3 Kartun Tanpa Dialog yang Sukses Memecah Tawa di Balik Teknik Slapstick

Artikel

Seto Wicaksono

Kartun dengan genre komedi sebetulnya sangat banyak. Tinggal pilih, cari, dan tonton. Namun, di antara sekian banyak kartun yang pernah tayang dan mengisi masa kecil saya, ada yang sangat berkesan karena lucunya, yaitu kartun tanpa dialog yang walau tidak mengatakan sepatah kata pun tetap bikin kita terpingkal.

Saya pikir, awalnya aneh juga. Kok bisa tontonan tanpa dialog menjadi sangat lucu.

Sebelum saya mencari tahu kenapa kartun tanpa dialog bisa lucu, saya akan merekomendasikan terlebih dahulu beberapa kartun tanpa dialog yang ikonik. Yang jelas kartun ini sudah menemani saya sejak kecil hingga saat ini. Beberapa episodenya pun masih saya tonton sampai sekarang.

Kartun tanpa dialog #1 Tom & Jerry

Serial kartun ini sudah menjadi tontonan sejuta umat sejak lama, baik anak-anak, dewasa, maupun orang tua. Siapa yang berani mendebat bahwa kartun ini sangat lucu? Tom & Jerry, dengan segala kontroversinya, menjadi kenangan tersendiri bagi anak ’90-an. Dan kartun ini, sebagaimana diketahui bersama, tanpa dialog. Hampir semua adegan mengandalkan pergerakan fisik dan ekspresi. Kita semua tahu, Jerry si cerdik dan terkadang licik ini hampir selalu menang melawan Tom.

Kartun tanpa dialog #2 Pink Panther

Pada tiap satu musim, Pink Panther biasa menyajikan beberapa episode dengan banyak segmennya. Di antaranya ada “The Inspector”, “The Ant and The Aardvark”, dan “Pink Panther” itu sendiri. Plot di hampir semua episodenya sama, Inspector mengejar Pink Panther karena dianggap usil dan mengganggu. Dengan segala kepintarannya, Pink Panther selalu berhasil lolos dari jebakan yang sebelumnya sudah disiapkan Inspector.

Berbeda dengan Tom & Jerry, Pink Panther hanya sekadar usil. Dan Inspector biasanya kena sial karena jebakannya gagal atau malah ia sendiri yang kena jebakannya. Senjata makan tuan. Aksi mereka pun tanpa dialog sama sekali. Hanya suara tawa, gerutuan, dan memaksimalkan ekspresi.

Kartun tanpa dialog #3 Larva

Meski terbilang paling baru, Larva berhasil mencuri perhatian penonton dengan alur ceritanya yang sangat jenaka. Mengisahkan larva merah, larva kuning, dan teman-temannya yang selalu terlibat masalah akibat ulah sendiri. Saling memperebutkan sosis, misalnya. Tak jarang, mereka juga saling membantu dan kompak ketika ada masalah. Lagi-lagi, Larva adalah kartun tanpa dialog yang lucunya abadi dan cocok buat hampir semua kalangan usia.

Dari ketiga serial kartun yang saya sebutkan, semuanya memiliki genre yang sama, yaitu komedi. Tapi, apa yang membuatnya lucu? Saya pikir, ada pada teknik “slapstick”. Salah satu teknik dalam berkomedi, yang hampir selalu sukses mengundang tawa.

Dari beberapa artikel yang saya baca, slapstick biasanya memiliki tiga unsur utama sebagai faktor utama penghasil tawa, yakni derita, celaka, dan aniaya. Ketiga serial kartun yang sudah saya sebutkan, memiliki unsur tersebut. Sama-sama ada yang menderita, celaka, dan aniaya. Tentu saja hal ini sebagai kebutuhan untuk mengundang tawa. Perlu diingat bahwa, adegan berbahaya yang diciptakan hanya sebatas tontonan. Rekayasa dalam bentuk animasi.

Di Indonesia sendiri, komedi slapstick ini sudah digunakan selama bertahun-tahun oleh beberapa pelawak senior. Tayangan Srimulat dan OVJ, menjadi dua nama besar yang dapat dijadikan contoh, bagaimana teknik slapstick dapat memecah tawa para penontonnya. 

Kendati demikian, karena komedi slapstick biasanya mengandalkan beberapa benda atau adegan yang berpotensi menghasilkan output yang kurang baik, khususnya bagi penonton usia anak.

Itu kenapa, sangat disarankan bagi para orang tua untuk sebisa mungkin mendampingi anak ketika melihat beberapa acara yang dirasa memiliki unsur kekerasan. Meski untuk kebutuhan berkomedi dan memang lucu, tetap harus diingatkan mana yang boleh dan tidak boleh ditiru.

Sumber gambar: Amazon.com

BACA JUGA Enola Holmes dan Sensasi Ikut Larut dalam Petualangannya dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Selain Saya, Siapa Lagi yang Menyebut Film Warkop DKI dengan Sebutan "Film Dono"?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.