Mengapa Masih Saja Ada Politisi yang Numpang Memasarkan Dirinya Lewat Ucapan Belasungkawa?

Mengapa seorang politisi memilih melakukan cara receh dalam memasarkan dirinya? Padahal dengan duit yang dimiliki jelas ia bisa memilih melakukan cara pemasaran yang lebih baik.

Featured

Avatar

Tulisan Ajeng Rizka yang mengkritik ucapan belasungkawa politisi yang juga Sekjen PDI-P terhadap alamrhum Ashraf Sinclair sangat menarik dan menggelitik. Ia secara umum mengkritik cara pemasaran receh para politisi wabilkhusus Hasto Kristiyanto yang memamerkan foto diri, nama, jabatan, dan partainya dalam ucapan belasungkuwa. Bahkan dengan tegas ia menambahkan cara pemasaran itu tidak lebih praktik politik onani dan menganggapnya tidak efektif. Kalau tidak efektif kenapa masih banyak politisi yang memasarkan diri dengan cara ini?

Saya sependapat bahwa cara pemasaran seperti ini norak dan sering kali tidak pada tempatnya. Saya jadi teringat salah satu teman satu grup WhatsApp LPDP Yogyakarta yang kini menjadi politisi salah satu partai politik tertentu. Ia kerap membuat ribut grup WhatsApp dengan praktik politik onani. Hampir setiap ada hari besar ia memberi ucapan selamat hari A, B, C, dan D serta kalimat-kalimat motivasi sekelas Mario Teguh yang ia kutip entah dari mana dengan tidak lupa menambahkan foto diri, nama, jabatan dan partainya.

Awalnya teman-teman grup biasa saja. Namun ketika semakin sering ia melakukan itu, akhirnya ada satu orang yang protes. Rupanya banyak yang kesal tapi mungkin karena sibuk dan tidak sempat membuka grup akhirnya ketika ada satu orang mengutarakan kekesalannya yang lain pun ikut meramaikan.

Perdebatan itu pecah menjadi perkelahian pasar ketika suara berlapis dari teman-teman yang kontra bisa ia bungkam seorang diri dengan pernyataan ngawur, keras, ngotot, dan tanpa henti. Sikapnya sudah menggambarkan bahwa ia adalah calon politisi besar. Pasalnya, sering kali bukan yang paling benar yang didengar, tapi yang paling ribut dan tidak mau kalah. Rasanya ingin berkomentar tapi karena saya tidak suka dengan debat kusir ala pasar lebih baik saya memilih jadi silent reader dan menganggapnya sebagai liburan.

Baca Juga:  Perlu Ada Balance of Power di Laut Cina Selatan

Balik ke pertanyaan mengapa seorang politisi memilih melakukan cara receh dalam memasarkan dirinya padahal dengan duit yang dimiliki jelas ia bisa memilih melakukan cara pemasaran yang lebih baik, seperti yang dikatakan Ajeng Rizka, dengan menggunakan personal branding ataupun guirella marketing. Jawabannya sederhana cara ini lebih efektif, efisien, dan low budget.

Saya berani mengatakan cara ini efektik karena fakta lapangannya berkata demikian. Buktinya dengan cara seperti ini para politisi masih bisa terpilih. Dalam sistem demokrasi setiap orang sama haknya dalam memilih. Setiap dari mereka dihitung satu suara, tidak peduli apa pun profesinya. Baik yang mengerti permasalahan atau tidak, mereka sama-sama dihitung satu suara.

Mayoritas masyarakat kita masih memiliki pemahaman politik yang rendah bahkan tidak mengerti pilihannya menentukan nasib bangsanya lima tahun ke depan. Bagi mereka yang tidak punya pengetahuan politik bahkan maaf kurang berpendidikan wajah yang dikenal adalah apa yang mereka pilih. Makanya banyak partai politik yang berebut merekrut artis bahkan ada istilah baru berebut artis yang melibatkan transfer artis antar partai politik.

Cara pemasaran receh menggunakan poster ini tidak hanya efektif, ia juga efisien. Cara ini tidak ribet untuk dipelajari, tidak susah untuk dilakukan, dan tidak perlu ribet-ribet menyewa staf khusus untuk merumuskan langkah-langkah mempromosikan diri pada masyarakat seperti personal branding dan guirella marketing.

Cara pemasaran receh menggunakan poster ini selain efektif dan efisien ia tentu saja low budget. Politisi Indonesia banyak terdiri dari kalangan pengusaha atau bisnisman. Seorang pengusaha selalu memiliki hitung-hitungan dalam melakukan sesuatu. Ia selalu mempertimbangkan dalam konsep untung rugi. Setiap apa yang ia lakukan adalah soal mencari keuntungan dengan modal sekecil-kecilnya.

Baca Juga:  Bolehkah Daeng Bermimpi Menjadi Presiden?

Dengan ketiga alasan ini wajar saja kalau masih banyak politisi yang cukup dengan pasang poster receh, unggah di sosial media, dan kalau punya modal dikit menjelang pemilu dibuatkan banner dan dipasang di jalanan-jalanan yang dianggap ramai. Tapi tentu saja ada juga politisi yang sedikit lebih elite sampai melakukan personal branding ataupun guirella marketing. Namun tentu saja jumlanya tidak banyak. Hanya ketika yang dipertaruhkan lebih besar maka modal yang dikeluarkan akan lebih besar.

Jadi kesimpulan yang bisa diambil dari kasus Ir. Hasto Kristiyanto MM, yang mengucapkan belasungkawa sembari mengunggah foto bersama almarhum hingga bikin kita keliru siapa sebenarnya yang meninggal itu adalah karena dia hanya politisi….. ah kalian lengkapi sendirilah. Maka wajar saja kalau saya sampai tidak tahu dia wasekjen bahwa dia adalah politisi PDI-P, soalnya selama ini yang terkenal cuma Bunda Mega, Geng mantan aktivis Budiman, Masinton, Adian, dan lainnya, serta sang putri mahkota Puan.

Ngomong-ngomong, Pak Hasto serius sekali main Twitter-nya sampai gelarnya ditulis segala. Mungkin dia orang yang menganut prinsip ekonomi sudah capek-capek kuliah, biayanya mahal, rugi kan kalau gelar nggak kepakai. Soal ilmu kan belum tentu dapat, ups.

BACA JUGA Perjumpaan Terakhir: Pada Akhirnya Kita akan Menyusul Mereka atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
3

Komentar

Comments are closed.