Magelang tempat slow living paling pas.
Belakangan saya banyak melihat komentar netizen yang menghujat gaya hidup slow living. Katanya, slow living itu cuma mitos dan akal-akalan influencer untuk engagement. Ada pula yang komentar slow living di desa malah kena mental karena tetangga ngeselin. Tidak sedikit pula yang menganggap gaya hidup ini cuma cocok untuk orang tajir yang gajinya sudah aman tujuh turunan.
Membaca keluhan itu saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Pertama, kemungkinan besar mereka salah kaprah soal slow living. Kedua, mereka mungkin salah pilih tempat untuk slow living.
Komentar slow living di desa bikin kena mental benar-benar di luar nalar saya. Konon katanya, tetangga yang kepo dan terlalu ikut campur menjadi penyebabnya. Saya hanya bisa ngebatin kalau itulah risiko dari pilihan slow living di desa. Karakter orang kota dan desa jelas berbeda. Itu mengapa, sebelum pindah slow living di desa sebaiknya persiapkan juga soal adaptasi sosial.
Jadi, jangan salah kaprah dengan menganggap hidup slow living itu selalu enak, banyak pula tantangannya. Namun, semua itu terbayar kalau kalian bisa memilih tempat slow living yang tepat seperti Magelang.
Magelang adalah paket komplet untuk slow living
Saya bukan orang asli Magelang, tapi saya pernah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) agak lama di sana. Saya juga sering main ke rumah kawan saya yang ada di daerah dengan julukan Kota Sejuta Bunga itu. Tiap kali kembali ke Magelang, saya jadi tersadar alasan orang-orang kota memilih menepi ke daerah ini.
Pertama soal kondisi tanahnya. Tanah di Magelang itu mayoritas subur. Kalian mau menanam apa saja pasti jadi. Menanam buah-buahan hingga sayuran untuk kebutuhan dapur pun bisa. Itu mengapa, kalau kalian berharap bisa slow living dan hidup dari hasil kebun yang di tanah sendiri, Magelang adalah pilihan yang tepat.
Selain tanah yang subur, Magelang yang berada di bawah kaki gunung punya udara sejuk. Bahkan, di beberapa daerah seperti Kaliangkrik, Ngablak, atau Grabag bisa bikin kalian lupa kalau Magelang masih berada di Indonesia yang merupakan negara tropis.
Lalu soal air, jangan ditanya. Magelang itu sumbernya air jernih dan bersih. Kalian bisa mandi tanpa khawatir kulit jadi kering atau alergi. Beda banget dengan air di kota-kota besar seperti di Jakarta misal.
Harga makanan yang ramah di kantong
Satu hal yang bikin saya jatuh hati dengan Magelang adalah makanan dan harganya. Saya ingat betul saat masih PPL di sana sering jajan di sebuah warung pecel. Satu porsi makanan di sana harganya Rp8.000 hingga Rp10.000 saja. Itu pecel lengkap yang sayurnya banyak, bumbu kacangnya meresap, kerupuknya renyah. Bukan pecel yang alakadarnya.
Tidak hanya sayur pecel, makanan lain pun relatif ramah di kantong dibanding makanan yang di jual di kota-kota besar lain yang kebanyakan sudah tembus di atas Rp20.000. Itu baru makanan, padahal biaya hidup lain Magelang yang terjangkau.
Bayangkan kalian dengan tabungan dari gaji kerja di kota besar hidup kemudian tinggal di sana. Hidup akan jauh lebih aman karena biaya hidup yang relatif terjangkau.
Sepi, tapi tidak kesepian
Ketika saya PPL dulu, yang paling berkesan adalah suasana sore hingga malam hari. Menjelang maghrib, suara azan bersahutan dari masjid ke masjid. Warga berjalan pelan menuju masjid terdekat, beberapa bahkan pakai sarung sambil jalan karena baru selesai mandi.
Setelah maghrib, suasana jadi tenang. Bukan sepi yang mencekam kayak di film horor, tapi tenang yang bikin pikiran terasa lebih ringan. Subuh pun begitu. Jamaah masjid terasa hangat, bukan karena orangnya banyak, tapi karena ayemnya itu loh yang sulit ditemukan di kota besar.
Ini yang saya kira dicari orang-orang ketika mereka bilang ingin slow living. Bukan sekadar rumah dengan view sawah di Instagram, tapi suasana spiritual dan sosial yang membuat hati tidak terus-terusan terburu-buru.
Magelang menanti
Magelang itu hadir dengan semua prasyarat yang orang-orang idamkan dari slow living: tanah subur, udara sejuk, air bersih, makanan murah, dan komunitas yang hangat. Yang dibutuhkan cuma satu, kesediaan untuk tidak jadi orang kota lagi. Kesediaan untuk menyapa tetangga, ikut pengajian, bantu gotong royong kalau ada kerja bakti, dan sesekali nongkrong di warkop sambil ngobrol soal harga pupuk.
Kalau kesediaan itu ada, Magelang adalah jawabannya. Kalau tidak ada, mungkin masalahnya memang bukan di kota tempat Anda tinggal. Mungkin masalahnya di ekspektasi kalian tentang slow living yang terlalu ndekem dan anti-tetangga.
Magelang sudah siap. Kebun sudah menunggu. Harga rumahnya juga masih masuk akal. Tinggal Anda-nya yang perlu memutuskan, mau benar-benar pelan atau cuma pengen terlihat pelan di Instagram saja.
Penulis: Muhammad Daviq Nuruzzuhal
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















