Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

M. Daviq Nuruzzuhal oleh M. Daviq Nuruzzuhal
17 April 2026
A A
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Magelang tempat slow living paling pas.

Belakangan saya banyak melihat komentar netizen yang menghujat gaya hidup slow living. Katanya, slow living itu cuma mitos dan akal-akalan influencer untuk engagement. Ada pula yang komentar slow living di desa malah kena mental karena tetangga ngeselin. Tidak sedikit pula yang menganggap gaya hidup ini cuma cocok untuk orang tajir yang gajinya sudah aman tujuh turunan. 

Membaca keluhan itu saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Pertama, kemungkinan besar mereka salah kaprah soal slow living. Kedua, mereka mungkin salah pilih tempat untuk slow living. 

Komentar slow living di desa bikin kena mental benar-benar di luar nalar saya. Konon katanya, tetangga yang kepo dan terlalu ikut campur menjadi penyebabnya. Saya hanya bisa ngebatin kalau itulah risiko dari pilihan slow living di desa. Karakter orang kota dan desa jelas berbeda. Itu mengapa, sebelum pindah slow living di desa sebaiknya persiapkan juga soal adaptasi sosial. 

Jadi, jangan salah kaprah dengan menganggap hidup slow living itu selalu enak, banyak pula tantangannya. Namun, semua itu terbayar kalau kalian bisa memilih tempat slow living yang tepat seperti Magelang. 

Magelang adalah paket komplet untuk slow living

Saya bukan orang asli Magelang, tapi saya pernah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) agak lama di sana. Saya juga sering main ke rumah kawan saya yang ada di daerah dengan julukan Kota Sejuta Bunga itu. Tiap kali kembali ke Magelang, saya jadi tersadar alasan orang-orang kota memilih menepi ke daerah ini. 

Pertama soal kondisi tanahnya. Tanah di Magelang itu mayoritas subur. Kalian mau menanam apa saja pasti jadi. Menanam buah-buahan hingga sayuran untuk kebutuhan dapur pun bisa. Itu mengapa, kalau kalian berharap bisa slow living dan hidup dari hasil kebun yang di tanah sendiri, Magelang adalah pilihan yang tepat. 

Selain tanah yang subur, Magelang yang berada di bawah kaki gunung punya udara sejuk. Bahkan, di beberapa daerah seperti Kaliangkrik, Ngablak, atau Grabag bisa bikin kalian lupa kalau Magelang masih berada di Indonesia yang merupakan negara tropis. 

Baca Juga:

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Lalu soal air, jangan ditanya. Magelang itu sumbernya air jernih dan bersih. Kalian bisa mandi tanpa khawatir kulit jadi kering atau alergi. Beda banget dengan air di kota-kota besar seperti di Jakarta misal.  

Harga makanan yang ramah di kantong

Satu hal yang bikin saya jatuh hati dengan Magelang adalah makanan dan harganya. Saya ingat betul saat masih PPL di sana sering jajan di sebuah warung pecel. Satu porsi makanan di sana harganya Rp8.000 hingga Rp10.000 saja. Itu pecel lengkap yang sayurnya banyak, bumbu kacangnya meresap, kerupuknya renyah. Bukan pecel yang alakadarnya. 

Tidak hanya sayur pecel, makanan lain pun relatif ramah di kantong dibanding makanan yang di jual di kota-kota besar lain yang kebanyakan sudah tembus di atas Rp20.000. Itu baru makanan, padahal biaya hidup lain Magelang yang terjangkau. 

Bayangkan kalian dengan tabungan dari gaji kerja di kota besar hidup kemudian tinggal di sana. Hidup akan jauh lebih aman karena biaya hidup yang relatif terjangkau.  

Sepi, tapi tidak kesepian

Ketika saya PPL dulu, yang paling berkesan adalah suasana sore hingga malam hari. Menjelang maghrib, suara azan bersahutan dari masjid ke masjid. Warga berjalan pelan menuju masjid terdekat, beberapa bahkan pakai sarung sambil jalan karena baru selesai mandi. 

Setelah maghrib, suasana jadi tenang. Bukan sepi yang mencekam kayak di film horor, tapi tenang yang bikin pikiran terasa lebih ringan. Subuh pun begitu. Jamaah masjid terasa hangat, bukan karena orangnya banyak, tapi karena ayemnya itu loh yang sulit ditemukan di kota besar.

Ini yang saya kira dicari orang-orang ketika mereka bilang ingin slow living. Bukan sekadar rumah dengan view sawah di Instagram, tapi suasana spiritual dan sosial yang membuat hati tidak terus-terusan terburu-buru.

Magelang menanti

Magelang itu hadir dengan semua prasyarat yang orang-orang idamkan dari slow living: tanah subur, udara sejuk, air bersih, makanan murah, dan komunitas yang hangat. Yang dibutuhkan cuma satu, kesediaan untuk tidak jadi orang kota lagi. Kesediaan untuk menyapa tetangga, ikut pengajian, bantu gotong royong kalau ada kerja bakti, dan sesekali nongkrong di warkop sambil ngobrol soal harga pupuk.

Kalau kesediaan itu ada, Magelang adalah jawabannya. Kalau tidak ada, mungkin masalahnya memang bukan di kota tempat Anda tinggal. Mungkin masalahnya di ekspektasi kalian tentang slow living yang terlalu ndekem dan anti-tetangga.

Magelang sudah siap. Kebun sudah menunggu. Harga rumahnya juga masih masuk akal. Tinggal Anda-nya yang perlu memutuskan, mau benar-benar pelan atau cuma pengen terlihat pelan di Instagram saja.

Penulis: Muhammad Daviq Nuruzzuhal
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 April 2026 oleh

Tags: bijakkotamagelangorang kotaslow living
M. Daviq Nuruzzuhal

M. Daviq Nuruzzuhal

Mahasiswa UIN yang lagi skripsian di rumah, suka menulis isu-isu random yang bikin resah orang banyak.

ArtikelTerkait

3 Rekomendasi Supermarket di Kota Magelang, Cocok buat Belanja Anak Kos

3 Rekomendasi Supermarket di Kota Magelang, Cocok buat Belanja Anak Kos

26 September 2023
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

9 Juni 2026
Bubur Blendrang Magelang, Kuliner Unik yang Perlu Diketahui Lebih Banyak Orang Mojok.co

Bubur Blendrang Magelang, Kuliner Unik yang Perlu Diketahui Lebih Banyak Orang

1 Desember 2024
Tengaran Kulon Semarang Cocok untuk Slow Living asal Bisa Berdamai dengan Jalannya yang Bobrok Mojok.co

Tengaran Kulon Semarang Cocok untuk Slow Living asal Bisa Berdamai dengan Jalannya yang Bobrok 

29 April 2025
4 Tempat Wisata Magelang yang Sebaiknya Dihindari agar Liburan Panjang Tetap Nyaman

4 Tempat Wisata Magelang yang Sebaiknya Dihindari agar Liburan Panjang Tetap Nyaman

18 Desember 2024
Julukan Kota Sejuta Bunga Masih Pantas Disematkan pada Magelang, tapi Ada Syaratnya

Julukan “Kota Sejuta Bunga” Masih Pantas Disematkan pada Magelang, tapi Ada Syaratnya

18 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

27 Juli 2026
Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos Mojok.co

Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos

28 Juli 2026
Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

29 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.