Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Tidak Semua Anak PNS Hidup Sejahtera Bergelimang Harta, Banyak yang Justru Hidup Sengsara

Arrauna Bening Aji Kus Indriani oleh Arrauna Bening Aji Kus Indriani
14 April 2026
A A
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Katanya, jadi anak PNS itu enak. Hidup terjamin, masa depan aman, dan urusan kuliah tinggal jalan. Katanya. Soalnya yang sering nggak ikut dihitung itu slip gaji orang tua yang lebih tipis dari dompet mahasiswa akhir bulan. Kita keburu dilabeli “mampu” hanya karena ada kata “Pegawai Negeri Sipil” di pekerjaan orang tua, padahal realitasnya: bayar kos mikir, makan hemat, dan tiap buka portal UKT rasanya seperti lagi ikut undian berhadiah. Bedanya, yang didapat bukan hadiah, tapi tagihan yang bikin dada sesak.

Sebelum buru-buru menganggap semua anak PNS itu hidupnya aman sentosa, mungkin kita perlu mundur sedikit dan melihat satu fakta yang sering dilupakan: PNS itu sering dibayangkan sebagai satu kelompok yang hidupnya aman. Padahal di dalamnya ada kasta-kasta yang jaraknya bukan cuma beda angka, tapi beda cara bertahan hidup.

Secara umum, PNS dibagi menjadi empat golongan yaitu Golongan I sampai IV yang ditentukan dari pendidikan dan masa kerja. Dan ini penting: semakin rendah golongannya, semakin kecil pula gajinya. Misalnya, di tahun 2025, PNS Golongan I hanya menerima sekitar Rp1,6 juta sampai Rp2,9 juta, sementara Golongan II berkisar di Rp2,1 juta sampai Rp4,1 juta. Artinya, ada banyak PNS—terutama di level bawah—yang bahkan penghasilannya masih berada di kisaran upah minimum, atau malah nyaris tidak jauh dari itu.

Realitas hidup PNS di Jogja

Sekarang kita bicara real case, geser ke realitas yang lebih konkret, biar bukan hanya omon-omon: PNS yang hidup di Jogja. Kota yang sering disebut “ramah” ini memang terasa murah—selama kita tidak benar-benar menghitungnya. Rata-rata kebutuhan hidup dasar di Jogja hari ini bisa menyentuh kisaran Rp2,5–Rp3 juta per bulan. Itu baru untuk satu orang.

Sekarang bayangkan sebuah keluarga kecil dengan dua anak, di mana salah satu orang tuanya adalah PNS golongan rendah dengan penghasilan sekitar Rp2–3 jutaan. Angka itu tidak lagi terasa cukup, tapi berubah jadi teka-teki harian: bagaimana membaginya agar semua tetap hidup.

Realitasnya, uang segitu harus dipecah menjadi banyak kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Untuk makan saja, kalau diasumsikan Rp15–20 ribu per porsi per orang, satu keluarga bisa menghabiskan lebih dari Rp1,5 juta per bulan. Belum listrik, air, transportasi, kebutuhan sekolah anak, dan hal-hal tak terduga yang selalu datang tanpa permisi. Di titik ini, “cukup” bukan lagi soal nominal, tapi soal kemampuan bertahan: mana yang harus diprioritaskan, mana yang harus dikorbankan, dan mana yang harus ditunda entah sampai kapan.

Dan di situlah sering kali kita lupa: bagi banyak keluarga PNS golongan bawah, hidup bukan tentang menabung atau merencanakan masa depan. Tapi tentang memastikan besok masih bisa makan.
Kalau di rumah saja sudah serba dihitung, masalahnya belum selesai. Justru mulai terasa lebih berat ketika masuk ke sistem pendidikan tinggi, yaitu universitas.

BACA JUGA: Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Baca Juga:

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

Di mata sistem, “PNS” itu sudah cukup untuk menggugurkan segalanya

Kalau kita mau sedikit saja jujur melihat angka, realitasnya cukup bikin kening berkerut. Di beberapa kampus negeri, UKT dibagi ke dalam banyak golongan—bahkan bisa sampai 10–11 level. Di jurusan tertentu, UKT tertinggi bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta per semester. Sementara jurusan lain pun tetap punya rentang UKT menengah di kisaran Rp5–7,5 juta per semester. Dan ini belum termasuk jalur mandiri yang sering kali masih dibebani uang pangkal di awal.

Sekarang coba kita tarik ke realitas keluarga PNS golongan bawah tadi. Dengan penghasilan sekitar Rp2–3 juta per bulan, dalam satu semester, total pendapatan orang tua hanya berkisar Rp12–18 juta. Satu tagihan UKT sebesar Rp7 juta saja sudah memakan hampir setengah dari total penghasilan setengah tahun.

Dan di situlah letak absurditasnya. Sistem yang katanya berbasis “kemampuan” justru bisa menghasilkan angka yang kalau dihitung secara sederhana saja, sudah jelas di luar kemampuan. Tapi karena yang dibaca adalah status, anak PNS tetap ditempatkan di posisi yang seolah-olah siap membayar.

Kalau UKT masih bisa diperdebatkan sebagai “kebijakan kampus”, maka urusan beasiswa seperti KIP Kuliah justru membuka masalah yang lebih telanjang: negara sendiri tidak percaya bahwa anak PNS bisa miskin.

Tidak bisa mendaftar bantuan pendidikan

Di satu sisi, negara tahu betul bahwa gaji PNS golongan bawah itu kecil. Sering kali nyaris setara upah minimum. Tapi di sisi lain, ketika anak dari PNS mendaftar bantuan pendidikan, status itu justru berubah jadi semacam “tanda cukup”. Seolah-olah ada asumsi diam-diam: kalau orang tuamu digaji negara, kamu tidak mungkin butuh bantuan dari negara.

Logika yang terdengar rapi, tapi runtuh begitu disentuh realitas. Faktanya, banyak anak PNS golongan bawah yang bahkan untuk bayar UKT saja harus jungkir balik. Tapi ketika mencoba mengakses bantuan, mereka ditolak bukan karena tidak butuh. Melainkan karena tidak terlihat cukup “miskin”.

Masalahnya memang bukan karena mereka dilarang mendaftar. Secara aturan, pintunya tetap ada. Tapi untuk bisa lolos, ada satu syarat yang diam-diam jadi tembok tinggi: harus bisa membuktikan bahwa mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Biasanya melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau sebagai penerima bantuan seperti PKH dan KKS. Dan di sinilah lingkaran itu mengunci.

Untuk masuk DTKS, ada syarat yang jarang dibicarakan terang-terangan: tidak berasal dari keluarga ASN, PNS, TNI, atau Polri. Artinya, bukan karena anak PNS tidak miskin. Tapi karena mereka tidak diizinkan untuk tercatat sebagai miskin. Seolah-olah kemiskinan harus minta izin dulu.

Yang bikin jengkel, ini bukan soal kurang data. Data itu ada. Negara punya besaran gaji PNS, jumlah tanggungan keluarga, bahkan detail administratif lainnya. Tapi yang dipakai justru pendekatan paling malas: klasifikasi berdasarkan pekerjaan. Akibatnya, semua PNS dipukul rata. Tidak ada bedanya antara PNS eselon tinggi dengan tunjangan belasan juta dengan PNS golongan II yang gajinya habis untuk makan sebulan.

Masalahnya bukan di orangnya, tapi di kacamata sistemnya

Selama sistem masih lebih percaya status daripada kenyataan, akan selalu ada orang-orang yang jatuh di celah yang sama. Tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kuat untuk bertahan tanpa bantuan. Dan anak-anak PNS golongan bawah sudah terlalu lama berdiri di celah itu—diam-diam menahan beban yang bahkan tidak pernah diakui.

Kampus perlu berhenti membaca “PNS” sebagai jawaban instan untuk kata “mampu”. Penilaian UKT seharusnya benar-benar bertumpu pada penghasilan riil, jumlah tanggungan, dan kondisi hidup. Negara juga perlu membuka celah dalam sistem bantuan sosialnya: bahwa kemiskinan tidak selalu terlihat dari jenis pekerjaan, dan tidak semua yang bekerja untuk negara hidupnya sejahtera.

Selama pintu bantuan masih dijaga oleh kategori yang terlalu kaku, akan selalu ada yang tertinggal di luar. Bukan karena mereka tidak berhak, tapi karena mereka tidak masuk definisi. Dan selama sistem masih seperti ini, anak PNS golongan bawah akan selalu mengalami penderitaan yang sama: miskin tidak, tapi jauh dari kata mampu.

Penulis: Arrauna Bening Aji Kus Indriani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Derita Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2026 oleh

Tags: anak PNSgaji PNSpnsukt anak PNS
Arrauna Bening Aji Kus Indriani

Arrauna Bening Aji Kus Indriani

Seorang pemerhati seni dan politik yang memandang hidup sebagai pertunjukan teater yang ganjil. Di sela-sela kegilaan panggung menulis adalah upaya kecil untuk tidak benar-benar gila.

ArtikelTerkait

pns

Dampak Positif Kalau PNS Beneran Kerja Dari Rumah

10 Agustus 2019
Keriweuhan yang Bakal Terjadi Ketika Atlet Badminton Kelas Dunia Jadi PNS Terminal Mojok

Keribetan yang Bakal Terjadi ketika Atlet Badminton Kelas Dunia Jadi PNS

11 November 2022
5 Hal yang Terjadi ketika PNS Bikin Kegiatan di Hotel Berbintang Terminal Mojok

5 Hal yang Terjadi ketika PNS Bikin Kegiatan di Hotel Berbintang

5 Februari 2022
4 Alasan Pegawai P3K Baru Harus Pamer di Media Sosial (Unsplash)

4 Alasan Pegawai P3K Baru Harus Pamer di Media Sosial

3 November 2025
Untuk Menjadi Pebisnis, PNS Nggak Harus Resign dari Pekerjaannya

Untuk Menjadi Pebisnis, PNS Nggak Harus Resign dari Pekerjaannya

12 April 2023
30 Istilah di Dunia Birokrat yang Harus Diketahui para CPNS terminal mojok.co

30 Istilah di Dunia Birokrat yang Harus Diketahui para CPNS

16 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

29 April 2026
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Nggak Perlu Iri dengan Jurusan Filsafat yang Kerennya Hanya Sesaat Mojok.co

Meskipun Prodi Sosiologi Tidak Relevan dengan Dunia Industri, Menghapusnya Hanya Akan Menghambat Kemajuan Bangsa Ini

30 April 2026
Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah

Ternyata Bus Trans Jatim Nggak Ada Bedanya dengan Angkot, Ngebut dan Ugal-ugalan!

4 Mei 2026
IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026
4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur Mojok.co

4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur

2 Mei 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja
  • Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani
  • Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik
  • Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa
  • Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental
  • Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.