Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Memetakan Perjalanan Orang Tua Mencari Pendidikan Berkualitas untuk Anak

Pandu Wijaya Saputra oleh Pandu Wijaya Saputra
25 Februari 2021
A A
Memetakan Perjalanan Orang Tua Mencari Pendidikan Berkualitas untuk Anak terminal mojok.co

Memetakan Perjalanan Orang Tua Mencari Pendidikan Berkualitas untuk Anak terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari, saya mengawali pagi dengan sebuah percakapan dengan istri soal di mana anak pertama kami akan disekolahkan. Istri mengeluhkan tak adanya sekolah yang bagus, di daerah tempat kami tinggal. Saya tak lantas menanggapi, saya bertanya apa maksudnya sekolah yang bagus. Dia menegaskan bahwa yang dimaksud bagus adalah kualitas pendidikannya. Tapi, saya pun masih belum paham konsep “pendidikan berkualitas” masih abu-abu di pikiran saya.

Dulu, kelas dua SD saya pindah sekolah dari kampung ke kota. Saat itu, jarak rumah kami di kampung ke kota hampir sejauh 10 km. Untuk ukuran zaman dulu, jarak itu termasuk jauh bagi seorang anak SD. Apalagi, saya harus dua kali naik angkutan plus jalan kaki. Saat itu, sayalah murid dengan rumah terjauh. Mungkin itu sebabnya tak banyak teman SD yang pernah main ke rumah.

ADVERTISEMENT

Saya ingat seorang guru pernah memuji saya sebagai contoh anak yang rela bersusah payah untuk belajar di sekolah yang lebih berkualitas, yaitu di kota. Mungkin, dengan alasan yang sama inilah orang tua saya tak memilih sekolah di desa. Jadi, dulu kami mengukur seperti apa pendidikan berkualitas dari letak geografis, di kota atau di desa. Tentu dengan keyakinan bahwa sekolah di kota adalah jaminan kepintaran.

Dan dengan alasan yang sama, untuk mencari pendidikan berkualitas, selepas SD saya pun melanjutkan sekolah ke luar kota, kali ini 200 km dari kampung. Sekolah saya kali ini bahkan menyandang status modern dan internasional. Saya sampai sekarang tak tahu pasti apa yang menjadikan sebuah sekolah disebut modern. Mungkin karena fasilitas pendidikannya dan kurikulumnya yang tak pernah ketinggalan zaman. Sedangkan status internasional mungkin karena sekolah saya punya kerja sama dengan lembaga internasional serta banyak murid dan guru dari luar negeri.

Dari sini, ukuran pendidikan berkualitas tak lagi soal desa atau kota, tapi meluas yaitu sekolah dengan fasilitas dan sistem standar nasional bahkan internasional. Tapi, inti keduanya sama, keyakinan bahwa sekolah-sekolah tersebut bisa menjadikan murid pintar secara intelektual.

Cukup lama saya mengimani konsep pendidikan yang berkualitas seperti itu. Sampai suatu hari saya bercakap dengan tetangga soal seorang anak di lingkungan kami yang “nakal”. Ia hobi keluyuran malam, tak pernah mau sekolah, pacaran, bergaul dengan preman, hingga puncaknya ia membobol sebuah warung tetangga.

Mengambil kasus anak tersebut, dengan semangat 45, si tetangga pun menyajikan rumusan kesimpulan dan gagasannya soal pendidikan berkualitas. Ia menyimpulkan bahwa pendidikan harus bisa menjadikan anak berakhlak. Baginya, budi pekerti nomor satu, soal intelektual, pengetahuan atau skill adalah nomor sekian. Dan, anaknya pun ia masukan ke pesantren. Institusi pendidikan berbasis agama memang diyakini bisa menempa anak menjadi pribadi yang ideal seturut ajaran agama. Maka, kita pun sering mendengar anak nakal yang orang tuanya kewalahan akhirnya dimasukkan ke pesantren.

Dari sini, variabel kualitas menjadi berbeda, tak hanya soal intelektualitas, tapi persoalan akhlak menjadi isu yang tak kalah penting. Dan di kampung saya, mayoritas orang tua pun lebih suka menitipkan anaknya ke para kiai untuk dididik. Bagi mereka, bekal agama sudah cukup untuk hidup. Pemikiran yang logis juga, kita tahu banyak orang cerdas, tapi perilakunya tak berbudi.

Baca Juga:

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

***.

Sekitar akhir tahun 90-an,  kalau tak salah, gairah entrepreneurship merebak. Entah kata-kata motivasinya Andrie Wongso, seminarnya Tung Desem atau bukunya Robert Kiyosaki yang memeloporinya, saya pun terpengaruh. Sejak sekolah, berbagai usaha saya coba, tapi selalu kandas. Tampaknya, saya tak memiliki jiwa entrepreneur. Akhirnya, seperti kebanyakan orang, saya melamar pekerjaan, meramaikan job fair, dari interview ke interview, dan yang selalu menjadi primadona: mendaftar CPNS.

Saya membayangkan nasib seperti saya itu tak harus dialami anak cucu saya. Kebingungan mencari kerja setelah 16 tahun sekolah formal bukanlah kisah yang keren. Oleh karena itu, kewirausahaan menjadi keahlian yang menurut saya wajib. Kemandirian, kreativitas, dan potensi finansial mewujud dalam kewirausahaan. Dan menurut para ahli, itu juga yang menjadi kunci era 4.0 dan bonus demografi kelak.

Maka, kewirausahaan pun harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan. Pendidikan yang berkualitas harus menyertakan keahlian itu sebagai prioritas pembelajaran. Anak tak hanya memimpikan menjadi dokter, pilot, astronot, atau YouTuber ketika ditanya, tapi juga pengusaha. Dan, setelah sekolah atau kuliah mereka tak harus pusing menjadi pelamar kerja. Ini juga lah yang mungkin mendasari munculnya banyak sekolah yang memberikan pendidikan kewirausahaan pada murid-muridnya, mulai tingkat SD sampai SMA. Tapi, kebanyakan bukan sekolah negeri.

***

Sungguh benar, zaman dan tantangannya terus berubah. Dan, perubahaan itu bisa sangat cepat. Salah satu tugas sekolah adalah menyiapkan generasi selanjutnya agar responsif terhadap segala perubahan itu.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pernah menyampaikan prediksi 7 pekerjaan di masa depan. Semuanya adalah profesi berbasis teknologi yang bisa dikerjakan dari mana saja. Sementara Word Economic Forum (WEF) pun memprediksi ada 97 juta jenis pekerjaan baru berbasis manusia-teknologi-algoritma yang sampai saat ini saya tak terbayang pekerjaan apa saja itu.

Maka, kriteria pendidikan berkualitas pun mungkin meluas, yaitu sekolah yang mampu memprediksi, mengidentifikasi, serta menyiapkan murid-muridnya untuk menghadapi tantangan pekerjaan masa depan. Dalam bayangan saya, sekolah harus lebih membekali murid dengan kemampuan programming, matematika, dan logika. Tapi, setahu saya, selain sekolah kejuruan belum ada yang seperti itu. Kurikulum SD, SMP, dan SMA kita masih mewajibkan siswa menguasai semua bidang ilmu.

Tapi, pendapat itu pun bisa dibantah ketika berbicara dengan seniman. Konsep pendidikan berkualitas menurut mereka bisa jadi berbeda, sejak dini anak harus dikenalkan pada keindahan dan kepekaan melalui seni. Sebab, estetika akan melatih rasa dan menghaluskan budi sehingga tak menjadi orang yang keras, bebal, dan banal. Nah, bisa berbeda lagi jika Anda bertanya pada seorang veteran, mereka mungkin akan menjawab bahwa yang penting adalah pendidikan kebangsaan dan nasionalisme.

Akhirnya, kita hanya bisa meraba-raba. Pendidikan berkualitas pun relatif, tergantung menurut siapa dan apa yang menjadi prioritas. Bisa intelektual, akhlak, kemampuan wirausaha, bekal keahlian teknis untuk mengisi tantangan profesi masa depan, seni, nasionalisme atau yang lainnya. Tapi, sebagai orang tua kita tentu berharap anak kita mendapat semua itu bukan? Sebuah keinginan yang ambisius. Dan jika saya saat ini menjadi anak tentu akan pusing sekali. Lagi pula, saya yakin tak mungkin ada sekolah yang mampu memberikan itu semua. Kalau ada ya paling hanya mengaku-ngaku.

Ah, saya jadi teringat masa-masa sekolah di kampung. Apa yang saya ingat? Tak banyak, hanya selepas sekolah kami menjaring ikan sepat di sungai atau mencari kadal dan belalang di semak belukar.

BACA JUGA Sebenarnya, Seberapa Penting Rewarding dalam Parenting Itu? dan tulisan Pandu Wijaya Saputra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: ParentingPendidikan
Pandu Wijaya Saputra

Pandu Wijaya Saputra

Menjadi manusia berkarakter Mojok

ArtikelTerkait

pajak pendidikan SPT Tahunan PPH orang Pribadi perpajakan Orang Pribadi influencer pajak npwp mojok.co

Sebaiknya Penetapan Pajak pada Jasa Pendidikan dan Sembako Dibatalkan Saja

11 Juni 2021
Dear para Suami, Inilah Alasan Istrimu Sering Men-Tag Akunmu di Kolom Komentar Unggahan Parenting  

Dear para Suami, Inilah Alasan Istrimu Sering Menandai Akunmu di Kolom Komentar Unggahan Parenting  

17 September 2023
Risiko Jadi Orang Tua yang Melek Kesehatan Anak

Risiko Jadi Orang Tua yang Melek Kesehatan Anak

12 Desember 2022
Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Tahu Diri!

Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Masuk Akal!

5 November 2019
sunat zaman belanda MOJOK.CO

Sunat dan Kebohongan Orang Tua yang Sebaiknya Diakhiri

9 Agustus 2021
Ilmu Parenting Hanya untuk Orang Kaya? Ngawur! anwar zahid

Parenting menurut K.H. Anwar Zahid: Menuntun, Bukan Menuntut

15 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.