4 Pelajaran Hidup dari Program TV 'Nyonya Boss' yang Digawangi Nia Ramadhani – Terminal Mojok

4 Pelajaran Hidup dari Program TV ‘Nyonya Boss’ yang Digawangi Nia Ramadhani

Artikel

Saking terlalu seringnya muncul di beranda Facebook, saya akhirnya meng-klik juga salah satu episode program acara Nyonya Boss. Saya nggak punya ekspektasi apa pun dengan program ini. Apa sih, paling juga sama seperti program-program TV lain yang nggak jelas itu. Lantas, apa yang kemudian membuat saya betah nonton program yang digawangi oleh Nia Ramadhani yang sekarang jadi istri konglomerat itu?

Makanya, jangan sembarang nge-judge suatu program dengan menyebutnya nggak bermutu. Tonton dulu. Nanti juga ketemu hikmah, pesan, dan hal positif yang ada di suatu tayangan. Sama seperti saya yang kemudian mendapat pelajaran hidup setelah nonton program Nyonya Boss. Berikut dengan senang hati saya persembahkan 4 pelajaran hidup dari program tersebut.

#1 Hidup itu Berputar

Kamu pikir acara Nyonya Boss itu cuma acara yang memamerkan gaya hidup hedon seorang Nia Ramadhani? Atau acara yang mengekspos betapa stylishnya mantan pemeran Bawang Merah itu dan dayang-dayangnya? 

Dalam beberapa episode, Nia kerap bercerita bahwa dia juga pernah hidup susah. Makan pun pernah lauk garam. Hah? Susah untuk dipercaya, ya? Saya juga semula berpikir seperti itu. Tapi, demi tidak berburuk sangka, mari kita iyain aja. Lagian, siapa sih orang yang nggak pernah makan lauk garam? Lha wong daging, ikan, tempe, dan lainnya kan dikasih garam dulu kalau mau dimasak. 

Selain cerita garam itu, Nia juga pernah menyebut bahwa dia sempat tidak bisa membayar gaji sopir pribadinya. Intinya, Nia pernah susah. Sekarang? Ah, semua pasti tahu bagaimana kehidupan Nia. Artinya, roda kehidupan itu berputar, Mylov. Jika saat ini susah, belum tentu kita bakal susah selamanya.

#2 Investasi perempuan ala Nia

Menurut Nia, seorang perempuan itu tidak perlu memaksakan diri untuk membeli baju-baju, tas, ataupun sepatu yang mewah. Kalau punya duit, mending fokus untuk perawatan wajah dan badan saja. Nah, lo! Jangan buru-buru menyebut hal tersebut sebagai upaya untuk menarik perhatian laki-laki kaya, ya. Suuzan banget, sih. Mungkin maksud Nia, ngapain kita pakai baju branded mahal kalau muka kita tidak terawat? Nggak bakal kelihatan mahalnya tuh baju kecuali label harganya nggak kamu lepas. Beda kalau wajah dan badan kita terawat. Mau pakai baju grosiran yang seratus ribu dapat tiga pun bakal kelihatan “wow” karena badan dan wajah kita mendukung.

Tapi, kasihan juga yang sudah perawatan mahal ke sana kemari dan hasilnya mentok. Kayak kata-kata bernada iri dengki yang sering disampaikan warganet, “Money can’t buy a class.” Alias seberapa pun banyaknya duit kalian kalau nggak fashionable dan pintar bergaya ya tamat.

Baca Juga:  Jangan Gampang Kepincut Beli Motor Baru, Mending Uangnya buat Pindah Negara

#3 Menjadi orang beruntung

Berkali-kali di beberapa episode Nyonya Boss, asisten Nia menyebut bahwa nasib Nia itu bagus. Hoki. Beruntung. Padahal kalau flashback ke belakang, Nia tidak lebih pintar dari kakaknya yang bisa masuk peringkat. Di beberapa proyek nari, pementasan, dan model video klip pun Nia seringkali dapat peran-peran kecil seperti jadi pohon, serangga, bahkan pernah hanya terlihat tangannya saja. Tapi, Nia adalah orang beruntung. Di kemudian hari takdir mempertemukannya dengan seorang konglomerat. Jangan tanya kenapa Nia bisa seberuntung itu. Mungkin dia pernah menyelamatkan bayi unta di kehidupan sebelumnya.

Keberuntungan memang bisa mengubah apa pun. Istilah lama yang mengatakan “orang pintar kalahdengan orang beruntung” agaknya benar. Mau serajin apa pun kita belajar, bekerja, dan cari uang, bakal kalah sama Nia Ramadhani yang jadi istri konglomerat.

#4 Jangan buang waktu

Hal terakhir yang saya dapat setelah menonton program Nyonya Boss adalah jangan pernah buang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Bayangkan, saya nonton 5 cuplikan episode Nyonya Boss

Artinya, saya menghabiskan sekiranya satu setengah jam mantengin Nia haha hihi dengan asisten-asistennya yang kadang saya sendiri nggak ngerti mereka ngetawain apa. Padahal dengan waktu yang sama, satu setengah jam itu, saya bisa menyelesaikan tumpukan baju untuk disetrika. Duh. Sungguh waktu jadi terbuang sia-sia.

Klise memang, setelah nonton Nyonya Boss saya justru dapat hikmah untuk tidak lama-lama menghabiskan waktu untuk menontonnya. Walau begitu, kalau perhitungan waktu yang kita habiskan dimaksudkan untuk hiburan biar nggak spanning, ya sudah direlakan saja.

BACA JUGA 3 Cara yang Bisa Laki-laki Lakukan Saat Pasangan Mutung Nggak Mau Bonceng atau artikel Dyan Arfiana Ayu Puspita lainnya.

Baca Juga:  Kok Bisa ya Arwah di Film Horor Itu pada Sakti?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.