4 Hal yang Bakal Dikangeni oleh Santri Tebuireng – Terminal Mojok

4 Hal yang Bakal Dikangeni oleh Santri Tebuireng

Artikel

Avatar

Di manapun kita berada, tatkala ketika proses menimba ilmu, yang akan dapat dirasakan adalah seberapa banyak pelajaran yang mampu terserap. Sisanya adalah kenangan yang melekat pada setiap pelaku di mana hal tersebut bakal dikangenin setelah keluar dari pesanggrahan tersebut.

Beragam model pendidikan yang diterapkan didalam suatu institusi akan mempengaruhi pola hidup dan pola pikir murid. Seperti halnya di Pondok Pesantren Tebuireng, karakter-karakter pokok setiap diri santri coba dibangun. Walaupun tetap santri itu sendiri yang kelak menentukan setelah berhenti mengabdi di penjara suci itu. Berbekal doktrin yang menjurus ke krenteg hati terhadap kebaikan beserta kenangan yang bakal dirindukan.

Berikut ini beberapa hal yang secara umum dikangenin saat nyantri di Tebuireng, walaupun ahwal rindu itu sejatinya kembali pada setiap pribadi.

Ziarah makam

Ada beberapa tokoh agama yang dimakamkan di Tebuireng. Beberapa dari mereka adalah K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng juga salah satu perintis Nahdlatul Ulama yang mendapat gelar Hadratussyaikh karena keuletan dalam pencapaian keilmuan dan kegigihan beliau ketika menimba ilmu. Selanjutnya, cucu beliau yakni K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjabat sebagai Presiden RI keempat dan terkenal tasamuh di kalangan masyarakat Indonesia terhadap antar agama beserta humornya yang terkenal cerdik. Humornya humor Mojok gitulah, sedikit nakal namun banyak akal.

Katanya, sesuatu yang berulang-ulang dilakukan akan menimbulkan kebosanan. Kalimat tersebut tidak berlaku untuk para santri. Meskipun berkali-kali mereka berkunjung ke makam untuk berkhalwat, mendoakan orang tua, ataupun bertawasul lewat perantara hamba yang lebih dekat dengan Allah, tak ada rasa bosan melainkan rindu malah memuncak setelah pulang dari pesarean. Entah candu atau apa, tetapi ada segelontor spirit yang membuat siapapun betah dan ketagihan untuk kembali ke sana.

Ada juga beberapa santri mulanya sekadar bersih-bersih sekitar makam setiap sore, lama-kelamaan mereka menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas kebajikan yang dilakukan tanpa beban dan paksaan. Walaupun jadwal sekolah sejak pagi sampai sore telah padat merayap, mereka tetap giat menyapu bersih area makam, sampai matahari sayup-sayup tenggelam. Tak lupa para santri Tebuireng juga melakukan kebiasaan stand up pray di dekat makam tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah masing-masing.

Bahkan peziarah dari segala penjuru Indonesia yang telah berkunjung ke makam Tebuireng, menyimpan perasaan ingin mengulangi lagi untuk berziarah kesana. Tepatnya setelah pemakaman Gus Dur di Tebuireng tahun 2009, masyarakat berbondong-bondong setiap hari berziarah ke makam. Sampai waktu itu lahan parkir di sekitar pesantren kewalahan menampung puluhan bus yang datang setiap harinya. Beruntung pihak pesantren dengan sigap membangun lahan parkir dengan nama Kawasan Makam Gus dur, disusul dengan peresmian Museum Islam Nusantara K.H. Hasyim Asy’ari.

Di samping itu masyarakat sekitar seakan kecipratan berkah dari momen tersebut. Sehingga satu per satu mulai mendirikan semacam usaha, baik dalam bentuk produk barang maupun makanan, guna memfasilitasi buah tangan yang hendak dibawa pulang oleh para peziarah.

Banyak juga santri yang tidak melanjutkan studi di luar dengan sebab kebacut senang berkebiasaan ke makam para pendahulu. Mengenai ziarah makam, ada guyonan suwargi Gus Dur yang saya masih ingat, “saya datang ke makam, karena saya tahu, mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.”

Ngaji kitab

Sudah berapa kitab yang termakna, sudah berapa goresan pena yang termaktub menjelma huruf. Itu semua tanda bahwa kita pernah berusaha mengeja tiap makna dari masing-masing judul kitab, dengan dipandu langsung oleh para kiai kita yang takzim.

Tak sedikit kitab-kitab yang kurang santri sukai karena alasan sulit dipahami secara pribadi, seperti saya terhadap pelajaran ilmu nahwu dan shorof yang perlu kesabaran untuk menghafalkan dan mempelajarinya. Selagi itu bukan faktor metode pengajaran yang membosankan atau malas dari diri santri, lambat laun akan segera paham. Sebab hakikat ilmu sebenarnya memudahkan kita untuk mengerti atas pengetahuan baru yang sedang kita pelajari. Tapi, seringkali memang harus melewati proses yang kompleks. Seperti kata Imam Syafi’i, “ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.”

Beruntungnya di Pesantren Tebuireng setiap setelah sholat Isya’, ada pengajian kitab umum yang bisa dibilang melemaskan saraf otak yang kaku. Sebab isi kitab yang disajikan terbilang mudah untuk dipahami segala kalangan. Waktu saya nyantri dulu, kitab yang sempat saya maknai pada jam ekstra ini adalah “Badai’uz Zuhur”. Intisari dari kitab tersebut adalah berisi cerita nabi-nabi yang diulas secara jelas dan seru oleh almarhum KH. Ishaq Lathief. Beliau adalah salah satu guru yang selalu ditunggu-tunggu pengajiannya sehabis Isya’ oleh santri Tebuireng karena terkenal dengan humornya yang lugas dan sederhana.

Semenjak wafat beliau tepatnya pada 2015, sehabis Isya’ pondok menjadi sepi. Ketika itu masih sedang mengaji kitab “Adabu Dunya Waddin”. Belum ada setengahnya beliau terlebih dahulu dipanggil untuk menghadap Sang Pencipta.

Selepas wafatnya beliau tidak ada kiai yang berkenan menggantikan atau meneruskan pengajian beliau. Kemungkinan berkenaan dengan sikap tawaduk dan takzim antar kiai, sehingga pengajian sehabis Isya’ sekarang dialihkan ke masjid Tebuireng. Beruntung channel YouTube Tebuireng official sekarang telah mengadakan live streaming pengajian umum di jam ekstra tersebut. Sesuai jadwal yang ditentukan dengan kiai yang berbeda-beda, pun kitab beragam juga. Dengan diadakannya live streaming, konten tersebut dapat menyalurkan rasa kangen dari alumni yang ingin merasakan pengajian di pesantren Tebuireng secara langsung.

Sowan kiai

Di saat jalannya sebuah pengajaran ilmu tentu ada sikap profesional, baik sebagai santri maupun kiai. Sehingga bentuk komunikasi antar kedua belah pihak menjadi terbatas dan menjadi umum, paling-paling santri hanya bisa salim sehabis pengajian usai. Sebab hal tersebut telah masuk ke dalam ranah formal, dengan demikian perlu direncanakan silaturahim ke ndalem kiai di luar jam belajar yang biasa disebut sowan.

Esensi dari sowan pada kiai yang juga bikin saya menyesal adalah sowan dilabelkan oleh kebanyakan santri hanya untuk ketika hendak pamit keluar dari pesantren. Padahal sowan sebetulnya adalah momen yang digadang-gadang oleh semua santri. Sebab, di setiap sowan pasti ada cerita unik yang dituturkan oleh guru secara langsung. Buktinya rasa canggung kepada kyai saat di pengajian, berbanding terbalik dengan saat sowan. Sebab, saat sowan kita dianggap tamu yang sedang dihormati oleh beliau. Sehingga perbincangan menjadi lebih panjang kali lebar, sampai-sampai tak terasa berjam-jam.

Fungsi sowan selain sebagai sarana mengenal lebih dekat dengan guru kita, sowan juga berguna mentransfer kisah orang alim dulu atau segala ilmu yang belum terpublikasikan ke masyarakat. Oleh karenanya sebelum pengetahuan tersebut hilang ditelan zaman, alangkah baiknya diturunkan kepada yang lebih muda. Ah, rasanya pengen saya ulangi lagi minimal sebulan sekali. Untuk yang masih nyantri manfaatkan waktu sowan sebaik mungkin ya. Usahakan menggali sebanyak-banyaknya samudera pengetahuan yang dimiliki oleh guru kalian.

Sambangan

Hal yang kudu sering dijadwalkan oleh orang tua santri adalah menjenguk anaknya ke pesantren atau kalo sebutannya di Tebuireng, sambangan. Namun, kadang karena jarak yang ditempuh, padatnya kesibukan orang tua, dan faktor lain yang menjadikan sebagian santri jarang disambang bahkan tidak pernah merasakan apa itu sambangan. Namun, dengan adanya sambangan santri yang tak pernah merasakan sambangan, dapat lega karena sedikit banyak tetap dapat merasakan kebahagiaan temannya.

Layaknya simbiosis mutualisme, orang tua dan anaknya yang hendak melakukan ritual sambangan keduanya merasakan lega. Disusul teman-teman anaknya pun juga merasakan lega karena mereka juga menunggu kuliner khas yang dibawa, hahaha. Salah satu keuntungannya kita dapat merasakan jajanan khas masing-masing daerah di Indonesia, walaupun kita sama sekali belum pernah kesana.

Namun, keakraban antar santri itulah yang menciptakan perasaan bahwa santri satu dengan yang lain sudah seperti bagian dari keluarga kita sendiri. Seperti kata yang sering ditekankan oleh Ustaz habib selaku koordinator pembina smp waktu itu, “al muslimu akhul muslim” yang mempunyai makna “muslim satu dengan yang lainnya adalah saudara”.

Selain itu suasana sambangan ketika di pondok dan yang sekarang kita rasakan di rumah sungguh jauh berbeda secara emosional. Pasalnya ketika sambangan ada bermacam komponen yang membuat kita merasa haru ketika pertemuan dengan orang tua berlangsung. Komponen tersebut terdiri atas jarak, rindu, waktu tunggu, sabar dan sebentar. Oleh karenanya, mayoritas santri akan menangis saat setelah ditinggal orang tuanya pulang. Tak terkecuali saya, krenteg hati rasanya begitu kuat pengen ikut.

BACA JUGA Penjelasan Tatakan Mangkuk Dawet Jabung Ponorogo Tak Boleh Dipakai Pembeli dan tulisan Muhammad Mawin Asif Hakiki lainnya.

Baca Juga:  UIN Malang, Kampus Buat Santri dan yang Pengin Jadi Santri
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.