Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pembelaan Atas Stigma Orang Tua yang Menyekolahkan Anaknya di Pondok Pesantren

Hypatia Sabti Abdullah oleh Hypatia Sabti Abdullah
2 Oktober 2020
A A
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitu pun dengan pertimbangan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren atau tidak. Berbagai stigma yang dilekatkan kepada anak-anak yang disekolahkan di pondok pesantren mengakibatkan orang tua jadi berpikir-pikir lagi alias ragu.

Sebagai orang yang pernah mondok selama enam tahun, rentetan pertanyaan miring soal kredibilitas pondok pesantren sebagai penjamin mutu pendidikan sering saya terima dari lingkungan pertemanan bahkan lingkungan keluarga sekalipun. Saya dulu mondok memang atas dasar kemauan orang tua, tetapi saya juga bahagia menjalaninya dengan catatan: asal uang bulanannya banyak.

Pondok pesantren tentu bukan pilihan satu-satunya yang terbaik bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya, mengingat setiap orang tua dapat memaknai proses pendidikan sesuai nilai-nilai kehidupan yang mereka junjung selama ini. Faktor lingkungan dan background pendidikan orang tua juga sangat berpengaruh.

Orang tua yang menyekolahkan anaknya ke pesantren kadang dianggap malas mendidik dan merasa sudah tidak sanggup mendidik sendiri. Akhirnya diserahkan kepada pesantren begitu saja. Sebenarnya anggapan ini tidak dapat dibenarkan. 

Sebagian orang tua juga boleh tidak setuju. Anak yang masih berusia 12-17 tahun dan disekolahkan di pesantren masih perlu didampingi langsung oleh orang tua. Tujuannya untuk menumbuhkan karakter dan nilai-nilai dalam keluarga yang seharusnya asih jadi identitas sang anak.

Kita tidak bisa menghakimi apa yang menjadi keputusan orang lain hanya karena anggapan kebenaran versi kita sendiri. Saya curiga dengan mental orang Indonesia, jangan-jangan mentalnya rivalitas. Apa saja bisa dianggap kompetisi termasuk pilihan tempat untuk mendidik.

Berikut beberapa cecaran penghakiman yang biasanya dialamatkan kepada orang tua yang menyekolahkan anaknya di pesantren.

Pertama, ngapain anaknya disuruh mondok, mau jadi apa nanti? Kan kerjaannya cuma ngaji doang. Sebagai orang tua, justru kita tidak boleh menuntut anak untuk “jadi apa”. Seperti nasihat lama dari Ali Bin Abi Thalib, “Jangan paksa anakmu untuk menjadi seperti dirimu, karena mereka tidak terlahir di zamanmu.”

Baca Juga:

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Tenang, Bun, di pondok pesantren itu kegiatannya tidak hanya mengaji. Kalau hanya mengaji itu bukan mondok namanya, melainkan tahlilan sebagaimana yang biasa dilakukan warga Nahdliyin. Perlu diketahui bahwasannya pondok pesantren tak ubahnya sekolah seperti sekolah pada umumnya, hanya porsi pelajaran agama Islamnya memang lebih banyak daripada di sekolah umum.

Menyekolahkan anak baik di pesantren atau bukan tujuannya untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan atau menuntut anak untuk memiliki profesi tertentu.

Lha dipikir pondok pesantren iki “Job Fair” po piye to?

Urusan anak bekerja sebagai apa itu bonus dari disiplin ilmu yang mereka tekuni. Apabila tujuan orang tua menjadikan anaknya hafiz atau hafizah ya memang harus di pondok pesantren, bukan sekolah umum karena porsi belajar Al-Qur’annya berbeda.

Kedua, kok tega nggak kasian apa, masih kecil kok anaknya sudah disekolahin di pondok?

Anggapan ini sering ditemui di tengah masyarakat. Seolah-olah orang tua menjauhkan anak dari kasih sayang keluarga. Justru ketika seseorang sedang berjauhan dengan seseorang yang ia sayang, bukankah keberadaanya semakin bermakna? Harapan-harapan orang tua kepada anak juga semakin besar. Dari sini antara orang tua dan anak sebetulnya juga sedang belajar keikhlasan. Ikhlas berpisah dengan bagian dari hidup kita demi tujuan mulia.

Ketiga dan yang terakhir adalah, percuma kalau rajin ngaji dan salatnya cuma pas di pesantren aja. 

Tujuan pondok pesantren adalah mendidik dan mencetak. Dalam mendidik, sesuatu yang belum baik bisa menjadi baik, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu begitupun dalam mencetak, tidak menjamin semua hasilnya akan sama persis sesuai adonan atau komposisi yang sudah disediakan.

Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan ketika anak-anak sedang berada di rumah sebagai bentuk sinergitas dengan pihak pesantren. Ada tugas orang tua untuk mengajarkan istiqamah, yaitu tetap memantau kebiasaan-kebiasaan yang sudah anak dapatkan ketika di pesantren sehingga kesadaran anak bisa terbentuk melalui pembiasaan, bukan karena keterpaksaan. Bukankah nanti yang dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan anak tetaplah orang tua? Bukan pimpinan pondok pesantren apalagi pengurus.

Apa pun keputusan orang tua untuk menyekolahkan anak adalah baik, tidak perlu sebagai tetangga apalagi keluarga memberikan cercaan pertanyaan miring. Untuk bisa betah dan nyaman di pesantren, baik anak-anak dan orang tua akan melewati fase yang tidak gampang.

BACA JUGA Urban Farming itu Tidak Hanya Siram Lalu Nunggu Panen seperti di Shopee atau tulisan Hypatia Sabti Abdullah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2020 oleh

Tags: ParentingPondok Pesantren
Hypatia Sabti Abdullah

Hypatia Sabti Abdullah

Mahasiswa biasa saja. Instagram: @hypatiasabtiabdullah, Twitter: @hypatiasabtiabd.

ArtikelTerkait

Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN

Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN

26 September 2025
selebgram

Strategi Marketing Parenting ala Selebgram

20 Oktober 2019
podcast deddy corbuzier, Yang Keliru Deddy Corbuzier Soal Matematika dan Pengetahuan Dasar

Yang Keliru dari Deddy Corbuzier Soal Matematika dan Pengetahuan Dasar

22 November 2019
Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

21 Agustus 2025
Kuliah di UIN (Unsplash.com)

Kuliah di UIN? Ini 5 Culture Shock yang Dirasakan Lulusan SMA

20 Juni 2022
anak kecil berbohong parenting mojok

3 Faktor Penyebab Anak Suka Berbohong

21 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.