Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Mohammad Rafatta Umar oleh Mohammad Rafatta Umar
19 Januari 2026
A A
Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Share on FacebookShare on Twitter

Warkop, yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan sementara dari asam pahit kehidupan, direduksi menjadi sekadar tempat viral untuk dikunjungi agar dianggap gaul dan tidak merasa tertinggal. Dan ujung-ujungnya malah bikin kecewa. Itulah Warkop Bulungan, Blok M.

Aye, teman dekat saya sejak SMP, tiba-tiba nyeletuk untuk menyarankan ke Blok M saja. Khususnya, ke Warkop Bulungan. Sudah hampir setahun kami tidak nongkrong karena kesibukan kami di kampus masing-masing. Baru hari ini kami punya waktu yang pas di mana kami tidak memiliki agenda apa-apa untuk dilakukan.

Entah mengapa saya mengiyakan sarannya tanpa alasan yang jelas. Kalau dari sisi Aye, mungkin ia ingin bernostalgia ke Blok M dan melewati jalan yang dia dulu selalu ia lewati ketika berangkat sekolah di SMA 6.

Akhirnya kami berangkat dari Pasar Minggu ke Blok M dengan waktu tempuh hampir 2 jam dengan mobilnya Aye. Macetnya Jakarta memang sialan. Kami berangkat pukul tujuh malam dan baru sampai jam sembilan. Ini hari Kamis dan ini adalah jam-jam orang pulang kerja. Kami sudah hidup 20 tahun hidup di Jakarta, tapi masih naif dengan keadaan jalannya.

Ditambah lagi besok long weekend karena Jum’at libur Isra’ Mi’raj. Banyak orang tidak langsung pulang ke rumah, tapi cari tempat nongkrong dulu untuk memulai libur panjang yang berharga itu. Dan Blok M tentunya menjadi opsi yang diutamakan untuk nongkrong.

Sesampainya di Warkop Bulungan, saya melihat begitu penuhnya tempat itu oleh orang-orang dengan kostum kerjanya masing-masing. Dalam hati, saya ingin bilang cari tempat lain saja ke Aye. Namun, dari raut wajahnya ia memang ingin sekali mengunjungi ini untuk menyantap nasi goreng kecombrang yang katanya enak. Jadi ya sudah cobain aja dulu.

Warkop Bulungan pakai waiting list

Ketika sampai, kami harus masuk ke dalam waiting list dahulu dan mendapat urutan nomor kedua. Kami menunggu sambil ditemani asap dari bakaran sate taichan di sebelah warkop. Seumur-umur baru kali ini saya mau nongkrong di warkop harus menunggu dulu untuk duduk. Memangnya seenak apa sih makanan-makanan di sini?

Kira-kira kami perlu menunggu 10 menit sampai waiters warkop itu memanggil kami. Akhirnya, kami kedapatan meja yang masih basah bekas pengunjung sebelumnya dengan kursi biru plastik. Letaknya di outdoor, di depan dapur mereka yang terbuka sehingga kami bisa melihat atraksi mereka yang memasak. Ya walaupun yang dimasak kebanyakan hanya Indomie, nasi goreng, dan roti bakar.

Baca Juga:

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Tinggal di Rusunawa Rp800 Ribu di Jakarta Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat, Lebih Layak Dibanding Hidup di Kos-kosan dengan Sewa Jutaan

Saya memesan Indomie nyemek dengan puding telur dan roti bakar keju crunchy, sementara Aye memesan yang diinginkannya dari tadi, yaitu nasi goreng kecombrang.

Waktu menunggu, saya mendengar pengunjung di meja sebelah saya memanggil waiters dengan nada agak sebal. Mereka komplain kalau salah satu nasi goreng mereka tidak ada ayamnya. Tampaknya nada sebal itu tidak hanya muncul dari makanan yang tidak sesuai pesanan, tapi akumulasi emosi dari beban kerja yang mereka lalui hari ini. Emosi tersebut ditumpahkan agar libur tiga harinya ke depan terasa lega kepada waiters yang mungkin besok masih harus bekerja karena warkop akan tetap buka.

BACA JUGA: 4 Hal Penting yang Harus Diketahui Jika Ingin Berkunjung ke Blok M Jaksel agar Kunjunganmu Tidak Sia-sia

Melihat waiters yang kewalahan

Salah satu waiters perempuan terlihat lelah dan kewalahan menghadapi ramainya warkop. Dari raut wajahnya dia ingin cepat pulang dan pergi dari keramaian warkop ini dengan pengunjung yang tidak ada habisnya. Namun, ia tidak bisa melepas diri dari tanggung jawabnya. Besok ia harus tetap bekerja untuk tetap bertahan di tengah Jakarta yang selalu banyak menuntut.

Tanpa diduga-duga di samping saya terjatuh cangkang telur yang sepertinya berasal dari dapur yang terbuka itu. Segera waiters terdekat mengambil cangkang tersebut. Entah kenapa cangkang tersebut bisa terlempar sejauh itu dari dapur dan hampir mengenai saya. Rasanya saya sedang melakukan pertunjukan yang jelek dan memalukan sehingga harus dilempar cangkang telur. Tapi, nggak lho…Saya cuman ingin makan Indomie di sini.

Makanan yang lama datang dan biasa saja

Perlu menunggu cukup lama dari satu hidangan ke hidangan yang lain untuk datang, jika dibandingkan ketika memesan makanan pada warkop biasa. Alih-alih menawarkan rasa yang istimewa untuk membayar rasa bete akibat hidangan yang terlalu lama datang, ternyata rasanya biasa aja. Nasi goreng kecombrangnya cukup harum dan asik. Enak secara rasa. Tapi, nasinya dingin hingga membuat Aye mengeluhkannya sampai perjalanan pulang.

Indomie nyemeknya juga biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Walaupun, tetap bisa dinikmati untuk menghangatkan diri. Sebab Jakarta dingin karena diguyur hujan terus akhir-akhir ini hingga menyebabkan banjir di banyak titik.

Rasa kecewa pun juga saya dapati ketika memakan roti keju crunchy. Rasanya malah menawarkan manis ala SKM, bukan keju yang asin. Meskipun, ada tekstur crunchy juga dari selai yang bikin sensasi tambahan.

BACA JUGA: Dekat Markas Besar Polisi, Tapi Banyak Preman di Blok M Jaksel, Mengapa?

Apakah Warkop Bulungan layak dikunjungi kembali?

Setelah menyantap semua yang kami pesan, Aye mengajak untuk segera beranjak pergi karena ia duduk di posisi yang membuatnya melihat pengunjung-pengunjung lain yang masih terdaftar di waiting list. Ia merasa tidak enak kalau duduk lama-lama di sini. Jadinya, kami memutuskan untuk beranjak pergi.

Sebelum mengangkat diri dari kursi saya baru menyadari ada poster meme di dinding warkop bertuliskan, “AREA DILARANG CEMBERUT”, dengan foto Peter Parker yang sedang menangisi kematian Uncle Ben. Di saat makanan yang lama datang dan segala hal mengejutkannya yang saya alami, kami nggak boleh mengekspresikan diri secara natural.

Apakah saya akan kembali ke Warkop Bulungan? Tentu tidak. Saya lebih baik mencari warkop sepi di dekat rumah, tentunya yang lebih nyaman, murah, dan bisa berlama-lama di tempat.

Lagi-lagi, tempat makanan yang viral itu nggak semuanya memberikan pengalaman yang membahagiakan. Sering kali kita hanya mengunjunginya untuk pertama dan terakhir kalinya. Lalu dilupakan karena memang tidak membentuk momen yang tidak pantas dikenang.

Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Adu Nyali Paling Sinting: Sepenggal Cerita Tentang Blok M, Jakarta Selatan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2026 oleh

Tags: blok mJakartatempat nongkrong di Blok Mtempat viral di blok mwarkop bulunganwarung kopi di blok M
Mohammad Rafatta Umar

Mohammad Rafatta Umar

Mahasiswa Ilmu Politik di Jaksel yang pesimis sama negara.

ArtikelTerkait

Di Desa yang Nggak Ada Polisi Maksa Pakai Helm, Eh Pas di Kota Males

Di Desa yang Nggak Ada Polisi Maksa Pakai Helm, Eh Pas di Kota Males

27 Desember 2019
Info Loker Jakarta 2022 yang Pas Buat Fresh Graduate Terminal Mojok

Loker Jakarta Juli 2022: Info Loker Buat Fresh Graduate

17 Juli 2022
Fresh Graduate Solo Culture Shock Kerja di Jakarta, Cukup Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup Aja Mojok.co

Fresh Graduate Solo Culture Shock Kerja di Jakarta, Cukup Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup Aja

30 Maret 2024
Ganjil Genap Jakarta Sudah Nggak Efektif, Malah Makin Macet

Ganjil Genap Jakarta Sudah Nggak Efektif, Malah Makin Macet

11 Agustus 2023
Blok M Tak Hanya Pusat Nongkrong, tapi Juga Tempat Sakral para Wibu dan Rumah bagi Ennichisai

Blok M Tak Hanya Pusat Nongkrong, tapi Juga Tempat Sakral para Wibu dan Rumah bagi Ennichisai

19 September 2023
Punya Aksen Medok di Jakarta Itu Dosa Besar, Otomatis Dianggap Manusia Kasta Rendah

Punya Aksen Medok di Jakarta Itu Dosa Besar, Otomatis Dianggap Manusia Kasta Rendah

1 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

11 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
Derita Orang dengan Logat Bekasi yang Hidup di Solo (Unsplash)

Derita Orang Bekasi Seperti Saya Hidup di Solo, Dibilang Sok Jawa sampai Susah Nimbrung di Tongkrongan

10 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.