7 Penyakit Serius yang Sering Diderita Kucing Rumahan – Terminal Mojok

7 Penyakit Serius yang Sering Diderita Kucing Rumahan

ArtikelFeatured

Meski rumahan dan tinggal bersama manusia, kucing belum tentu selalu dalam kondisi sehat. Sama saja seperti manusia, kucing bisa terpapar virus, terluka, punya penyakit bawaan, bahkan malnutrisi atau malah obesitas.

“Padahal rutin obat cacing, loh.”
“Sudah vaksin, kok.”
“Masa sudah scalling gigi masih tetep ogah-ogahan makannya.”

Di grup-grup perkucingan sering kali ada yang curhat, Mbak/Mas bucing tak habis pikir kucingnya bisa sakit berat sampai butuh rawat inap dan pengobatan, serta pakan yang menghabiskan banyak biaya karena merasa sudah merawat dengan sebaik-baiknya. I feel you~

Berdasarkan pengalaman puluhan tahun merawat kucing dan juga bergabung dengan berbagai komunitas penyayang kucing se-Indonesia sejak 2011, ini daftar penyakit serius yang paling sering diderita kucing rumahan:

Penyakit #1 Ginjal

Kucing yang ginjalnya bermasalah baru akan muncul gejala setelah kurang lebih 40% persen fungsi ginjalnya hilang. Pada fase tersebut, kucing mulai banyak minum dan sering buang air besar. Sedangkan gejala seperti muntah, kehilangan nafsu makan, dehidrasi, sariawan, dan diare biasa ditemui ketika fungsi ginjal sudah berada di bawah 25%.

Biasanya, Mbak/Mas bucing mulai ngeh kucingnya sakit setelah fase 25%, karena itu biaya pengobatan dan perawatannya cenderung tinggi bahkan bisa saja kucingnya tidak terselamatkan.

Untuk meminimalisir kucing sakit ginjal, sejak dini harus mulai diperhatikan asupan makanannya, terutama karena kucing memang jarang minum. Jadi, pemberian dryfood perlu dikombinasikan dengan wetfood atau rawfood.

Perlu juga rutin cek kondisi kesehatan kucing, minimal setahun sekali, untuk memeriksa apakah ada masalah ginjal setelah usianya 7 tahun.

Penyakit #2 FLUTD

Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) adalah penyakit saluran kencing bagian bawah pada kucing, mengganggu kandung kemih dan uretra, dan umumnya diderita kucing jantan jenis persia serta mix breed usia di 1-3 tahun. Kebetulan saya belum pernah dapat kasus FLUTD pada kucing kampung, tapi teman catlover lainnya ada, kok.

Gejala FLUTD di antaranya adalah kucing mulai terlihat buang air kecil (urinasi) sembarangan, sakit saat akan urinasi, urinasi lama tapi urin yang keluar hanya sedikit (stranguria), dan urin berubah warna atau urin berdarah (hematuria). Gejala umum lainnya bisa diikuti dengan kurangnya nafsu makan, perut membesar, dan menjadi lemas. Kondisi gawat adalah ketika kucing sudah tidak bisa urinasi (dysuria).

Untuk meminimalisir risiko kucing terkena FLUTD, bisa diberi pakan yang bervariasi. Jangan hanya dryfood, hindari penyebab kucing stres dan segera steril atau kebiri kucing saat usia dan beratnya telah cukup.

Baca Juga:  Gajah Mati Berdiri di India, Kodok Diledakin pakai Petasan, Kucing dan Kura-kura Dikeroyok sampai Ajal

Studi yang dilakukan oleh Gama R.O.G et al (2009) di Brazil, bahwa kejadian FLUTD banyak terjadi pada jenis kelamin jantan (91%) yang belum dikastrasi (71%), bukan ras spesifik (57%), usia 1-3 tahun (66%), hanya diberikan pakan kering (80%), dan karena kucing stres akibat sering berkelahi dan sebagainya (66%). FYI, pakan kering akan meningkatkan pH urin sehingga menjadi basa yang mengakibatkan terbentuk kristal di kandung kemih.

Penyakit #3 Diabetes

Diabetes pada kucing dapat diklasifikasikan dalam 2 tipe, yaitu:
• Tipe I (kurangnya produksi insulin)
• Tipe II (gangguan produksi insulin bersama dengan respons yang tidak memadai terhadap hormon).

Diabetes tipe II dapat berkembang menjadi diabetes tipe I, kucing yang menderita diabetes tipe I membutuhkan terapi insulin untuk bertahan hidup.

Meski termasuk dalam penyakit yang kompleks, ciri kucing menderita diabetes terlihat di kondisi fisik dan perilakunya sebagai berikut: perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun), berat badan turun, sering minum karena haus berlebihan, sering buang air kecil dan sembarangan (tidak di litter box atau tempat biasanya), napas berbau tajam (ureum), lesu, bulu kusam dan kering, dan menderita infeksi saluran kemih.

Kucing yang menderita diabetes harus ditangani dokter, tidak bisa tidak.

Tapi ada ikhtiar yang bisa dilakukan Mbak/Mas bucing, yaitu sering mengajak kucing bermain untuk membakar kalori dan glukosa, tidak memberikan makanan yang mengandung gula seperti nasi atau kue-kue, dan menjaga berat badan kucing supaya tidak obesitas.

Penyakit #4 Leukimia

Leukimia pada kucing disebut Feline Leukemia Virus (FeLV), penyakit ini menular. Virusnya menyebar melalui urine, air dari hidung, dan air liur. Induk kucing yang memiliki FeLV juga bisa menurunkannya pada anaknya.

Leukemia kucing dapat menyebabkan sejumlah kondisi seperti infeksi sistem, diare, infeksi kulit, penyakit mata, infeksi saluran pernapasan, infeksi kandung kemih, infertilitas, anemia, dan kanker.

Gejala kucing sakit leukimia adalah gusi menguning atau jaundice (tapi ini juga smirip gejala sakit hepatitis, jadi harus dokter hewan yang memastikan), hilangnya nafsu makan, anisocoria (ukuran pupil mata berbeda), infeksi (pada kulit, kandung kemih dan saluran pernapasan), kejang, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), kelelahan, demam, penurunan berat badan, stomatitis (radang di mulut), gingivitis (radang di gusi), anemia, dan diare.

Sampai sekarang belum ada obat FeLV, tapi Mbak/Mas bucing bisa loh melakukan tindakan pencegahan dengan cara vaksin dan menjaga kebersihan lingkungan tempat hidup kucing.

Penyakit #5 FIV

Meski saling terkait, sama-sama retrovirus, FeLV dan FIV berbeda. Feline Immunodeficiency Virus (FIV, juga dikenal sebagai feline AIDS), menyebabkan penurunan sistem imun pada kucing, sampai sekarang belum ada obatnya. FIV sama seperti HIV pada manusia.

Baca Juga:  Menjawab Tudingan Orang-orang yang Belum Pernah ke Luar Negeri Tentang Singapura yang Katanya Nggak Beda Jauh sama Indonesia

Gejala yang bisa diamati adalah demam (perlu ukur suhu), penurunan berat badan disertai nafsu makan memburuk, diare, radang mata, radang gusi, penyakit gigi, kemerahan pada kulit atau bulu rontok dan kusam, luka yang tidak kunjung sembuh, sering bersin, selalu terdapat kotoran yang berlebihan dari mata atau hidung, sering buang air kecil, dan ada perubahan perilaku.

Sebenarnya, FIV jarang diderita oleh kucing rumahan full indoor yang tidak pernah kontak dengan kucing luar. Hanya saja di masa kawin, kucing sering kabur dari rumah karena birahi lalu berkelahi dengan kucing jalanan. Virus bisa didapat dari luka-luka akibat perkelahian ini. Oleh karena itu, selain menjaga kebersihan lingkungan, Mbak/Mas bucing harus steril atau kebiri kucing kesayangan supaya tidak ngoyo saat ingin kawin. Steril dan kebiri tidak melanggar HAK (Hak Asasi Kucing) kok, masih bisa kawin, hanya saja tidak sampai niat banget rebutan betina—berkelahi dan berhari-hari tak pulang.
Steril, ya!

Penyakit #6 Hepatitis

Seperti hepatitis pada manusia, sering juga disebut sakit kuning, tanda kucing menderita hepatitis adalah kekuningan (jaundice) pada gusi, lidah, kulit, dan mata. Tanda lainnya adalah berat badan turun, lemas, muntah warna kuning, demam, dan ascites (cairan berlebih di dalam perut).

Penyebab kucing terkena hepatitis bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah tertular dari kucing lain yang menderita hepatitis melalui darah atau feses. Sebagian lain disebabkan oleh bakteri, infeksi virus, atau karena pengaruh obat tertentu yang tidak bisa diterima oleh tubuh kucing dan mengakibatkan kerusakan liver.

Ada tiga jenis hepatitis yang umum terjadi pada kucing, yaitu hepatitis aktif yang kronis, hepatitis yang menular, dan leptospirosis. Satu-satunya jalan mencari tahu jenis hepatitis apa yang diderita kucing dan bagaimana penanganannya adalah mengunjungi dokter hewan.

Perlu diingat, hepatitis kucing adalah penyakit yang cepat menular terutama melalui feses dan darah. Jadi, jika Anda memiliki kucing lain di rumah, sebaiknya dipisahkan untuk sementara. Umumnya, kucing yang terkena hepatitis bisa sembuh total dalam waktu 3 hingga 6 minggu dengan obat dan makanan yang tepat sesuai anjuran dokter hewan.

Penyakit #7 FIP

Feline infectious peritonitis (FIP) atau radang peritoneum infeksius pada kucing adalah penyakit menular pada kucing akibat infeksi virus. FIP biasanya menyerang kucing usia 3 bulan sampai 2-3 tahun, dipicu oleh stres, genetik, atau ada infeksi dari virus lain seperti FeLV dan FIV (di atas sudah saya tulis tentang 2 virus tersebut).

Baca Juga:  Fitur Story Twitter alias Fleet Sebaiknya Nggak Usah Ada, Terkesan Ikut-ikutan Banget

Ada 2 Tipe FIP yang bisa dibedakan dengan melihat kondisi fisik kucing, yaitu FIP kering dan FIP basah.

FIP basah bisa terlihat jelas pada fisik kucing karena terjadi asites atau akumulasi cairan di rongga perut (ada juga yang hingga rongga dada) menyebabkan pembengkakan (biasanya tanpa rasa sakit karena itu kucing bisa saja masih lincah bermain-main) disertai kesulitan bernapas. Jadi, jika Mbak/Mas bucing melihat kucing yang perutnya sampai ke dada membesar itu belum tentu cacingan dan busung lapar (seperti manusia).

FIP kering lebih sulit didiagnosis karena gejalanya tergantung pada jenis organ yang diserang. Bisa menyebabkan gangguan pada mata, gangguan saraf (lumpuh, cara berjalan yang tidak stabil, dan kejang-kejang), gangguan organ di rongga perut (hati, ginjal, pankreas, limpa, kelenjar getah bening, dan usus), hingga muntah.

Vaksin untuk FIP belum ada di Indonesia, setelah terjangkit pun pengobatan yang dilakukan hanya bersifat suportif (untuk memperpanjang hidup kucing) seperti infus saat dehidrasi, pemberian antibiotik dan antimuntah serta antiradang, sampai pembedahan untuk mengeluarkan cairan dari perut dan dada.

Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan Mbak/Mas kucing adalah menjaga kebersihan lingkungan, jauhkan litter box dari mangkuk makan/minum kucing, mencuci dengan disinfektan kandang dan litter box, membuang feses sesering mungkin, dan memberikan pakan dengan nutrisi yang tepat.

Fyuh, akhirnya selesai juga menulis deretan penyakit serius yang paling sering diderita kucing rumahan. Banyak, ya?

Saran saya, sebaiknya rajin menulis jurnal untuk kucing, yang sederhana saja. Catat gejala yang terlihat pada fisik kucing, perubahan perilaku, jenis pakan yang diberikan, dan sebagainya. Dengan membuat jurnal, nantinya Mbak/Mas bucing bisa lebih waspada jika suatu saat kucing kesayangan ada yang sakit. Tentu saja dengan harapan cepat ketahuan saat sakit karena bisa cek jurnal lalu mendapat pertolongan dari dokter hewan dan bisa selamat.

Untuk semua penyakit yang saya tulis di atas, setiap menit sangat berharga.

BACA JUGA Manajemen Tai Kucing untuk Meningkatkan Harkat dan Martabat Mereka dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.