Jakarta kalau di hari pertama program detoks itu aku harus meminum 4 botol jus yang terbuat dari bayam, timun, nanas, dan lemon serta 2 botol jus yang terbuat dari nanas dan air kelapa.

Baca Juga:  Chinese Restaurant Syndrome: Apakah Generasi Micin Can Relate?

Aku memutuskan mencoba untuk membuat jus detoks sendiri. Aku ke pasar untuk membeli nanas yang sebuahnya 10 ribu, bayam yang harganya 2 ribu per 3 ikat, timun yang satu kantong plastik 1 kiloan 8 ribu (kalo nggak salah), dan 4 buah lemon seharga 18 ribu serta membeli air kelapa dari sebutir kelapa muda seharga 10 ribu di seberang jalan. Dan aku beli semua bahan yang aku butuhkan dengan uang nggak sampai 100 ribu.

Aku mendapatkan resep jus detoks yang hampir mirip dengan yang dibuat oleh katering itu di Cookpad. Aku lalu mengikuti takaran dari resep di Cookpad itu. Seikat bayam, sebuah timun yang agak besar, seperempat buah nanas, dan 1 buah lemon aku giling dengan tambahan air secukupnya. Dan, jadilah 1 gelas besar jus detoks berwarna hijau aneh. Aku kemudian membuat 3 gelas lainnya.

Aku terbiasa untuk tidak makan berat saat sarapan. Biasanya, 2 buah bakpao dan segelas teh manis cukup. Aku baru mulai makan nasi pada jam 11 siang. Jadi, sarapan 2 butir telur rebus bukan hal yang terlalu memberatkan.

Pada pukul 10 pagi, aku kemudian meminum segelas jus detoks yang sudah aku buat. Pukul 11 siang, perutku mulai bergemuruh meminta diisi. Ini waktunya makan nasi, seharusnya. Aku kemudian makan pisang dan segelas air. Pukul 12, aku meminum gelas jus yang kedua. Pukul 2 siang, perutku mulai meronta-ronta lagi. Aku meminum gelas jus yang ketiga ditambah pisang dan air putih.

Aku sebenarnya agak geli meminum campuran itu. Nggak suka ada campuran bayam di minumannya. Aku mensugesti diriku sendiri, aku harus minum ini demi kebaikanku sendiri. Kayaknya, kondisi badan aku hari itu tidak pernah dalam keadaan kenyang. Rasanya aku kembung gitu dari tadi minum mulu.

Pukul 4 sore, aku masih meminum jus hijau itu. Namun pukul 5 sore akhirnya aku makan nasi dengan ikan goreng dan sayur lodeh. Berakhir sudah program diet jus detoksku. Perutku mengirim sinyal ‘kelaparan’ terus dan aku jadi nggak bisa melakukan banyak hal. Mau ngapa-ngapain juga males. Belum lagi kalau perut kita dalam kondisi kembung itu kan nggak enak ya.

Baca Juga:  Berkaca Dari Viralnya Audrey Yu Jia Hui, Pentingnya Saring Sebelum Sharing

Aku kemudian berfikir, ya pantas saja orang-orang turun berat badan berkilo-kilo setelah program jus detoks ini. Mereka nggak makan apa-apa kecuali minum jus tiap 2 jam sepanjang siang!

Di buku berjudul The Bad News About What’s Good For You, aku membaca kalau penulisnya (Jeff Wilser) mencoba untuk melakukan program jus detoks ini selama 5 hari. Dia tidak merasakan kelaparan yang aku rasakan. Dia bahkan bisa bermain tenis pada hari ke 4-nya. Pada hari ke 5, berat badannya turun sebanyak 6 pounds (kira-kira 2,7 kg) dan dia jadi bersemangat untuk minum jus di hari berikutnya. Kemudian aku merasa payah banget.

Namun dia bilang kalau jus detoks itu kalau diibaratkan hubungan laki-laki dan perempuan, bukan merupakan pernikahan yang sehat. Itu hanyalah one night stand. Saat program badanmu kurusan tapi berat badannya naik lagi setelah dia kembali memakan karbohidrat dan daging.

Ya, emang kayak gitu kan? Semua diet seperti itu kan? Kenaikan berat badan berbanding lurus dengan jumlah dan jenis makanan yang ditelan. Ya kalau mau kurus terus ya diet terus sampai selamanya. Jangan makan makanan ‘berat’ atau makanan ‘sampah’ lagi.

Mungkin bagi sebagian orang, program jus detoks ini efektif untuk menurunkan berat badan. Namun bagi aku nggak cocok. Aku nggak sekuat itu menahan lapar. Aku butuh protein dan karbohidrat untuk mengisi energiku. Aku butuh tenaga untuk ngepak buku-buku jualan, berolahraga, mencuci baju, memasak, bersih-bersih rumah, bahkan untuk ngobrol dengan tetangga.

Aku yakin untuk menambah jumlah buah dan sayuran dalam menu makananku sehari-hari serta mengurangi karbohidrat dan lemak setelah ini. Aku juga akan berusaha berolahraga. Namun aku tidak akan menyiksa diriku lagi dengan hanya minum jus seharian. Aku berupaya untuk bugar, bukan kurusan. Aku juga yakin untuk bilang ‘bodo amat’ sama kata orang. (*)

BACA JUGA Sambat Sejenak : Duh Iuran BPJS Kesehatan Naik Dua Kali Lipat atau tulisan Meita Eryanti lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.214 kali dilihat

4

Komentar

Comments are closed.