Dari Softex ke Softex: Perjalanan Seorang Pemakai Pembalut Wanita Bermazhab Tuku-able – Terminal Mojok

Dari Softex ke Softex: Perjalanan Seorang Pemakai Pembalut Wanita Bermazhab Tuku-able

Artikel

Aminah Sri Prabasari

Pada usia berapa kamu tahu bahwa pembalut wanita yang dipakai saat menstruasi ada dua jenis, yakni disposable dan reusable? Pembalut disposable adalah pembalut sekali pakai, beredar di pasaran dengan berbagai merek. Sedangkan pembalut reusable adalah pembalut yang bisa dicuci lalu pakai berkali-kali. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Saya mengenal pembalut wanita reusable pertama kali saat masih kecil sebagai selembar kain katun (sering kali bekas) yang dilipat sedemikian rupa, kemudian dipeniti supaya menyatu dengan celana dalam. Kemudian mulai dikenal menspad, pembalut kain dalam bentuk yang lebih efisien, tahun 2014. Ibu Rafiah Rusyda adalah pelopor pembuatan menspad di dalam negeri dengan merek Yuspin. Berawal dari keluhan ibundanya yang mengalami iritasi karena pembalut disposable dan dokter menyarankan memakai pembalut kain, Yuspin diproduksi awalnya hanya untuk dipakai sendiri.

Memang, seperti halnya beragama, pengalaman dengan pembalut adalah sebuah perjalanan personal. Jika beragama membuat seseorang terhubung dengan Tuhan, maka pengalaman dengan pembalut wanita membuat perempuan lebih mengenal tubuh dan dirinya sendiri.

Bagi saya yang tak bisa sesuka hati memilih pembalut karena bukan anak sultan, pertimbangan pertama dalam memilih pembalut adalah harganya harus terjangkau dan produknya mudah ditemukan di minimarket dan warung. Jadi, inilah cerita perjalanan saya, seorang pemakai pembalut bermazhab tuku-able. Let’s go!

Menstruasi pertama saya terjadi di usia 13, tahun 1996. Ibu memberi saya pembalut wanita merek Softex. Rasanya tak nyaman, tebal, dan gerah, namun jauh lebih baik ketimbang tidak pakai sama sekali, meski setelah pemakaian sekian jam mulai terasa lengket. Di akhir tahun 1996, Softex mulai susah didapat di toko-toko di desa saya, akhirnya saya pun beralih ke merek Hers. Saya masih ingat kemasan pembalut Hers era 90-an bergambar perempuan cantik bergaun putih dan seekor merpati yang juga berwarna putih.

Meski mereknya Hers, semua orang tetap menyebut Softex saat membeli di warung, “Softex gambar merpati,” seakan Hers adalah Softex yang berganti kemasan.

Bentuk pembalutnya pun mirip, demikian juga dengan kelemahan-kelemahannya: 1) daya serap rendah sehingga harus sering diganti sementara bentuknya tebal dan panjang tanpa pembungkus satuan, jadi menyulitkan untuk dibawa, 2) kapas di bagian dalam sering kali menggumpal dan bergeser yang sering membuat darah menstruasi bocor menembus celana dalam, 3) hanya ada tiga garis perekat dengan daya rekat yang rendah membuat pemakainya tidak leluasa bergerak karena takut pembalut lepas.

Baca Juga:  Beberapa Tips Merakit Gunpla agar Hasilnya Maksimal

Kurang lebih setelah setahun menstruasi, saya baru tahu bahwa pembalut wanita yang biasa saya pakai adalah varian yang termurah!

Menurut Ibu saya, pembalut harus sering diganti, oleh karena itu beli yang murah saja. Saya tidak sependapat. Harus beraktivitas dengan pembalut yang punya banyak kelemahan membuat hari-hari yang sulit karena menstruasi jadi terasa makin suram. Menurut saya saat itu, pembalut yang ideal haruslah praktis dan tidak perlu diganti seharian. Namanya juga anak ABG, malu ke sekolah bawa pembalut. Kalau ketahuan anak laki-laki bisa dipakai mainan dan ditertawakan.

Oleh karenanya, saya mulai tekun memerhatikan iklan pembalut di majalah dan televisi di 1997 dan minta dibelikan pembalut yang lebih memadai untuk digunakan beraktivitas, terutama saat berolahraga. Pilihan saya jatuh pada Laurier yang punya tiga varian; night safe, maxi, dan regular. Selain itu, Laurier punya teknologi wonder gel (mengubah cairan darah menstruasi menjadi gel), ada lapisan untuk mengatasi kebocoran samping, dan daya rekat yang lebih kuat ketimbang Hers.

Laurier memberi pengetahuan baru bahwa jenis pembalut harus sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan pemakainya. Apalagi Laurier juga punya varian wings dengan perekat yang kuat. Penyelamat masa remaja saya, deh, pokoknya.

Kesetiaan saya pada Laurier runtuh pada tahun 1999 saat toko dekat kos (saya sudah jadi anak SMA waktu itu) menjual pembalut merek Whisper. Iklannya di majalah Gadis, majalah remaja yang saya baca saat itu, menyebut teknologi dri-weave alias lebih cepat kering plus wings. Sangat menggoda untuk anak SMA yang berkegiatan di sekolah mulai jam 7 pagi sampai jam 4 sore.

Seharian cukup satu pembalut saja, lebih praktis dan hemat, pikir saya waktu itu. Kelemahan pembalut Whisper adalah membuat kulit iritasi, terutama di awal menstruasi karena volume darah lebih banyak. Karena itu, meski Whisper mengeluarkan varian slim di tahun 2000, saya kembali pakai Laurier (varian soft care slim) yang lapisan atasnya memang lebih lembut.

Tahun 2001 saya beralih ke Charm yang lebih bisa diandalkan ketimbang Laurier. Charm adalah potret pembalut yang mengerti kebutuhan perempuan, apa pun disediakan. Charm selalu jadi andalan saat aktivitas padat atau sedang dalam perjalanan jauh sehingga memerlukan duduk yang lama karena punya teknologi “kembali ke bentuk semula” yang tidak ditawarkan Laurier. Kelemahannya yang paling terasa adalah menyebabkan iritasi. Karena itu, saya memakai Charm hanya di malam hari (varian night safe ukuran 35 cm) dan saat awal haid perjalanan jauh (varian extra maxi). Sisanya saya memakai Laurier varian active day yang diganti setiap empat jam.

Baca Juga:  Pengalaman Spiritual yang Saya Alami Saat Bertemu Rawon Kuah Kecap

Satu hal yang paling juara dari Charm dan Laurier adalah mereka menyediakan versi renceng!

Selain bisa dibeli di warung pelosok sekalipun, versi renceng memudahkan pembalut dibawa bepergian. Selain lebih bersih, kemasannya pun bisa dipakai untuk membungkus pembalut bekas pakai.

Namun, meski saya memakai Charm dipadukan dengan Laurier, tetap saja muncul iritasi kulit. Mengganti merek pembalut disposable yang menjanjikan bebas iritasi, tentu saja dengan harga yang lebih mahal ketimbang yang ada di pasar, bukanlah jalan ninja pemakai pembalut bermazhab tuku-able seperti saya. Terlebih pembalut harus tetap diganti setiap empat jam. Bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk 20 hingga 30-an lembar pembalut untuk kebutuhan selama sebulan? Sungguh tercela pemborosan yang seperti ini. Di sisi lain, ada isu lingkungan hidup yang perlu diperhatikan, pembalut disposable baru bisa terurai setelah 200-800 tahun. Ngeri nggak, sih?

Karena itu pembalut reusable adalah solusinya! Karena menspad mulai diproduksi sejak tahun 2014, di tahun 2015 mulai banyak varian yang bisa dipilih. Saya memilih pakai merek Yuspin sebagai pionir menspad di Indonesia. Ada tiga jenis menspad; jenis menyatu (bentuknya seperti pembalut disposable pada umumnya sehingga cocok dipakai pemula), jenis holder (bisa ditambahkan refill sehingga cocok untuk volume darah menstruasi yang banyak), dan jenis lipat (bisa dipakai lebih dari sekali) hanya sayangnya sulit ditemukan.

Apakah setelah pakai menspad masalah saya selesai? Ternyata tidak. Setelah tiga bulan memakai menspad saya putuskan mengkombinasikan dengan pembalut disposable, karena meski lebih ramah lingkungan, menspad juga punya kekurangan dan jika tidak berhati-hati malah bisa menyebabkan penyakit seperti jamur dan bakteri. Daya tampung menspad seperti pembalut disposable, hanya sekitar 5-6 ml saja. Dengan kata lain, menspad harus sering diganti.

Baca Juga:  Siapa di Balik InsightID: Manipulasi Platform untuk Manipulasi Informasi

Menspad jadi kurang praktis untuk dipakai perempuan pekerja, demikian juga saat perjalanan jauh, apalagi jika harus menginap. Karena itu menspad saya pakai saat malam hari saja, merek Yuspin dengan ukuran 35 cm. Saat libur dan hanya di rumah saja, pilihan saya jatuh pada menspad merek Demibumi varian waterproof (tersedia tiga ukuran 20, 26, dan 32) dan menspad organik dari Greenmomnyshop untuk pemakaian siang hari. Saat bekerja dan sedang dalam perjalanan jauh (terutama menginap) tebak saya pakai merek apa? Pakai cinta pertama, Softex!

Softex di masa kini sudah lebih canggih, dong. Hail technology! Softex favorit saya adalah Softex Daun Sirih, mulai saya pakai di 2015. Laf banget pokoknya, bikin saya lupa sama Charm dan Laurier yang menurut survei adalah produk pembalut terpopuler.

Softex Daun Sirih terdapat antiseptik yang menghambat pertumbuhan bakteri. Ada enam varian yang tersedia: slim regular flow wing/non wing (ukuran 23 cm), slim heavy flow (ukuran 29 cm), slim extra heavy flow (ukuran 36 cm), serta pantyliner ukuran 15 dan 18. Tinggal pilih saja sesuai dengan kebutuhan. Harganya yang terjangkau dan mudah didapat sesuai dengan jalan ninja saya yang bermazhab tuku-able. Ini seperti “teklek kecemplung kalen, timbang golek wani balen” yang artinya “daripada capek nyari-nyari mending balikan saja”, hahaha.

Mengingat awal mula PT Softex dari sebuah pabrik kaos singlet PT Mozambique di Jakarta bagian Barat, pekerja perempuannya sering membawa pulang sisa kain yang tak terpakai untuk digunakan sebagai pembalut saat menstruasi. Saya membayangkan ada riset untuk menciptakan kain dengan teknologi canggih untuk dipakai sebagai bahan pembalut reusable, kemudian muncul produk baru dari Softex tanpa klorin dan zat berbahaya lain. Selain lebih sehat juga ramah lingkungan. Wuih, makin cinta, deh, ntar!

BACA JUGA Nyobain Charm Cooling Fresh, Pembalut dengan Sensasi Semriwing Kebangetan dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
12


Komentar

Comments are closed.