‘Before The Flood’, Film Perubahan Iklim yang Wajib Ditonton Politisi Indonesia – Terminal Mojok

‘Before The Flood’, Film Perubahan Iklim yang Wajib Ditonton Politisi Indonesia

ArtikelFeatured

Avatar

Saya adalah salah satu orang yang menganggap remeh perubahan iklim yang terjadi di sekitar. Dalam hati saya mengatakan, perubahan iklim sudah diatur oleh yang maha kuasa. Sebagai manusia saya hanya bisa pasrah dengan keadaan. Misalnya, prediksi oleh BMKG bahwa cuaca akan cerah pada hari ini, tapi pada kenyataannya di siang hari turun hujan. Atau saat cuaca sedang panas, di daerah lain terkena banjir. Dalam hati berkata, saya bisa apa dengan hal itu? Itu sudah jadi kehendak Tuhan.

Tak lama dari hari saya menulis ini, sebelumnya, banjir menerjang daerah Kabupaten Gorontalo Utara dan saya jadi gelisah akan hal itu. Kegelisahan saya disebabkan karena sebelumnya, di Kalimantan telah terjadi banjir yang menenggelamkan puluhan bahkan ratusan rumah. Tidak sampai di situ, bulu kuduk saya merinding ketika mengingat bahwa gempa yang sangat kuat yang telah mengguncang daerah Sulawesi Barat dan menelan banyak korban jiwa maupun materi.

Sikap apatis saya terhadap perubahan iklim tiba-tiba menghilang. Kemudian saya teringat pada sebuah film yang menayangkan kondisi bumi kita yang sampai dengan saat ini terus mengalami perubahan iklim. Judul film itu adalah Before The Flood.

Sebenarnya, saya telah menonton film Before The Flood ini pada 2016, saat awal saya kuliah. Seperti orang awam, setelah menonton film itu saya tidak merasakan apa pun, kecuali tertegun dengan Leonardo DiCaprio yang ternyata pernah ditunjuk sebagai wakil PBB dalam hal lingkungan.

Setelah melewati empat tahun sejak film itu saya tonton, saya belum peka terhadap perubahan iklim. Namun, pada 2021 ini, terjadi berbagai bencana di belahan bumi yang saya pikir akibat perubahan iklim. Seperti yang diberitakan oleh Voice of Asia (VOA) Indonesia, adanya cuaca dingin ekstrem di Texas yang menyebabkan listrik mati dan air langka. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, di Indonesia juga terjadi bencana.

Setelah menonton film itu yang kedua kali, hasilnya saya merinding ketakutan tentang apa yang akan terjadi dengan bumi pada 2021 ini. Belum lagi, film itu dirilis pada 2016, hitung-hitungannya, film itu telah melewati empat tahun lamanya dan perubahan iklim masih terus berlangsung.

Baiklah, saya akan menceritakan tentang film yang membuat sikap apatis terhadap perubahan iklim saya menghilang. Namun sebelum itu, saya ingin menyarankan bahwa film ini harus jadi tontonan wajib bagi pelaku politik atau politisi. Kenapa demikian? Mari, saya hantarkan Anda pada film Before The Flood.

Before The Flood adalah sebuah film dokumenter oleh National Geografic. Setelah saya cari di Google, film ini disutradarai oleh Fisher Stevens dan berkolaborasi dengan Leonardo DiCaprio. Film ini dirilis pada 21 Oktober 2016 dan durasinya 96 menit.

Dalam pencarian saya di Google, saya menemukan bahwa Before The Flood diproduksi selama tiga tahun perjalanan Leonardo DiCaprio ke setiap sudut bumi untuk mendokumentasikan dampak dari perubahan musim. Dalam tulisan ini, terpaksa saya harus spoiler dengan menceritakan sebagian isi filmnya.

Di awal film ini, kita akan disuguhkan dengan sebuah gambar oleh Bosch, yang dilukis pada 1500-an. Di mana, pengakuan Leonardo DiCaprio, lukisan itu sering digantung ayahnya di dinding kamarnya saat dia masih kecil. Loh, kan kita membahas tentang perubahan iklim, kenapa film ini menayangkan lukisan? Sabar ya, karena lukisan ini ada hubungannya dengan perubahan iklim pada film Before The Flood.

Pada lukisan itu, ada tiga panel yang disediakan. Pada panel pertama, sebuah gambar tentang awal mula manusia tinggal di bumi ini, yakni Adam dan Hawa beserta hewan-hewan lainnya seperti, jerapah, gajah, kelinci, monyet, dan lainnya. Pada panel kedua, ada gambar yang menunjukkan pertumbuhan yang masif umat manusia di bumi dan hewan-hewan semakin sedikit jumlahnya. Pada panel ketiga, manusia mulai membuat alat-alat destruktif terhadap bumi. Di akhir lukisan itu, bumi sudah berwarna merah kegelap-gelapan, berubah 360 derajat dari yang sebelumnya cerah, biru, dan berawan.

Perjalanan Leonardo DiCaprio dalam film itu dimulai dari belahan bumi terdingin, Kutub Utara. Pemandangan yang dilihat olehnya, tentu saja bongkahan es atau gletser yang ada sudah sangat sedikit. Antara gletser satu dengan yang lainnya sudah sangat berjarak, terpisah oleh air. Gletser yang tipis itu diakui oleh suku asli, sudah seperti es krim, sekali terkena panas matahari langsung meleleh.

Kasus yang sama juga terjadi di Indonesia yakni di gunung tertinggi, Puncak Jaya, Papua. Di mana saat ini, salju (yang katanya abadi) kian hari kian menipis bahkan hampir habis. Dilansir dari Liputan6, hasil studi oleh National Academy of Science mencatat, luas gletser yang dulunya terhampar seluas dua ribu hektar menyusut menjadi seratus hektar. Apakah itu jadi hal yang wajar? Tentu saja tidak.

Gletser-gletser yang mencair itu menjadi hal yang menakutkan. Bumi kita seakan meleleh sedikit demi sedikit. Dan masih ada juga orang yang tidak percaya akan perubahan iklim ini. Seperti yang dikatakan Leonardo DiCaprio, kalau kita mencoba melakukan percakapan dengan siapa pun tentang perubahan iklim, orang-orang tidak mau mendengarkannya.

Setelah perjalanan dari Kutub Utara, Leonardo DiCaprio mengunjungi Miami, Florida. Sebuah pulau yang sering terendam banjir. Bayangkan, ketika Anda berjalan-jalan atau jogging di pagi hari, tiba-tiba saja kaki Anda sudah terendam air. Lantas jelang 15 menit, Anda sudah terjebak dengan banjir.

Begitulah kondisi di Miami yang ditunjukkan oleh Leonardo DiCaprio pada film itu. Banjir yang terjadi ini akibat meningginya gelombang laut. Hasil dari mencairnya gletser di Kutub Utara. Banjir yang terjadi di Miami juga terjadi di Jakarta dan di daerah lainnya di Indonesia.

Terjadinya banjir ini menjadi tugas dari para politisi untuk memberikan solusi. Akan tetapi, jika solusinya adalah solusi yang sama, tidak akan bertahan lama. Akar dari permasalahannya adalah perubahan iklim, para pemangku jabatan harus sadar akan hal ini.

Setelah itu, Leonardo DiCaprio mengunjungi negeri tirai bambu, China. Di China, ia menemukan cuaca yang berkabut. Asap tebal hasil pabrik, hampir tiap hari menyelimuti langit China. Di China, dari asap yang tebal itu, warga negaranya harus terus menggunakan masker karena takut terkena kanker. Hal itu terjadi disebabkan oleh jumlah pabrik yang sangat banyak, sehingga pencemaran udara tidak bisa dihindari.

Di negara kita sendiri belum banyak pabrik, tapi sudah ada beberapa kasus pencemaran udara oleh pabrik. Seperti keluhan dari warga Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dilansir Okezone, Warga Langkat merasa terganggu dengan asap pabrik yang mengganggu kesehatan anak-anak mereka.

Tidak hanya itu, rumah mereka juga ditutupi debu hasil pabrik yang membuat mereka harus menyapu setiap hari. Terhadap hal ini, langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah mencegah agar pabrik-pabrik ini tidak menjamur di negara kita, yang nantinya akan berdampak pada pencemaran udara, seperti di China.

Setelah mengunjungi China, Leonardo DiCaprio mengunjungi India yang juga memiliki masalah perubahan iklim. Ia menemukan lahan petani bawang yang terendam akibat hujan. Pengakuan dari warga sekitar, curah hujan tersebut masih sangat rendah, tapi membawa dampak besar.

Permasalahan perubahan iklim tentunya dikhawatirkan oleh orang-orang India. Namun, pengakuan mereka, ada hal yang sama mendesaknya dengan perubahan iklim yang harus diselesaikan, yakni masalah kemiskinan.

Di film itu, tampak orang India harus mengumpulkan kotoran sapi, kemudian dikeringkan, dan mereka gunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Ya, terdengar sangat jorok, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Pasalnya, mereka kekurangan bahan bakar untuk memasak dan terlebih listrik untuk mereka nikmati. Namun, masalah kemiskinan tidak akan terselesaikan jika masalah perubahan iklim ini diabaikan.

Setelah dari India, Leonardo DiCaprio juga mengunjungi Indonesia. Kunjungannya melihat Pulau Sumatera. Di Sumatera, ia menyaksikan kepulan asap di atas hutan yang sedang terbakar. Ternyata, orang-orang dengan sengaja membakar hutan demi kepentingan lahan kelapa sawit. Kepentingan ini tentunya melibatkan para politisi kita sebagai pemutus kebijakan. Tentu saja, hutan yang dibakar dengan sengaja itu bisa dihentikan atau setidaknya dibatasi melalui suara para wakil rakyat.

Saya harus menutup spoiler saya. Saya harus kembali pada titik awal, di mana saya mengatakan bahwa film ini wajib ditonton oleh politisi karena merekalah para pengambil kebijakan. Jika mereka mengambil kebijakan, seharusnya kebijakan itu didasari dengan telaah-telaah dampak setelah diimplementasikan.

Oh, iya, soal gambar Bosch tentang kondisi bumi ini dalam tiga panel. Leonardo DiCaprio mengatakan bahwa bumi belum berada di panel ketiga. Kita berada di panel kedua. Panel kedua itu disebut pelukisnya sendiri sebagai kondisi bumi sebelum banjir (before the flood). Kita masih punya sedikit waktu untuk mengantisipasi kerusakan ini tidak terjadi.

Sumber Gambar: YouTube National Geographic

BACA JUGA 6 Cara untuk Menghilangkan Hawa Dingin ala Orang Zaman Dulu dan tulisan Muh. Fadhil A.If. Hadju lainnya.

Baca Juga:  Celotehan Pengguna Setia Kereta Rel Listrik (KRL)
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
17


Komentar

Comments are closed.